Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Penerimaan CPNS 2019, Dindik Jatim Prioritaskan Guru Agama

Rabu 20 Nov 2019 01:52 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ani Nursalikah

Guru mengajar di kelas. (Ilustrasi)

Guru mengajar di kelas. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Guru agama tidak bisa digantikan dengan guru pelajaran lain.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memprioritaskan guru agama pada penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019. Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Hudiyono mengungkapkan, Pemprov Jatim mendapat jatah formasi CPNS 1.817 orang.

Baca Juga

Perinciannya, tenaga pendidik sebanyak 1.133 orang, tenaga kesehatan 322 orang, dan tenaga teknis sebanyak 362 orang. Hudiyono mengungkapkan alasannya memprioritaskan guru agama pada penerimaan CPNS 2019. Alasannya karena guru agama tidak bisa digantikan dengan guru pelajaran lain. Sementara, Kementerian Agama tidak menyalurkan guru agama ke sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Kemendikbud.

"Selain itu Kemenag juga tidak menyalurkan guru agama di sekolah yang berada di naungan Kemendikbud. Karena pasokan guru agama dari Kemenag disalurkan ke madrasah," ujar Hudiyono, Selasa (19/11).

Meskipun diangkat oleh Kemendikbud, nantinya guru agama juga akan disertifikasi oleh Kemenag untuk memastikan kualitasnya. Mengenai teknis penyaluran CPNS di lingkungan Dinas Pendidikan Jatim, Hudiyono mengungkapkan penyebaran akan dilakukan menyesuaikan kebutuhan sekolah.

"Diprioritaskan yang tidak ada PNS dan yang memiliki kekurangan guru paling banyak," ujarnya.

Salah satu sekolah yang mengalami kekurangan guru adalah SMAN 2 Surabaya. Kepala SMAN 2 Surabaya, Tatik Kustini mengatakan merasakan kekurangan guru karena sejumlah pelajaran prioritas saat ini juga membutuhkan guru PNS.

"Kebutuhan guru di SMAN 2 Surabaya yang mendesak untuk mata pelajaran penjasorkes, agama, fisika, kimia, matematika, dan sejarah," kata dia.

Tatik mengaku, situasi saat ini, sekolahnya hanya memiliki rata-rata satu guru di tiap pelajaran. Hal itu, menurut dia, karena guru PNS yang sebelumnya menjadi pengampu pada pelajaran dimaksud telah pensiun. Ada pula yang pindah tugas menjadi pengawas.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA