Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

IPW Sebut Bom Bunuh Diri di Medan untuk Permalukan Kapolri

Rabu 13 Nov 2019 16:10 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Andi Nur Aminah

Polisi berjaga di depan gedung Mapolrestabes Medan pascaaksi bom bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda, di Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11/2019).

Polisi berjaga di depan gedung Mapolrestabes Medan pascaaksi bom bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda, di Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11/2019).

Foto: Antara/Irsan Mulyadi
Bom bunuh diri ini upaya kalangan teroris mempermalukan Kapolri yang baru dilantik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengatakan serangan teror bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Rabu (13/11) menunjukkan sel-sel terorisme masih hidup subur di Indonesia. Menurutnya meski Densus 88 terus menerus melakukan penangkapan tapi para teroris tetap mencari celah untuk melakukan serangan.

Baca Juga

"Serangan bom di Polresta Medan bisa dinilai sebagai upaya kalangan teroris untuk mempermalukan Kapolri Idham Azis yang baru dilantik sebagai Kapolri," ujar IPW kepada Republika.co.id, Rabu (13/11).

Apalagi, kata Neta, Idham Aziz merupakan tokoh penting dalam Densus 88. Kasus bom di Medan ini sekaligus menunjukkan polri di bawah kepimpinan Idham Azis sangat lemah dalam sistem deteksi dininya, baik deteksi dini dari jajaran Densus 88 maupun dari intelijen kepolisian maupun Bareskrim.

"Kebetulan hingga saat ini Idham belum berhasil memilih Kabareskrim yang baru. Artinya dalam memilih Kabareskrim saja, Idham Aziz masih tergolong lelet, bagaimana pula untuk melakukan deteksi dan antisipasi dini terhadap serangan terorisme," ungkapnya.

Padahal, tutur Neta, di sepanjang era kampanye dan pemilihan presiden (Pilpres) 2019, polri sudah melakukan pagar betis dan pembersihan terhadap kantong-kantong terorisme. Namun ia mempertanyakan, kenapa saat Idham baru menjabat sebagai Kapolri, bisa kebobolan? Selain itu, selama ini jajaran kepolisian sendiri yang selalu mengatakan bahwa sasaran terorisme sudah meluas. "Polisi dijadikan sebagai sasaran utamanya, tapi kenapa Polri lengah dan masih kebobolan?" ujar Neta dengan heran.

Neta melihat pola serangan di Medan, tidak ada kata lain bahwa Polri tidak boleh lengah untuk terus menerus meningkatkan deteksi dininya. Apalagi selama ini polri sangat agresif memburu para teroris. Sehingga para teroris menganggap jajaran polri adalah penghambat utama dari gerakan perjuangan mereka.

"Sehingga jika Polri lengah, wajar kalangan teroris bermanuver mencari celah dengan modus modus baru. Penggunaan ojek online adalah modus baru dalam sistem serangan terorisme di Indonesia," kata Pane.

Oleh karena itu, Neta meminta agar Polri harus mencermati hal ini dengan serius. Apakah korban benar-benar pelaku bom bunuh diri atau korban merupakan korban yang diperalat jaringan terorisme. Dalam artian, jaringan terorisme menyewa ojek online untuk membawa penumpang dan barang (bom) ke Polrestabes Medan dan begitu tiba di TKP, bom yang dibawa diledakkan dengan sistem remot kontrol dari jarak jauh.

"Fenomena ini patut dicermati polri. Terlepas dari semua itu, Kapolri Idham Azis harus bisa bekerja cepat, terutama dalam menetapkan Kabareskrim yang baru. Tujuannya agar Polri bisa konsolidasi, terutama untuk mencermati manuver kelompok terorisme," tambahnya.

Menurutnya, bagaimana Polri bisa mencermati dan mendeteksi manuver jajaran terorisme, jika Polri sendiri tidak terkonsolidasi dengan mengambangnya posisi Kabareskrim. Justru, kata dia, yang ada muncul manuver-manuver negatif di internal kepolisian. "Yang membuat jajaran kepolisian menjadi bingung untuk bersikap di tengah maraknya serangan terorisme," kata Neta.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA