Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Maulid Nabi Momentum Teladani Rasulullah SAW

Ahad 10 Nov 2019 20:00 WIB

Rep: Arie Lukihardiyanti./ Red: Agung Sasongko

Rasulullah

Rasulullah

Foto: Mgrol120
Inti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah meningkatkan keimanan kepada Allah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG----Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menilai, inti dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Di Indonesia sendiri acara peringatan Maulid Nabi Muhamamd SAW sering disebut Muludan.

Baca Juga

“Inti dari pada Muludan ada tausyiah, ada agama, yaitu pepatah yang disampaikan dengan niat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT,” ujar Uu saat memberikan ceramah dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 Hijriah di Yayasan Al Masoem, Kab Sumedang, akhir pekan ini.

Oleh karena itu, menurut Uu, momentum Muludan adalah untuk meniru, meneladani akhlak Rasulullah baik dari segi keilmuan maupun dari segi sunah-sunah yang harus dilakukan yang tercermin dengan akhlak, moral, dan memiliki budi pekerti yang luhur.

Uu pun menjelaskan, secara garis besar, ilmu dalam Islam ada tiga. Yakni Tauhid, Fikih, dan Tasawuf. Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang keesaan Allah SWT dan aqidah. Seseorang

dikatakan beriman atau tidak tergantung pada tauhidnya. Begitu pun seseorang disebut mukmin (orang beriman) atau tidaknya juga tergantung pada tauhidnya. Ilmu Tauhid pun membahas tentang keesaan Allah SWT, yaitu terkait dengan sifat-sifatnya Allah.

“Konsekuensi dari seseorang yang mempelajari ilmu Tauhid adalah ditempatkan atau abadi di surga, yang tidak (mempelajari ilmu Tauhid) akan ada di neraka,” kata Uu.

Selanjutnya, kata dia, adalah Fikih atau bisa disebut juga ilmu Syariah. Seseorang yang melaksanakan ilmu ini pertanda dirinya sebagai orang yang ahli surga. 

UU memaparkan empat rukun yang diajarkan dalam ilmu Fikih, yakni rukun Ubudiyah atau tata cara beribadah, rukun Munakahat atau tata cara perkawinan, rukun Muamalat atau tata cara berniaga, dan rukun Jinayat atau ilmu pemerintahan.

“Dan kita sebagai orang beriman harus tahu ilmu Fikih dan melaksanakannya. Seseorang yang melaksanakan ilmu Fikih disebut muslim,” katanya.

Ilmu ketiga dalam Islam, kata dia, adalah ilmu Tasawuf. Inti dari ilmu ini adalah keikhlasan dalam hati. Untuk itu, segala bentuk ibadah dilaksanakan dengan niat karena Allah SWT. Sementara orang yang melaksanakan ilmu Tasawuf disebut mufsidin.

“Kita melaksanakan ibadah dengan keikhlasan untuk mendapatkan rida Allah SWT. Jangan ada kita melaksanakan ibadah karena ingin dipuji misalnya,” katanya

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA