Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Virus Demam Babi Afrika tak Menulari Manusia

Selasa 12 Nov 2019 08:53 WIB

Red: Budi Raharjo

Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mengamati bangkai babi yang dibuang pemiliknya di Danau Siombak Marelan, Medan, Sumatera Utara, Senin (11/11/2019).

Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mengamati bangkai babi yang dibuang pemiliknya di Danau Siombak Marelan, Medan, Sumatera Utara, Senin (11/11/2019).

Foto: Antara/Septianda Perdana
Babi-babi diduga tak hanya terjangkit virus kolera babi, tetapi juga virus ASF.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyatakan pemerintah terus mencegah persebaran virus demam babi afrika (african swine fever/ASF) agar tidak memasuki wilayah Indonesia. Kementerian Pertanian sejauh ini sudah menyurati para gubernur dan bupati agar meningkatkan kewaspadaan terkait virus ASF.

Dia juga mengimbau masyarakat supaya tidak memercayai kabar yang belum jelas kebenarannya tentang virus ASF. Bagaimanapun, dia memastikan wabah virus tersebut tidak akan menulari manusia.

"Sesuai apa yang saya dapat dari pendekatan akademis dan sumber-sumber tepercaya lainnya, ter nyata penyakit itu tidak menular kepada manusia," ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo saat ditemui awak media di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (11/11).

Virus ASF termasuk jenis virus dengan DNA ber untai ganda dalam famili Asfarviridae. Di Afrika, virus tersebut menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian yang tinggi pada babi domestik. Seekor babi dapat mati dalam jangka waktu sepekan setelah terinfeksi virus tersebut. Penyakit ASF diketahui tidak dapat disembuhkan pada babi, tetapi tidak berbahaya juga bagi manusia.

Sebelumnya, ribuan ekor babi ditemukan mati di Sumatra Utara. Seluruh binatang itu diduga tak hanya terjangkit virus kolera babi (hog cholera), tetapi juga terindikasi virus ASF. Hal itu berdasar kan hasil uji laboratorium yang dilakukan Balai Ve teriner Kota Medan atas sempel salah satu bangkai tersebut.

Mentan berencana membentuk unit khusus untuk menanggulangi kemungkinan masuknya virus ASF ke Tanah Air. Unit tersebut akan bekerja secara koordinatif mulai dari level pusat hingga daerah-daerah, termasuk kalangan peternak.

Terkait kematian ribuan babi di Sumatra Utara, dia meminta pemerintah daerah setempat untuk menangani dampak kejadian itu secara menyeluruh. Masih suspect (terindikasi virus ASF). "Sampai di situ, harus dilakukan isolasi dan pemusnahan (bangkai babi) kalau dibutuhkan," kata mantan gubernur Sulawesi Selatan itu. Menurut dia, ekspor babi ke luar negeri masih dapat dilakukan, tetapi dengan menerapkan seleksi yang sangat ketat.

Baca Juga

photo
Warga membawa bangkai babi yang dibuang pemiliknya di Danau Siombak Marelan, Medan, Sumatera Utara, Senin (11/11/2019).


Kepolisian Sektor Medan menyelidiki sejumlah peternakan di kota tersebut terkait kasus penemuan ratusan bangkai babi di Danau Siombak, Kecamatan Marelan, Medan, Sumatra Utara. Kepala Polsek Medan Labuhan AKP Edy Safari mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan petugas Kriminal Khusus (Krimsus) Kepolisian Daerah Sumatra Utara.

"Kami masih menyelidiki siapa yang membuang (bangkai-bangkai babi) ke sungai. Kami juga menyelidiki peternakan di Tanjung Gusta dan Percut. Ini masuk pencemaran lingkungan hidup. Ancaman (pidana) di atas 10 tahun," ujar Edy, Senin.

Ratusan bangkai babi di Danau Siombak batal dikubur karena air danau tersebut dilaporkan mengalami pasang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan Armansyah Lubis mengatakan, pihaknya mengalami kendala teknis sehingga penguburan tersebut harus ditunda hingga Selasa (12/11). "Hari ini (kemarin) penguburan kita tunda karena air sudah pasang dan tinggi," ujar dia di Medan, Sumatra Utara, Senin.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatra Utara mencatat, sebanyak 4.682 ekor babi dilaporkan mati akibat virus itu. Namun, angka itu dilaporkan bertambah sejak kemarin menjadi 5.800 ekor babi. Kabupaten/kota di provinsi tersebut yang diketahui terkena wabah virus hog cholera adalah Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir. (antara, ed: hasanul rizqa)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA