Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Wednesday, 2 Rajab 1441 / 26 February 2020

Ulama Minta Pelaku Pelecehan Seksual di Tasikmalaya Dibina

Selasa 19 Nov 2019 13:00 WIB

Rep: Bayu Adji/ Red: Agung Sasongko

Pelecehan seksual di transportasi umum.

Pelecehan seksual di transportasi umum.

Foto: republika
Penyimpangan seksual pelaku perlu disikapi dan dicari jalam keluar.

REPUBLIKA.CO.ID,TASIKMALAYA -- Adanya kejadian pelecehan seksual di jalan raya, yang terjadi di Kota Tasikmalaya, membuat pihak prihatin, termasuk dari kalangan ulama. Dengan julukan sebagai Kota Santri, pelecehan seksual justru terjadi di Tasikmalaya.

Tokoh ulama Tasikmalaya, ustaz Maman Suratman mengatakan, kasus pelecehan seksual merupakan tindakan yang nyeleneh dan jelas dilarang agama. Menurut dia, fenomena itu merupakan bagian dari penyakit seksual.

"Penyimpangan itu tentu perlu disikapi bersama dan dicarikan jalan keluar agar pelaku juga bisa sembuh dari penyakitnya. Karena ini juga sangat berbahaya dan ditinjau dari berbagai sisi, perbuatannya tidak patut," kata dia, Senin (18/11).

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menangkap pelaku pelecehan seksual di Kota Tasikmalaya. Penangkapan itu bermula dari laporan salah seorang korban yang mengaku telah dilecehkan oleh pelaku. Korban berinisial LR (43) dilecehkan pelaku di pinggir Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Kawalu, pada Rabu (13/11).

Berdasarkan laporan yang diterima polisi, pelaku menghampiri korban yang sedang seorang diri di pinggir jalan. Pelaku lalu melakukan onani di depan korban dan melemparkan spermanya kepada korban.

Maman mengatakan, perilaku itu disebabkan karena tidak adanya pemahaman pelaku terkait masalah seksualitas. "Kemungkinan dia sudah lama mengalami penyimpangnya. Asal muasalnya mungkin karerna terlalu banyak meninton film yang tidak pantas. Ketika tidak bisa disalurkan dengan baik dan benar, akhirnya dia melakukan dengan caranya sendiri," kata dia.

Adanya kasus itu, lanjut dia, harus menjadi pelajaran untuk setiap orang tua agar selalu mengawasi perilaku anaknya, khususnya dalam mengakses gawai. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin anak akan mengakses hal-hal yang tak sepantasnya dan mengakibatkan penyimpangan seksual.

"Mudah-mudahan tidak ada kejadian lagi. Apalagi sampai mengganggu dan melecehkan orang lain," kata pimpinan pondok pesantren Ihya As Sunnah Tasikmalaya itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA