Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Ini Bahayanya Bangkai Babi Dibuang ke Sungai

Jumat 15 Nov 2019 15:58 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Andi Nur Aminah

Personel Babinsa TNI mengangkat bangkai babi dari aliran Sungai Bederah, untuk dikubur, di Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/11/2019).

Personel Babinsa TNI mengangkat bangkai babi dari aliran Sungai Bederah, untuk dikubur, di Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/11/2019).

Foto: Antara/Septianda Perdana
Akan ada efek berantai dari bangkai babi ke hewan lain hingga akhirnya ke masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Tarsoen Waryono menyebut tindakan membuang bangkai babi terjangkit kolera ke aliran sungai dan danau adalah perbuatan yang membahayakan kesehatan masyarakat. Sebab, akan ada efek berantai ke hewan lain hingga akhirnya ke masyarakat.

Baca Juga

Tarsoen mengatakan bahwa kolera babi belum bisa dipastikan apakah bisa menjangkiti manusia. Namun, keberadaan bangkai dalam jumlah besar bisa dipastikan akan memberikan masalah kesehatan lain.

"Kemungkinan akan ada mata rantai penyakit yang akan menyebab ke masyarakat melalui hewan amfibi seperti katak dan kura-kura. Karena mereka juga ke darat, maka penyebarannya semakin cepat," kata Tarsoen kepada Republika.co.id, Jumat (15/11).

Selain itu, lanjut dia, lalat juga akan menjadi salah satu hewan yang menyebarkan berbagai penyakit jika sebelumnya sudah hinggap di bangkai babi. "Lalat kan sering hinggap ke makanan kita. Itu pasti akan menimbulkan dampak kesehatan," pengajar di Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam UI itu.

Lebih lanjut, Tarsoen menilai tindakan pembuangan bangkai babi itu bisa menimbulkan konflik di masyarakat. Terlebih jika airnya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. "Ini tidak menutup kemungkinan juga akan ada dampak kesehatan lainnya. Terlebih terhadap ibu hamil yang sangat rentan," ucapnya.

Sebelumnya, ratusan bangkai babi ditemukan mengambang di aliran Sungai Bederah dan Danau Siombak yang berlokasi di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatra Utara sejak Jumat (1/11) lalu. Bangkai babi itu adalah babi yang mati terkena virus kolera babi.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus hog cholera. Yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

Dari 11 kabupaten/kota tersebut sebanyak 4.682 ekor babi dilaporkan mati akibat virus ini. Hingga kini, Pemprov Sumut bersama pemerintah daerah berupaya keras untuk menangani masalah tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA