Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Muslimat NU Ajak Perempuan Bendung Paham Radikalisme

Rabu 13 Nov 2019 16:28 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

Anggota tim forensik polisi memeriksa lokasi serangan bom di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/ 2019).

Anggota tim forensik polisi memeriksa lokasi serangan bom di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/ 2019).

Foto: AP/Binsar Bakkara
Muslimat NU nilai memberantas paham radikalisme butuh waktu panjang.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sekretaris Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Ulfah Masfufah menuturkan, keterlibatan perempuan pada tindakan terorisme memang menjadi tantangan tersendiri. Dia merasa prihatin atas kondisi ini terutama ketika 2016 ada perempuan asal Purworejo yang ditangkap dengan tuduhan merencanakan bom bunuh diri di Bali.

Baca Juga

"Ini jelas menjadi tantangan dan tentunya menjadi perhatian kami dari Muslimat NU. Kami juga keheranan dengan kejadian sekitar 3 tahun tahun lalu itu. Kami mengecam segala bentuk tindakan terorisme," kata dia kepada Republika.co.id, Rabu (13/11).

Ulfah mengakui, kelompok teroris telah mengeksploitasi perempuan untuk melakukan sesuatu di luar dari lazimnya. Mereka hanya ingin menjadikan perempuan sebagai alat untuk menyebar teror dan ketakutan di tengah masyarakat.

"Teroris ini sudah memperalat perempuan. Kami, perempuan, asalnya kan lembut dan penuh dengan kesantunan. Tapi kemudian dijadikan alat untuk melakukan tindakan kekerasan terorisme. Kami prihatin sekali, kami sangat sedih," tuturnya.

Muslimat NU juga mengajak kalangan perempuan untuk menanamkan nilai-nilai kecintaan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip hablumminannas ini harus dijaga dengan menunjukkan sikap yang toleran dan berharmoni terhadap sesama, untuk membendung paham-paham radikalisme.

Menurut Ulfah, upaya memberantas paham tersebut memang butuh waktu yang panjang. Butuh upaya yang bersifat mengakar mulai dari lingkup keluarga. Ketahanan keluarga baginya menjadi kunci untuk menangkal paham-paham ekstremisme.

Anak-anak usia dini pun harus mendapat penguatan keagamaan yang moderat dan ahlussunnah wal jamaah. "Ketahanan keluarga menjadi ujung tombak bagi anak-anak sejak kecil, kemudian remaja, bahkan saat anak akan memasuki gerbang pernikahan hingga menjadi orang tua," tutur dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA