Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Menristek: Kita Harus Bangun PLTN

Jumat 08 Nov 2019 14:45 WIB

Red: Budi Raharjo

Ilustrasi - Reaktor nuklir untuk riset di Anjungan Reaktor Nuklir di Puspiptek Serpong.

Ilustrasi - Reaktor nuklir untuk riset di Anjungan Reaktor Nuklir di Puspiptek Serpong.

Foto: Antara/Muhammad Deffa
Batan diminta terus menyiapkan teknologinya sekaligus memastikan keamanannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, opsi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) harus tetap disiapkan untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan listrik masa depan. Namun, PLTN masih menjadi opsi terakhir menghasilkan energi listrik.

"Kita harus mengeksplor semua yang bisa dikembangkan di Indonesia. Itu poin kenapa PLTN itu, paling tidak, tidak hilang dari opsi," kata Bambang di Jakarta, Rabu (7/11) malam.

Apalagi, lanjut Bambang, Indonesia sedang berupaya mengomersialisasikan motor listrik dan mengembangkan mobil listrik. Karena itu, menurut Bambang, harus dipikirkan juga kebutuhan listrik mendatang untuk kendaraan dan keperluan kehidupan sehari-hari, seperti listrik untuk pencahayaan dan peralatan dapur bertenaga listrik.

"Kita harus bangun pembangkit listrik tenaga nuklir dan kita bangun jauh di lokasi dari gempa, yaitu di Kalimantan karena risiko gempanya kecil sekali," ujar Bambang.

Menurut Menristek, Indonesia punya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk pembangunan PLTN. Meskipun kini belum mengembangkan PLTN, kata Bambang, opsi PLTN untuk sumber energi listrik harus direspons dengan penyiapan skema pembangunan yang aman karena kekhawatiran akan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang pastinya makin besar di masa depan.

"Kita harus mengantisipasi ketika permintaan listrik naik dan konsumsi listrik per kapita di Indonesia juga naik seiring dengan kemajuan ekonomi Indonesia, maka kita harus mengantisipasi apabila fossil fuel (bahan bakar fosil) itu ti dak lagi menjadi bagian dari energi ini, jadi harus ada pengganti yang reliable dari batu bara," kata dia.

Untuk mengantisipasi kebutuhan listrik ke depan, Indonesia harus siap dengan substitusi energi, seperti surya, air, dan angin serta mengeksplor energi baru, seperti nuklir. Menristek men dorong Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk terus menyiapkan teknologinya sekaligus memastikan operasi PLTN nantinya bisa berlangsung dengan aman, baik untuk konsumsi maupun operasi.

"Kalaupun kita belum mau mengembangkan (PLTN) sekarang, jangan tinggalkan sama sekali, jangan role out dari possibility," ujar dia.

Bambang mengatakan, reaktor nuklir di Bandung merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan reaktor nuklir paling baru ada di Serpong yang memiliki kapasitas lebih besar dari reaktor nuklir di Australia. Awalnya, kata dia, Korea belajar nuklir di reaktor nuklir Indonesia di Bandung dan sekarang sebagian besar listrik di Korea dipasok dari PLTN.

Dia menambahkan, Kalimantan Barat saat ini masih mengimpor listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bakun di Serawak, Malaysia. Potensi air di Kalimantan Barat memang kurang, tapi Kalimantan Barat kaya akan uranium yang menjadi bahan bakar reaktor nuklir.

Baca Juga

photo
Peninjau melihat kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna GA Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten.


Indonesia, kata dia, juga punya torium di Bangka Belitung yang bisa digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor nuklir. "Kita punya sumber, tinggal bagaimana kita memanfaat kannya," ujar Bambang.

Di sisi lain, Bambang mengaku, terus mencari terobosan alternatif energi yang terbarukan. Saat ini, dia melanjutkan, yang sedang dikaji Kemenristek adalah biomassa dan substitusi diesel atau bensin. Kemenristek fokus di dua hal itu karena dua hal itu dinilai sangat visibleuntuk bisa menjadi alternatif bagi masa depan.

Terpisah, anggota Komisi VII DPR RI Rofik Hananto menilai, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) perlu diperbanyak pembangunannya di berbagai daerah. PLTSa dinilai sebagai solusi terhadap krisis energi dengan mengembangkan energi baru dan terbarukan.

Rofik mengatakan, langkah pemerintah yang menargetkan pembangunan 12 PLTSa pada 2022 mendatang layak untuk diapresiasi. Upaya ini adalah langkah konkret pemerintah dalam mengejar target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi nasional Indonesia pada 2025,kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Apalagi, lanjutnya, pemerintah juga telah mengatur dalam Peraturan Pemerintah (PP)Nomor 79 Tahun 2014 untuk memprioritaskan pengembangan energi nasional didasarkan prinsip memaksimalkan penggunaan energi terbarukan. Pembangunan PLTSa tersebut merupakan salah satu langkah tepat dalam mengelola permasalahan sampah perkotaan di Indonesia.

Bandar antariksa
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memilih Biak, Papua, sebagai lokasi rencana pembangunan Bandar Antariksa pertama di Indonesia. Daerah tersebut terpilih karena memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan. Alasan utamanya pertama karena Biak itu paling dekat dengan ekuator, kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin.

Selain dekat dengan ekuator, lanjut Thomas, pemilihan Desa Soukobye di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, sebagai lokasi rencana pembangunan Bandar Antariksa karena posisinya 1 derajat Lintang Selatan dan berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik. "Koordinat ini dinilai memenuhi persyaratan. Untuk peluncuran, itu aman bagi titik jatuhnya," kata dia.

Saat ini, Lapan tengah menggelar rapat koordinasi nasional (rakornas) untuk menyatukan pandangan dari berbagai pemangku kepentingan terkait perencanaan pembangunan dua Bandar Antariksa. Pertama, yakni Bandar Antariksa skala kecil untuk uji terbang dan peluncuran roket-roket kecil serta Bandar Antariksa besar.

Karena keterbatasan anggaran, Lapan akan membangun Bandar Antariksa atau space port skala kecil untuk uji terbang dan peluncuran roket-roket kecil. Bandar Antariksa yang besar akan dibangun dengan kemitraan internasional,ujar dia. (antara/rr laeny sulistyawati ed:mas alamil huda)


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA