Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Pengalaman Atlet Dayung Dunia Menginap di Rumah Gadang

Kamis 14 Nov 2019 16:36 WIB

Red: Muhammad Hafil

Atlet dayung internasional asal Republik Ceska yang merasakan menginap di rumah gadang.

Atlet dayung internasional asal Republik Ceska yang merasakan menginap di rumah gadang.

Foto: Febrian Fachri / Republika
Para atlet dayung terkesan dengan pengalaman menginap di rumah gadang.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Febrian Fachri / Wartawan Republika.co.id

Baca Juga

 

SIJUNJUNG- Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat menjadi tuan rumah ajang Piala Dunia Arung Jeram pada 10-14 November 2019 ini. Rafting R-4 World Cup Series ini termasuk ke dalam kalender tahunan dari International Rafting Federation (IRF). 

Silokek Geofest Rafting World Cup (SGRWC) 2019 berada di Sungai Kuantan yang terletak di Sijunjung. Di mana lokasi tersebut kini termasuk ke dalam Geopark Silokek.

Geopark Silokek sebagai lokasi Piala Dunia Arum Jeram karena jalur sungai tersebut punya latar belakang sejarah untuk olahraga yang cukup menantang ini. Karena di situ merupakan pertama kalinya pelaksanaan arum jeram di Sumatra Barat pada tahun 1990 lalu.

Piala Dunia Arum Jeram 2019 ini akan diikuti 250 atlet dan 50 tim, 150 volunteer, 20 tim tekni,  50 juri,  dan 100 orang tim regu penyelamat.

Peserta ada yang datang dari Malaysia dan Republik Ceska. Dari Sumbar akan diwakili atlet arum jeram dari Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Padang Panjang dan dari Kabupaten Sijunjung. Sementara dari provinsi lain ada dari Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Piala Dunia Arum Jeram ini terdiri dari dua kategori yakni Man dan Woman. Kemudian akan dibagi dalam beberapa divisi yakni divisi master, divisi open, divisi junior untuk U23 dan youth untuk U19. 

photo
Rumah gadang di Sijunjung yang menjadi tempat penginapan bagi atlet dayung internasional.

Uniknya penyelenggaraan turnamen kelas dunia ini, peserta dan ofisial tidak menginap di hotel apalagi hotel berbintang. Semuanya menginap di rumah gadang yang terletak di Desa Adat di  Desa Koto Padang Ranah Dan Tanah Bato, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Di desa adat ini terdapat 78 rumah gadang yang masih utuh. Di desa ini nyaris seluruh kegiatan warga masih tradisional. Begitu juga dengan fasilitas sehari-hari. 

Kepala tim rafting Republik Ceska Martin Procazka mengaku sangat terkesan bisa merasakan menginap di Rumah Gadang. Rumah yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. 

Martin bersama semua anggota timnya menginap di rumah gadang. Dengan kondisi semuanya tidur bersama di lantai rumah gadang yang memanjang. Untuk ke kamar mandi, harus berjalan ke belakang rumah gadang.

"Saya bahagia bisa menginap di rumah tradisional (Rumah Gadang). Semuanya masih alami di sini. Ini tradisi yang harus dipertahankan," kata Martin kepada Republika, Kamis (14/11).

Karena menginap di rumah gadang, Martin tidak hanya menikmati kompetisi arum jeram di Geopark Silokek. Martin jadi punya pengalaman hebat merasakan hal-hal serba alami di Kabupaten Sijunjung. 

photo
Suasana lomba dayung internasional yang mengikuti lomba di kawasan Silokek Geopark, Sijunjung.

Tapi Martin harus beradaptasi dengan makanan asli sijunjung. Selama ini di Republik Ceska, Martin bersama anggota timnya tidak terbiasa memakan nasi. 

"Makanannya cukup berat bagi saya. Tapi saya bisa mencoba dan enak," ujar Martin. 

Atlet dayung dari Malaysia Amirul juga baru pertama kali merasakan menginap di Rumah Gadang. Tapi sebelum di Sijunjung, Amirul pernah melihat Rumah Gadang di Negeri Sembilan, Malaysia. Seperti diketahui, Negeri Sembilan Malaysia dihuni mayoritas warga keturunan Kerajaan Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.

Keunikan yang dirasakan Amirul adalah tidur di atas padi. ruang utama Rumah Gadang yang diinapi tim Malaysia memang dijadikan 'Balobe Padi' atau tempat menyimpan padi. Jadi Balobe Padi tersebut ditutup rapat dengan tikar dan kasur sehingga bisa ditiduri.  

"Tidur di atas padi. Sejuk. Baru ini saya merasakannya," ucap Amirul. 

Rekan satu tim Amirul, Digoy mengapresiasi panitia Piala Dunia Dayung 2019 yang memberikan fasilitas penginapan di Rumah Gadang. Karena menginap di hotel sudah terbiasa bagi para atlet.

Terbuka untuk Pelancong

Dini hari, Kamis (14/11) Reni (43) dan ibunya Nurhasima (43) sudah sibuk di dapur. Reni dan Nurhasima adalah tuan rumah pemilik salah satu Rumah Gadang Melayu yang berada di Desa Adat Sijunjung. 

Keduanya memasak untuk sarapan awak media yang menginap di Rumah Gadang. Reni memasak sarapan mie goreng. Sedangkan Nurhasima merebus air di atas tungku api dengan bahan bakar kayu. 

Reni mengatakan ia dan ibunya sudah bangun dan beraktivitas sejak dini hari bukan hanya ketika ada tamu yang menginap. Warga di Desa Adat Sijunjung kata dia memang sudah terbiasa bangun sebelum subuh setiap hari. Setelah memasak, mereka akan shalat subuh ke masjid. 

Setelah shalat subuh, mereka akan menyiapkan hidangan sarapan. Di hari biasa sarapan mereka hidangkan untuk anggota keluarga. 

"Aktivitas warga di sini sejak subuh bukan karena ada tamu saja. Memang setiap hari kami begitu," kata Reni.

Reni mengatakan warga di Desa Adat Sijunjung ini sangat terbuka bagi pendatang atau wisatawan. Semua rumah gadang di sini siap menjadi penginapan bagi pelancong. Sebelum ajang Piala Dunia Arum Jeram, ada rombongan wisatawan dari Aceh menginap di Rumah Gadang Milik Reni dan Nurhasima. Lagi pula di rumah gadang ini hanya ada Reni, Nurhamisa, suami Reni dan satu anak bungsunya yang masih SD. Sisanya anggota keluarga mereka merantau ke provinsi lain. 

"Rumah ini ramai ketika hari raya Idul Fitri saja, ketika saudara kami pulang kampung. Sehari-hari yang begini saja," ucap Reni.

photo
Rumah gadang di Sijunjung dekat Kewasan Silokek Geopark.

Reni menyebut ke-78 Rumah Gadang di Desa Adat Sijunjung ini mendapatkan bantuan perawatan dari Pemerintah Kabupaten Sijunjung. Di mana mereka akan dibantu untuk membeli bahan untuk perbaikan dan menyediakan upah pengerjaan. Bila Reni merasa ada bagian dari rumah gadang yang rusak, ia tinggal melapor ke pemerintah. 

Reni menyebut pemerintah mendukung kelestarian Rumah Gadang di Desa Adat Sijunjung ini karena menyimpan sejarah dan tradisi asli Minangkabau.

Saat Republika menginap di rumah gadang milik Reni, terlihat ruang tengah rumah yang masih memberikan suasana asli Minangkabau. Rumah Gadang Reni terdiri dari empat kamar. Satu kamar dijadikan pintu besar penghubung ke bagian dapur. 

Reni mengatakan pelancong biasanya menginap di lantai ruangan tengah. Reni menyediakan kasur biasa atau tikar tipis, bantal dan selimut. 

"Pendatang selalu maunya tidur di lantai karena sejuk kata mereka," tutur Nurhasima.

Di salah satu sudut ruang tengah rumah gadang ini terdapat alat penenun yang masih tradisional. Sehari-hari bila pekerjaan rumahnya sudah selesai, Nurhasima menenun aneka pakaian adat minang. 

Fasilitas hiburan buat anak-anak Reni juga masih sederhana. ada permainan congklak yang terbuat dari kayu. Reni menyebut sering juga permainan congklak ini dipakai oleh para tamu karena permainan tradisional tersebut sudah sulit ditemukan. 

Nurhamisa menyebut adanya perhatian pemerintah kepada rumah gadang di Desa Adat Sijunjung ini membuat mereka mendapatkan penghasilan tambahan selain dari bertani dan menenun. Seperti panitia menyewakan untuk penginapan tim media selama acara Piala Dunia Arum Jeram ini. Selain itu, keluarga Nurhamisa juga mendapatkan keuntungan dari penyediaan makanan dan minuman para tamu. 

"Kami tidak mematok berapa biaya menginap. Kalau acara seperti ini, kami diberi panjar. Kalau misal kurang yang kami minta tambah," ucap Nurhasima

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA