Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Menteri PUPR Akui Potensi Defisit Air di Calon Ibu Kota Baru

Rabu 13 Nov 2019 17:25 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Nur Aini

Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan dua profesor baru di Gedung Widyaloka UB, Kota Malang, Rabu (13/11). Kegiatan ini turut dihadiri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Men-PUPR), Basuki Hadimuljono.

Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan dua profesor baru di Gedung Widyaloka UB, Kota Malang, Rabu (13/11). Kegiatan ini turut dihadiri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Men-PUPR), Basuki Hadimuljono.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Calon ibu kota baru, Kalimantan Timur memiliki potensi air tanah yang kecil.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Men-PUPR), Basuki Hadimuljono tak menampik, potensi air tanah di Kalimantan Timur (Kaltim) kecil. Calon wilayah untuk ibu kota baru tersebut hanya dapat mengandalkan air permukaan. 

Baca Juga

"Jadi harus cari air permukaan. Air permukaan bisa dari sungai, danau, buatan manusia seperti bendungan. Dan kami baru dapat bendungan dan sungai," kata Basuki saat ditemui wartawan di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Rabu (13/11).

Basuki mengatakan, pemerintah telah melakukan survei pada tiga calon bendungan di Kaltim. Dua di antaranya bervolume kecil sedangkan lainnya besar. 

Menurut Basuki, sumber air bervolume kecil dapat dimanfaatkan sebagai amenities. Hal itu berarti dijadikan sebagai komponen perencana sebuah kota. Tidak hanya menjadi smart city, forest city tapi juga kota metropolis. 

"Jadi ada ruang birunya dan juga ada ruang hijaunya. Dan yang besar, itu untuk ketersediaan airnya. Itu bisa dimanfaatkan," ujarnya.

Di sisi lain, Basuki juga mengaku, telah menerima masukan terkait kebutuhan air baku di Kaltim. Masukan itu diterima berdasarkan penelitian dari salah satu profesor Universitas Brawijaya (UB), Pitojo Tri Juwono . Hasil penelitian itu akan dijadikan referensi pemerintah dalam menyediakan air baku di ibu kota baru nanti.

"Jadi dari paper-nya Pak Pitojo, kami bisa menyiapkan supply airnya, apa dengan bendungan atau apa," tambahnya. 

Profesor bidang manajemen dan rekayasa sumber air dari Universitas Brawijaya (UB), Pitojo Tri Juwono mengingatkan potensi defisit air di ibu kota baru, Kalimantan Timur (Kaltim). Hal itu diungkapkan berdasarkan penelitiannya tentang daya dukung air baku di tempat tersebut. 

Pitojo menjelaskan, ketersediaan air baku di Kaltim saat ini disuplai dari beberapa sumber. Sumber air tersebut di antaranya dari Bendungan Manggar (1.200 liter per detik) dan Bendungan Teritip (260 liter per detik). Lalu air baku Loa Kulu (100 liter per detik) dan intake Kalhol (Sungai Mahakam) dengan kapasitas 1.000 liter per detik tetapi belum operasional. 

"Jadi total ketersediaan air baku eksisting saat ini sebesar 2,56 meter kubik per detik," ujar Pitojo dalam kegiatan Pengukuhan Profesor UB di Gedung Widyaloka, Kota Malang, Rabu (13/11).

Kaltim berpotensi dihuni hingga 5 juta penduduk pada proses pemindahan ibu kota nanti. Hal itu berarti kebutuhan air di tempat tersebut akan mencapai 10,94 meter kubik per detik. Kaltim berpotensi mengalami defisit kekurangan ketersediaan air sebesar 8,38 meter kubik per detik.

"Ini sebuah nilai debit yang cukup signifikan besar yang harus dipenuhi," ujarnya.

Menurut Pitojo, masalah defisit sumber air baku dapat dilakukan dengan optimasi peran bendungan yang tersedia. Kemudian membangun bendungan dan infrastruktur air yang baru. Namun sebelum membangun yang baru, pemerintah harus menganalisis kelayakan teknik dan ekonomi. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA