Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Tuesday, 9 Rabiul Akhir 1442 / 24 November 2020

Pencurian Kerang Hijau Marak di Pantai Ancol

Senin 07 Oct 2019 06:35 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Kerang hijau.

Kerang hijau.

Foto: Republika/Prayogi
Upaya restorasi kerang hijau di Pantai Ancol terkendala maraknya pencurian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pencurian menjadi tantangan dalam upaya restorasi kerang hijau di perairan Teluk Jakarta, terutama di Pantai Ancol. Biota laut bernama latin Perna viridis itu diambil oleh pengunjung.

"Mereka masuk dengan cara membayar, pulang-pulang sudah bawa kerang empat sampai lima kilo," kata Kepala Regu Nelayan Wisata Pantai Ancol Warsono (55) di Jakarta Utara, Ahad.

Warsono menyebutkan, mereka yang ketahuan mengambil kerang hijau dari Pantai Ancol kebanyakan warga luar Ancol. Mereka memanfaatkan tiket murah bagi pengunjung pagi pukul 05.00 sampai dengan 06.00 WIB sebesar Rp 5.000 per orang.

Selain itu, pencurian juga marak terjadi pada tengah malam hingga pagi. Pengunjung beraksi mengambil kerang sekitar pukul 00.00 sampai jam 05.00 WIB.

"Pernah ada yang bawa dua sampai tiga karung," katanya.

Warsono mengungkapkan, tiap karung berisi 25 kilogram kerang hijau. Pelaku mengambil kerang hijau tersebut untuk dijual lagi kepada penjual kerang keliling seharga Rp 11 ribu per kilogram.

Menurut Warsono, mengambil kerang di tepian Pantai Ancol lebih mudah dibandingkan di luar reklamasi. Itu karena air di sana dangkal dan banyak kerang ditemukan di bebatuan.

Warsono mengungkapkan, sejak ada penelitian tentang kualitas kerang hijau di Teluk Jakarta yang mengandung logam berat, PT Pembangunan Jaya Ancol telah melarang warga maupun pengunjung untuk melakukan pengambilan kerang hijau di laut Ancol.

"Sudah ada larangan dikeluarkan oleh manajemen, kalau mau ambil kerang silahkan di luar laut Ancol, setelah reklamasi boleh, tapi tidak untuk dikonsumsi," kata Warsono.

Hasil penelitian pakar kelautan dan perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa tahun lalu menunjukkan, air laut Teluk Jakarta mengandung silika berat, fosfat, dan nitrogen 21.260 ton. Di kerang hijau yang hidup di Teluk Jakarta ditemukan logam berat seperti merkuri (Hg), cadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr), dan timah (Sn).

"Kerang hijau di Teluk Jakarta tidak layak dikonsumsi, ini berdasarkan hasil penelitian pakar IPB yang menemukan kandungan logam berat pada kerang hijau di Teluk Jakarta," kata Manajer Konservasi PT Pembangunan Jaya Ancol Yus Anggoro Saputra.

Menurut Yus, kerang hijau merupakan filter feeder atau filter alami dari perairan laut yang dapat memperbaiki kualitas air, sementara kualitas air laut Jakarta sudah tercemar sedemikian rupa.

Dari hasil uji coba yang dilakukan Ancol, satu kilogram kerang mampu menjernihkan 10 liter air laut yang keruh dalam waktu satu jam. Ancol sejak 2018 telah memulai program restorasi kerang hijau untuk memulihkan kembali kualitas perairan Teluk Jakarta, khususnya Pantai Ancol dengan introduksi kerang hijau.

"Mungkin setelah air laut Jakarta jernih baru kami bisa pertimbangkan konsumsi kerang hijau dari Teluk Jakarta," kata Yus.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA