Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

BPBD: Sistem Peringatan Dini Banjir di Bantul Masih Terbatas

Kamis 21 Nov 2019 13:35 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Ilustrasi banjir.

Ilustrasi banjir.

Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Kepala BPBD Bantul menyebut early warning system banjir di wilayahnya masih terbatas

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebut early warning system atau sistem peringatan dini untuk bencana banjir yang terpasang di wilayah ini masih terbatas dan perlu ditambah.

"Early warning system untuk banjir masih sangat terbatas dan itupun juga belum teruji terkait dengan apakah EWS itu mampu betul-betul menjadi sebuah acuan untuk peringatan dini masyarakat," kata Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Kamis (21/11).

Pihaknya tidak merinci berapa titik EWS untuk banjir yang sudah terpasang. Namun diakui belum menjangkau wilayah-wilayah Bantul yang berpotensi mengalami kejadian banjir apabila terjadi hujan deras. Sementara di titik yang sudah terpasang, masih perlu pengembangan teknologi.

"Karena memang sebuah teknologi itu perlu terus pengembangan, itu terkait dengan banjir. Akan tetapi kalau yang terkait tanah longsor memang sudah ada beberapa titik EWS, kurang lebih kita sudah memasang 10 titik untuk EWS longsor," katanya.

Dwi juga mengatakan ancaman potensi tanah longsor di Bantul jumlah sebarannya masih lebih banyak jauh dari jumlah sistem peringatan dini yang saat ini terpasang. Karena itu ke depan juga perlu penambahan EWS dan inovasi teknologi yang diterapkan.

"Ke depan kita akan melihat efektivitas dari 10 EWS longsor itu. Kalau betul-betul efektif kita akan kembangkan peralatan dan menambah pemasangan di beberapa titik. Namun kalaupun nanti alat tersebut perlu evaluasi, kita akan evaluasi," katanya.

Dwi menyebut yang paling penting adalah bagaimana warga masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana baik banjir dan tanah longsor bisa mengembangkan kearifan lokalnya. Dalam artian dapat melakukan deteksi dini atau memahami tanda-tanda longsor.

"Ini yang perlu diketahui masyarakat sehingga manakala sudah mengetahui dan deteksi tanda-tanda bencana akan terjadi, masyarakat sudah bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang ada dan meminimalkan dampak korban baik jiwa maupun materi," katanya.

Ia mengimbau masyarakat jangan hanya mengandalkan peralatan yang suatu saat mungkin teknologi tersebut bisa eror atau tidak berfungsi. "Tapi justru kearifan lokal masyarakat ini yang perlu dikembangkan dan disepakati bersama terkait dengan apa yang harus masyarakat lakukan manakala ada titik-titik ataupun tanda-tanda yang memicu terjadi tanah longsor, banjir, dan sebagainya," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA