Sabtu, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 Januari 2020

Sabtu, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 Januari 2020

Kemesraan Manusia dan Alam di Kaki Gunung Agung

Sabtu 16 Nov 2019 13:22 WIB

Red: Esthi Maharani

Desa Adat Geriana Kauh menjadi satu-satunya Desa di Bali yang gelar Tari Sanghyang Dedari

Desa Adat Geriana Kauh menjadi satu-satunya Desa di Bali yang gelar Tari Sanghyang Dedari

Foto: Mas Amil Huda / Republika
Tari Sanghyang Dedari erat kaitannya dengan tradisi agrikultur di Bali

Oleh Mas Alamil Huda

Sebuah bangunan berdinding anyaman bambu tampak begitu menawan. Pondasinya terlihat kokoh. Tapi nuansa kesederhanaannya terasa amat lekat dengan sentuhan arsitektur kuno khas Pulau Dewata.

Pohon-pohon tinggi nan rindang di sekeliling yang meneduhi bangunan di Desa Adat Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali ini kian menambah kesan asri. Bangunan berukuran 10x12 meter itu merupakan Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha.

Sesuai namanya, museum ini berisi diorama Tari Sanghyang Dedari dan segala hasil bumi masyarakat setempat. Keduanya saling bertaut. Tari Sanghyang Dedari adalah salah satu ritual kuno dan sakral masyarakat di Pulau Dewata yang erat kaitannya dengan tradisi agrikultur di sana.

Tari Sanghyang Dedari sejak 2015 telah ditetapkan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco) sebagai warisan budaya tak benda dunia. Saat ini, Desa Adat Geriana Kauh menjadi satu-satunya Desa di Bali yang masih menjalankan tarian sakral ini.

Melalui serangkaian proses panjang yang dilakukan Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI serta masyarakat adat Geriana Kauh, museum ini diresmikan pada Selasa (12/11).

Museum tersebut menjadi pusat dokumentasi Tari Sanghyang Dedari, baik itu foto, tulisan, maupun tayangan audio visual serta lontar berisi nyanyian Tari Sanghyang Dedari. Tak hanya sekadar bangunan tanpa makna, museum ini adalah simbol lestarinya adat dan budaya.

Tari Sanghyang Dedari tak bisa dilakukan setiap waktu. Ritual ini hanya dijalankan saat padi yang ditanam masyarakat di sawah mulai berbuah. Tarian ini pun punya berbagai syarat, salah satunya adalah para penari harus anak perempuan yang belum akil baligh.

Menurut peneliti dari Pengmas UI, Saraswati Dewi, tari Sang Hyang Dedari awalnya ada di hampir semua daerah di Bali. Namun, lambat laun tarian ini hilang seiring beralihfungsinya lahan pertanian menjadi perhotelan, kafe, restoran, pusat perbelanjaan dan semua yang menunjang industri pariwisata di Bali.

"Ritual ini sudah ada sejak abad kedelapan dan terus hidup di zaman peralihan datangnya Hindu dari Majapahit pada abad ke-14," kata Saraswati.

Sejak tahun 2015, perempuan kelahiran Denpasar, Bali ini mulai menelusuri kembali tarian Sanghyang Dedari. Penelusuran pertama menyimpulkan, tarian ini dijalankan oleh beberapa daerah di Bali sebagai tarian penolak bala.Tetapi, sekarang daerah-daerah tersebut sudah tidak menjalankannya.

Hingga akhirnya ditemukan di Desa Adat Geriana Kauh. Desa yang berada di kaki Gunung Agung ini menjalani tari Sang Hyang Dedari agar tanaman padi mereka terhindar dari malapetaka dan mengharap hasil panen yang melimpah.

Tarian Sanghyang Dedari selalu diiringi dengan gending atau nyanyian. Saat dilaksanakan tarian Sanghyang Dedari, para penduduk desa akan melantunkan gending Sanghyang Dedari untuk penari. Gendingan Sanghyang Dedari diwariskan secara turun temurun melalui tradisi lisan. Tak ada dokumen tertulis.

Untuk merekonstruksi, Saraswati mewawancarai banyak kepala desa adat dan melihat manuskripnya di Leiden, Belanda, dalam bahasa latin. Dosen filsafat Ui ini lantas menyusunnya menjadi bahasa Bali kuno atau Sansekerta dengan dibantu peneliti lainnya.


Menjaga keseimbangan

Teknologi modern memang menawarkan keefektifan dan kepraktisan. Tetapi tidak semua teknologi modern memiliki dampak positif. Bahkan, beberapa di antaranya justru berdampak yang negatif untuk lingkungan. Desa Adat Geriana Kauh adalah salah satu 'korbannya'.

Ketua Desa Adat Geriana Kauh, Nyoman Subratha, mengatakan, dekade 1980-an dan 1990-an marak penggunaan bibit padi hibrida yang bisa meningkatkan produksi padi berkali-kali lipat. Penggunaan pupuk buatan dan pestisida juga sedang ramai karena dianggap efisien.

Tetapi, kata dia, setelah beberapa tahun dijalankan, warga Desa Geriana Kauh mulai merasakan dampak negatifnya. Tanah persawahan dirasa semakin gersang dan rusak. Serangan hama pun kian kencang, dan habitat hewan-hewan di sawah seperti belut hingga keong sawah semakin hilang.

Nyoman mengatakan, ritual ini pernah terhenti di Desa Geriana Kauh pada 1965, lalu hidup lagi hingga 1999. Sejak tidak melakukan Tari Sanghyang Dedari itu, kata dia, gagal panen terus menerus terjadi. Serangan hama tak pernah berhenti dan lahan pertanian kian rusak.

Sejak tarian ini dilakukan kembali, Nyoman mengaku, hasil panen membaik hingga berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat setempat. Dia meyakini, ada andil ritual adat tarian Sanghyang Dedari di dalamnya. "Rohnya Bali itu adat dan budaya, saya nggak tahu Bali akan ke mana kalau adat dan budaya hilang," ujar dia.

Nyoman percaya, manusia dan alam harus saling menjaga. Manusia, kata dia, tidak boleh menyakiti alam dan harus menjaganya karena alam memberi banyak untuk manusia. Kemesraan manusia dan alam ini yang diyakini Nyoman melahirkan keseimbangan yang saling menjaga dan menyelaraskan

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA