Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Simon Chen Mengaku Disiksa Polisi Rahasia Cina

Kamis 21 Nov 2019 10:10 WIB

Red: Budi Raharjo

Polisi di antara asap gas air mata saat menangkap mahasiswa di area kampus Hong Kong Polytechnic University. Polisi mengepung kampus dengan ratusan mahasiswa pengunjukrasa di dalamnya

Polisi di antara asap gas air mata saat menangkap mahasiswa di area kampus Hong Kong Polytechnic University. Polisi mengepung kampus dengan ratusan mahasiswa pengunjukrasa di dalamnya

Foto: Ng Han Guan/AP Photo
Ia ditangkap dalam perjalanan menuju Cina pada bulan Agustus lalu.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Lintar Satria

Mantan staf lokal Konsulat Inggris di Hong Kong mengaku dipukuli, dilarang tidur, dan dirantai oleh polisi rahasia Cina. Laman BBC dan surat kabar Wall Street Journal melaporkan, polisi rahasia Cina ingin mendapatkan informasi tentang aktivis yang memimpin unjuk rasa pro demokrasi.

Warga Hong Kong yang bekerja di Pemerintah Inggris selama dua tahun, Simon Chen, mengaku ditahan selama 15 hari. Ia ditangkap dalam perjalanan menuju Cina pada bulan Agustus lalu.

"Saya diikat, ditutup matanya, dan ditutup kepalanya," kata laki-laki berusia 29 tahun itu kepada BBC, Rabu (20/11).

Kepada Wall Street Journal, Cheng mengatakan, ia berulang kali ditanyai tentang peran Inggris dalam gejolak yang terjadi di Hong Kong. Karena takut, Chen mengatakan, ia membuka password telepon genggam dan akun media sosialnya.

Cheng juga menyebutkan dua nama pejabat Konsulat Inggris yang ia pikir memiliki latar belakang militer dan intelijen. Ia juga memberikan beberapa perincian tentang orang-orang yang terlibat dalam unjuk rasa.

photo
Demonstran berjalan di antara kobaran api di area kampus Hong Kong Polytechnic University. Polisi mengepung kampus dengan ratusan mahasiswa pengunjukrasa di dalamnya

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengecam perlakuan Cina terhadap Cheng. Raab mengatakan, Cheng mengalami penyiksaan berat. Ia telah memanggil duta besar Cina untuk mengungkapkan kemarahan atas perlakukan terhadap Cheng.

Pada Senin (18/11) lalu Duta Besar Cina untuk Inggris Liu Xioming menuduh negara-negara asing, termasuk Inggris dan Amerika Serikat (AS), mengintervensi urusan internal Cina. Sebelumnya, para pejabat dari dua negara itu memberikan komentar atas kerusuhan yang terjadi di Hong Kong.

Hong Kong sebelumnya dikuasai Inggris. Wilayah tersebut kemudian dikembalikan kepada Cina pada 1 Juli 1997. Namun, Cina memberlakukan status khusus kepada Hong Kong yang berbeda dari Cina daratan. Kebijakan itu dikenal dengan sebutan "satu negara dua sistem". n reuters ed: yeyen rostiyani

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA