Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

MRT Bayar Listrik Rp 12 M Sebulan ke PLN

Selasa 19 Nov 2019 17:04 WIB

Red: Indira Rezkisari

Warga menaiki kereta MRT di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Senin (5/8).

Warga menaiki kereta MRT di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Senin (5/8).

Foto: Republika/Prayogi
MRT memiliki kontrak prioritas pengadaan listrik dengan PLN.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT MRT Jakarta mengeluarkan anggaran sekitar Rp 12 miliar per bulan untuk membayar tagihan listrik kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). MRT harap pembayaran yang lancar menjamin pelayanan serta operasional tak terganggu.

“Beban kita untuk listrik cukup tinggi karena sebulan sekitar Rp 12 miliar,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi MRT Jakarta Tuhiyat dalam paparannya di Jakarta, Selasa (19/11). Tuhiyat mengatakan pihaknya telah meneken kontrak dengan PLN untuk penyediaan listrik tingkat “silver class” atau diprioritaskan dibanding layanan untuk area komersial lainnya.

“Kontrak kita dengan PLN kalau di UU BUMN itu beda, murah, ini tidak. Justru lebih mahal dari komersial biasa karena kita prioritas, yang lain mati (listrik) kita tidak, kecuali ‘blackout’ (mati listrik total) seperti kemarin,” katanya.

Dia mengatakan ketersediaan listrik di MRT Jakarta ditopang oleh dua gardu PLN. “Meskipun mati, kita hidupnya lebih cepat lima jam setelahnya, yang lain baru besoknya,” ujarnya.

Tuhiyat menuturkan selain listrik (10 persen), komponen beban terbesar di antaranya yang pertama adalah penyusutan aset (42 persen), kemudian gaji dan tunjangan karyawan (22 persen), upah pegawai kontrak atau outsourching (11 persen), jasa konsultan dan asuransi (tiga persen), sewa kantor dan kendaraan (dua persen) dan pelatihan dan pengembangan (satu persen).

Sebelumnya, Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta Muhammad Effendi mengaku masih mempertimbangkan untuk membangun genset demi menopang pengoperasian kereta Ratangga MRT karena pihaknya telah berkontrak penyediaan listrik premium dengan PLN. Selain itu, lanjut dia, mati listrik total terjadi hanya dalam jangka waktu yang lama, sehingga dikhawatirkan genset tersebut justru akan menganggur sementara investasinya cukup tinggi.

“Listrik PLN ini matinya sembilan tahun sekali, di 2009 dan berapa tahun belakangan, bayangkan kalau bangun genset dan tidak dipakai-pakai sampai berapa tahun,” ujarnya.

Pasokan listrik MRT Jakarta bersumber dari dua subsistem 150kV PLN yang berbeda, yaitu Subsistem Gandul – Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah dan Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW.

Adapun, genset yang dimiliki MRT Jakarta saat ini adalah untuk pasokan listrik untuk kebutuhan keselamatan dan evakuasi di fasilitas stasiun dan di terowongan, bukan untuk pengoperasian kereta.

Kapasitas tenaga listrik cadangan (back up power) MRT Jakarta tersebut dinilai sudah cukup dan berfungsi dengan baik pada saat pasokan listrik terputus. Karena itu pada saat listrik terputus, evakuasi dapat dilakukan dengan aman.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA