Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Capai 36,01 Persen

Selasa 12 Nov 2019 14:45 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah murid berjalan dengan latar belakang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/11).

Sejumlah murid berjalan dengan latar belakang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/11).

Foto: Abdan Syakura_Republika
Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung ditargetkan beroperasi 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menargetkan kereta cepat (high speed train) Jakarta-Bandung beroperasi sesuai rencana pada 2021. Hingga awal November 2019, perkembangan pembangunan proyek kereta dengan jarak tempuh 142,3 Km ini sudah mencapai 36,01 persen.

Hal itu disampaikan Ridwan Kamil saat menghadiri rapat koordinasi (rakor) terkait percepatan pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (RI) Luhut Binsar Pandjaitan.

“Posisi pembebasan lahan sudah 99,06 persen, kemudian konstruksi sudah 30-an persen. Jadi, jadwal masih ditetapkan 2021 beroperasi,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, Selasa (12/11).

Emil mengatakan, kendala yang dihadapi dalam proses pembangunan adalah soal pembebasan lahan. Namun, kendala terkait administrasi di pengadilan dan negosiasi besaran ganti rugi tersisa kurang dari satu persen.

Selain itu, Emil juga menjelaskan keringanan pajak untuk para investor dan keringanan sewa lahan negara. Keringanan pajak, diberikan melalui insentif tax holiday dan pembebasan PPN.

“Bapak Luhut (Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI) tadi memberikan arahan semua kemudahan akan diberikan, karena ini masuk proyek strategis nasional dan teknologinya dihitung sebagai pionir,” paparnya.

Terkait insiden ledakan pipa Pertamina di lokasi proyek yang ada di Cimahi pada 22 Oktober lalu, Emil menuturkan bahwa peristiwa tersebut tidak memengaruhi proses pengerjaan proyek oleh PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) karena, sudah ditindaklanjuti. Kejadian tersebut, terjadi karena salah prosedur dari KCIC tidak melakukan permohonan pendampingan dari Pertamina.

Baca Juga

"Pertamina kan punya SOP, (misalnya) kalau menggali ada jarak sekian meter dari pipa. Ini tidak didampingi saat pelaksanaan,” kata Emil.

Untungnya, kata dia, Pertamina sudah membuat pipa pararel, sehingga suplai minyak dan BBM tidak ada masalah. "Dan saya kira itu (insiden ledakan pipa) tidak menghambat (proses pengerjaan proyek), karena pipanya sudah dimatikan,” katanya.

Emil pun mengimbau PT KCIC agar selalu melakukan aktivitas pengerjaan proyek khususnya di kawasan Pertamina dengan supervisi dari PT Pertamina.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung sendiri diharapkan akan memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung, menjadi hanya 46 menit.

Nantinya, terdapat empat stasiun yang menyokong jalur kereta cepat ini. Yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Walini, dan Stasiun Tegalluar dengan struktur 13 terowongan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA