Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Khofifah Gagas Pengembangbiakan Cendrawasih dan Kakaktua

Senin 18 Nov 2019 06:21 WIB

Rep: Dadang Kurnia / Red: Andi Nur Aminah

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Tujuan pegembangbiakan agar potensi satwa dilindungi di Indonesia tidak terus menurun

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggagas konsep kerja sama strategis tiangle antara Kawasan Ekonomi Khusus Singhasari, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, dan Universitas Brawijaya (UB) Forest. Kerja sama yang digagas dalam upaya pengembangan sektor pariwisata puspa dan satwa, serta agropolitan.

Baca Juga

Grand design-nya, Khofifah mengatakan, mengembangkan penangkaran dan budidaya hewan langka dan dilindungi. Tujuannya agar potensi satwa dilindungi di Indonesia tidak terus menurun. Di antara satwa langka yang ingin dikembangkan jika segala proses perizinanya dapat disetujui adalah penangkaran sekaligus pembudidayaan burung Cendrawasih, dan juga burung Kakatua.

"UB Forest ini luasnya lebih dari 500 hektar, sekitar tiga kilo meter. Kemudian ada KEK Singhasari, serta dekat juga dengan BBIB Singosari milik Kementan. Ini kita ingin jadikan titik-titik sinergitas antara KEK Singhasari yang punya kluster wisata, UB Forest yang punya pengembangan wisata hutan, dan juga BBIB yang punya tempat penyimpanan semen beku," kata Khofifah, Ahad (17/11).
 
Khofifah berharap adanya penangkaran yang lebih luas, terutama untuk satwa langka yang statusnya dilindungi, agar jumlahnya terus bertambah. Utamanya burung Cendrawasih dan burung Kakatua. Khofifah menyatakan, pihaknya akan kordinasi dengan BBIB, UB, dan KEK Singhasari untuk mengurus perizinan dan berbagai persyaratan ke pemerintah pusat.

Apalagi, diakuinya kerja sama serupa belum ditemukan di Indonesia. Harapannya, pemerintah pusat bisa memberikan izin budidaya burung Cendrawasih dan Kakatua di Jawa Timur.

Selanjutnya, diharapkan mendapatkan izin untuk memberikan sertifikasi burung hasil budi daya tersebut secara legal yang dapat dijual. Sehingga secara ekonomi dapat ditingkatkan dan secara populasi juga makin bertambah. "Secara scientific saya telah diskusi dengan rektor UB sekaligus Dekan Fakultas Peternakan UB yang telah melakukan berbagai riset tentang pengembangbiakan varian burung," ujar Khofifah.

Lantaran sistem yang digunakan adalah dengan sistem penangkaran dan budidaya, dipastikan tidak akan mengganggu habitat hewan tersebut. Bahkan, kata dia, akan semakin bertambah karena tujuannya adalah mengembangbiakkannya.

"Ini akan jadi sumber ekonomi baru. Karena jika ditangkar, dan dikembangbiakkan serta disertifikasi, maka secara regulasi bagi mereka yang mau memiliki hewan tersebut keabsahannya terjamin karena sah cara mendapatkannya," kata Khofifah.

Teknisnya, Khofifah menjelaskan, semen beku untuk penangkaran bisa dititipkan ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Sementara, untuk penelitian dan pengembangan bisa dilakukan oleh para dosen dan juga pihak dari UB Forest.

Sinergi ini, dikatakan mantan Menteri Sosial RI tersebut, sangat strategis. Khofifah bahkan menyebutnya adalah sinergi triangle lantaran juga jarak lokasi tiga instansi ini tidak terpaut jauh.

"Maka kita akan godok dan siapkan tim adhoc untuk triangle ini. Sementara ini kita telah membahas dengan rektor UB dan Direktur UB Forest, selanjutnya kita perluas dengan BBIB dan KEK," ujar Khofifah.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA