Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Nelayan Pemburu itu Kini Jadi Relawan Penyelamat Tuntong

Sabtu 09 Nov 2019 15:20 WIB

Rep: Rusdy Nurdiansyah/ Red: Andi Nur Aminah

Abubakar Abdul Latif, relawan penyelamat tuntong laut.

Abubakar Abdul Latif, relawan penyelamat tuntong laut.

Foto: Rusdy Nurdiansyah/Republika
Tuntong merupakan satu dari 32 spesies kura-kura air tawar.

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH TAMIANG -- Namanya, Abubakar Abdul Latif (67 tahun). Wajahnya terlihat keras dengan tubuh yang ceking. Siapa sangka, ternyata dulunya ia berprofesi sebagai nelayan pemburu utama tuntong laut (Batagur borneoensis).

Baca Juga

Meski bernama tuntong laut, satwa ini hidup di air tawar. Tuntong merupakan satu dari 32 spesies kura-kura air tawar. Konon, kura-kura jenis ini hanya terdapat di Muara Sungai Tamiang, Kampung Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Pak Latif, begitu ia disapa sudah sejak 1995 berburu tuntong dan telur tuntong. Perburuan dilakukannya terutama saat musim bertelur pada Oktober hingga Februari. Hasil buruannya, selain dijual juga dikonsumsi sendiri. Sajian telur tuntong yang dinamakan tengulik, adalah makanan khas tradisional masyarakat Aceh Tamiang.

"Selain mencari ikan, dulunya hampir semua nelayan di Kampung Pusong Kapal berburu tuntong dan telurnya," ungkap Latif saat ditemui di Rumah Informasi dan Pelestarian tuntong laut di Kampung Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (7/11).

Menurut Latif, saat musim bertelur, banyak orang dari luar kampung datang untuk membeli indukan tuntong dan telur tuntong. "Dalam sehari, para nelayan mendapatkan kurang lebib 500 telur tuntong dan lima hingga 10 indukan tuntong. Sepanjang musim bertelur, kami memperoleh penghasilan hingga Rp 10 juta yang kami bagi bersama," terangnya.

photo
Pelepasan tukik tuntong laut

Pemburuan tuntong besar-besaran terus berlangsung hingga 2011. Akibatnya, populasinya terus menurun dan kini terancam punah. "Setelah sering diburu oleh para nelayan, tuntong susah didapat lagi, seperti menghilang tanpa jejak. Tak ada lagi tuntong yang bertelur saat musim bertelur. Saya dan para nelayan lainnya sadar kalau tuntong sudah mulai punah," ujar Latif dengan mata menerawang. Ia menyesali perbuatannya selama ini.

Pada 2011, berdirilah Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia (YSCLI). Berkerjasama dengan PT Pertamina EP Field Rantau Aceh, yayasan ini melakukan pelestarian tuntong di pesisir pantai Kabupaten Aceh Tamiang, yakni Pantai Pusung Putus, Pantai Pusung Cium dan Pantai Pusung Ujung Tamiang. Yayasan ini juga didirikan Rumah Informasi dan Pelestarian Tuntong Laut di Kampung Pusung Kapal.

Beberapa langkah pelestarian yang dilakukan meliputi pengamatan, penyelamatan serta penangkaran. Seolah ingin menebus dosa, Latif kemudian memilih bergabung sebagai relawan penyelamatan tuntong laut. Jadilah, dia orang terdepan yang melarang pemburuan tuntong dan telurnya dengan melakukan patroli setiap hari. Latif ikut mengedukasi anak-anak sekolah, warga dan nelayan untuk tidak lagi berburu tuntong dan mengajak untuk melestarikannya.

"Jangan sampai anak-anak kita nanti tidak mengenal ada satwa khas Aceh Tamiang yang bernama tuntong. Kalau masih ada nelayan dan warga yang ketahuan mengambil telur, akan saya panggil dan beri pemahaman kepada mereka, bahwa tuntong itu sahabat nelayan yang harus dilindungi," terangnya.

Tak cukup sampai di situ, Latif juga mengajak warga melakukan penangkaran dan melepas tuntong-tuntong kecil atau tukik ke muara Sungai Tamiang. "Alhamdulillah sekarang para nelayan dan warga Kampung Pusung Kapal sudah tidak lagi berburu tuntong dan ikut melakukan penangkaran. Sebagian besar nelayan juga sudah ikut jadi relawan penyelamat tuntong," ujarnya.

PT Pertamina EP Field Rantau Aceh merasa terpanggil untuk ikut mencegah tuntong dari kepunahan. Bekerjasama dengan YSCLI, Pertamina melakukan pelestarian tuntong dengan membuat fasilitas penangkaran dan pengembangbiakan tuntong, sosialisasi konservasi spesies kepada masyarakat dan juga siswa sekolah, melakukan patroli penyelamatan tuntong beserta telurnya pada musim bertelur, melakukan survey habitat, pengayaan habitat, pemeliharaan telur tuntong, hingga pelepasan tukik ke habitat aslinya.

photo
Tukik atau anak kura-kura jenis tuntong laut

Saat ini, tuntong laut masuk dalam daftar status critically endangered menurut IUCN serta terdaftar di Appendiks II plus zero quota for wild specimen to trade dalam konvensi CITES. Upaya pelestarian spesies ini penting dilakukan agar keseimbangan ekosistem perairan hutan bakau di kawasan Aceh Tamiang tetap terjaga.

"Kegiatan konservasi alam di Aceh Tamiang dan pelestarian tuntong merupakan salah satu tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina EP Asset 1 Rantau Field," tegas Rantau Field Manager Pertamina EP, Totok Parafianto. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA