Kamis, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 Februari 2020

Kamis, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 Februari 2020

Chandra Prijosusilo Dari Psikologi, Aktivis Perempuan Sampai Memberdayakan Tenun Tradisional

Selasa 29 Okt 2019 07:45 WIB

Red:

Enam tahun belakangan, Chandra Prijosusilo sibuk keluar-masuk desa tenun. Prihatin akan banyaknya penenun yang menganggap pekerjaan mereka lekat dengan kemiskinan, perempuan asal Jawa Timur ini bertekad mengangkat harkat tenun dan seniman penciptanya.

Merawat tradisi tenun, bagi Chandra, sama dengan melestarikan Bumi.

Kain tradisional tenun memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Kiki, sapaan akrab Chandra Kirana Prijosusilo, seorang wanita yang memiliki darah campuran Indonesia dan Australia tersebut.

Lulusan Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta ini minggu lalu kembali ke kampus Bulaksumur untuk menerima penghargaan sebagai alumni berprestasi tahun 2019 karena kegiatannya menjaga kelestarian lingkungan dan membangun daerah tertinggal.

Mengaku tersesat, Kiki justru jatuh cinta pada wastra Nusantara ini setelah mengenal lebih dalam.

"Ketika pertama kali melihat tenun Sumba, dan tanya-tanya, ternyata itu pakai tanaman semua kan, lebih dari 20 jenis tanaman mereka pakai pewarnaan itu."

"Nah saya mulai memperhatikan. Di Sumba, desa-desa tenun itu lebih rimbun karena mareka mengurus tanaman-tanaman itu untuk pewarnanya."

"Sehingga saya melihat tenun ini bisa untuk merestorasi lahan," cerita perempuan yang mengawali karir di tahun '80an dengan membentuk organisasi pelestarian keanekaragaman hayati ini.

Kiki memandang jika tenun dengan pewarnaan alam digairahkan kembali, maka para penenun bisa dipompa semangatnya untuk menanam pohon.

"Sehingga alamnya mungkin jadi lebih hijau. Awalnya mikirnya begitu."

Dari situlah Sekar Kawung, perusahaan sosial bidang pemberdayaan penenun yang didirikannya, bermula di tahun 2013.

Sosok penenun, bagi Kiki, lebih dari sekedar pengrajin. Layaknya pelukis, mereka adalah seniman yang menghadirkan adi karya.

Sayangnya, banyak penenun cenderung tak mengapresiasi potensi tenun itu sendiri.

"Hampir tidak ada penenun yang menginginkan anaknya menjadi penenun. Kan itu sama dengan kemiskinan. Kalau di banyak tempat di NTT (Nusa Tenggara Timur), seperti itu."

Sekarang sih pelan-pelan mulai berubah ketika banyak orang mendampingi penenun, mulai semacam mendapatkan gengsi baru, tapi sebenarnya waktu saya mulai, penenun cenderung tidak ingin anaknya jadi penenun," tuturnya kepada Nurina Savitri dari ABC Indonesia dalam suatu perbincangan sore di Jakarta Selatan baru-baru ini.

Ibu tiga putri ini lantas mencontohkan tenun Sumba Timur yang memiliki motif Victorian seperti lukisan, sesuatu yang menurutnya membutuhkan daya cipta sekelas seniman.

"Artinya, kalau itu dibangkitkan, di-encourage (dimotivasi) untuk mencipta semakin bagus semakin bagus, tenun dia bisa berharga semakin mahal untuk kolektor. Dia (penenun) mungkin bisa hidup."

"Sekar Kawung sih coba mengarahkan ke sana. Tidak pada mass-production (produksi massal)," tegas Kiki.

Mahalnya tenun, kata Kiki, tak merepresentasikan kesejahteraan penciptanya. Ada elemen lain di balik tingginya harga yang membebani ongkos produksi.

"Waktu pembuatan yang sangat lama," sebutnya.

Tenun Sumba, terang Kiki, membutuhkan 42 langkah sebelum siap digunakan.

Dari puluhan langkah itu, ia menjadi paham bahwa tenun membentuk struktur sosial-ekonomi desa.

"Kalau tenun Sumba itu bisa paling cepat mungkin 3 bulan. Saya belum pernah malah menemukan yang bisa menyelesaikan dalam waktu 3 bulan."

"Plus kalau dipotong biaya produksi, berarti dia penghasilan per bulannya enggak sampai 500 ribu kan dari kain itu. Sedikit sekali kan?."

Target fesyen berkelanjutan

Dari Sumba, Kiki bergerak ke Tuban, Jawa Timur.

Di pesisir utara Pulau Jawa ini, Kiki menemukan cintanya yang lain yakni tenun Gadog.

Ia menemukan keistimewaan pada tenun yang bahan dasarnya diproduksi sendiri ini.

"Kapasnya mereka tanam sendiri, mereka pintal jadi benang sendiri terus mereka tenun jadi kain, baru dibatik."

"Kalau Sumba kan enggak dibatik, terus hampir semua tenun di Indonesia semuanya dibuat dari benang pabrik."

"Tuban ini termasuk komunitas yang setia sekali mengembangkan kapasnya sendiri," jelasnya kepada ABC.

Baik tenun Sumba, tenun Tuban atau kain tradisional dari daerah lain di Indonesia, bagi Kiki, semuanya berpeluang untuk menarik pasar di dunia fesyen berkelanjutan.

Sektor fesyen ini membuat pakaian tanpa meninggalkan jejak karbon dan diproduksi dengan menerapkan prinsip keadilan untuk seluruh pihak yang terlibat di dalamnya.

"Di mana dan siapa yang bikin itu? Contohnya di Tuban ini misalnya. Dia kapasnya pun ditanam sendiri. Berarti jejak karbonnya enggak ada sama sekali."

"Kalau penenun Sumba, masih ada yang memakai benang India, shippingnya dari India atau dari China atau dari manapun, diimpor. Itu kan ada jejak karbon yang sangat besar."

Sayangnya, hanya kurang dari satu persen seniman tenun Indonesia yang menerapkan prinsip zero carbon atau bebas jejak karbon.

"Sebetulnya batik atau tenun itu, dari proses pengerjaannya, apalagi kalau dia pakai pewarna alam, itu adalah produk yang sangat bersaing di pasar sustainable fashion (fesyen berkelanjutan)."

"Tapi kemudian kalau dilihat dari bahan yang dipakai itu 'dirty cotton' (memiliki jejak karbon), langsung disqualified (didiskualifikasi)."

Di situlah Kiki memposisikan Sekar Kawung sebagai perekat kesenjangan antara seniman tenun dengan celah pasar.

"Makin hari nanti kita makin mencari cara yang sustainable (ramah lingkungan), atau upcycle, atau recycle, atau kalau dari nol, ya dari seniman-seniman kain ini."

"Tetapi bagaimana menghubungkan mereka ke pasar? Sedangkan kesenjangan budayanya besar. Sedangkan kesenjangan bahasanya besar. Belum lagi kesenjangan teknologinya."

Kiki punya mimpi besar yang tak ragu ia bagi kepada ABC.

"Kebayangnya sih suatu ketika mungkin kami bisa semacam Go-Jek tapi menghubungkan antara orang yang ingin punya baju yang unik dengan pembuat kain."

"Bahkan dia akan bisa mendesain kainnya sendiri. Tapi memang harus ada platform."

"Masalahnya, Go-Jek kan pengguna dan provider-nya sudah ada di level yang sama, tapi kalau antara penenun atau pembatik dengan fashionista-nya ini masih butuh proses penerjemahan," ujarnya.

Sarjana psikologi yang berpindah ke masalah lingkungan

Menamarkan pendidikan dari Fakultas Psikologi UGM di tahun 1990, Kiki kemudian menjadi aktivis dengan mendirikan LSM Gita Pertiwi yang memfokuskan diri pada pemberdayaan perempuan dan keanekaragaman hayati.

Karena kegiatannya yang antara lain meliput demo perusahaan tekstil yang menutup jalan warga desa, Kiki perna berurusan dengan aparat keamanan di tahun 1997-1998 dimana aparat ingin mengetahui siapa di balik Gita Pertiwi.

Dia kemudian juga menjadi aktivis lingkungan dan pernah selama beberapa tahun menjadi staf Prof. Emil Salim dari tahun 2001-2004. Ketika itu Prof. Emil menjadi ketua tim independen yang mengevaluasi portofolio World Bank di bidang industri ekstraktif di seluruh dunia.

Karena kegiatannya selama hampir 30 tahun terakhir, tanggal 16 Oktober lalu, Chandra Kirana mendapat penghargaan dari UGM sebagai alumni berprestasi dalam kategori Pelopor Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar karenna kegiatannya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun daerah tertinggal.

Simak berita-berita menarik lainnya di situs ABC Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA