Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Ini Alasan Walkot Bandung Bagi-Bagi Anak Ayam untuk Pelajar

Kamis 21 Nov 2019 03:31 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Esthi Maharani

Anak ayam.

Anak ayam.

Foto: Pixabay
Program bagi-bagi ayam merupakan respon program revolusi mental.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengungkapkan gagasan membagikan anak ayam ke siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di 12 sekolah adalah bagian dari upaya membentuk karakter anak. Selain itu, program itu merupakan respon terhadap program pusat tentang revolusi mental.

"Kita punya konsep di Kota Bandung,  pembelajaran aktif dan kolaboratif dalam pembentukan karakter. Saya mencoba untuk anak apa bentuknya. Saya terpikir memberikan anak ayam," ujarnya di pendopo Wali Kota Bandung, Rabu (20/11).

Dirinya berharap pembagian dan memelihara anak ayam kepada siswa sebagai kegiatan ekstrakurikuler bisa membuat anak bisa lebih aktif. Sehingga usai melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah, anak bisa beraktivitas di rumah masing-masing. 

"Saya berharap pembagian dan mengurus ayam bisa terintegrasi dengan program kang Pisman. Anak mengurus dua anak ayam dan sisa nasi di rumahnya bisa dimakan anak ayam," katanya.

Capaian yang diharapkan dari pembagian anak ayam, menurutnya adalah muncul sikap kedisiplinan pada karakter anak-anak, mencintai lingkungan dan termasuk tumbuh jiwa wirausaha. Sebab jika anak ayam sudah bertumbuh bisa menguntungkan.

Tidak hanya itu, pembagian anak ayam Oded mengatakan merupakan upaya meminimalisasi penggunaan gawai pada anak-anak. Katanya, program pembagian anak ayam akan dilakukan secara simbolis Kamis (21/11) sebanyak 1.500 hingga 2.000 anak ayam.

"Sebelumnya anak-anak diberi edukasi dulu, bagaimana memelihara ayam dan mereka punya ilmu agar ayamnya tidak mati," katanya.

Ia pun meminta agar dinas terkait segera mempersiapkan rencana pembagian anak ayam. Menurutnya, selama memelihara anak ayam, akan dilakukan pendampingan dari relawan berkolaborasi dengan perguruan tinggi. "Gak boleh program dibentuk terus cicing (diam)," ungkapnya.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengatakan terlebih dahulu pihaknya melakukan sosialisasi pembagian anak ayam termasuk pembekalan kepada siswa yang ditargetkan menerima anak ayam. "Bukan pelatihan tapi sosialisasi semisal pembekalan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA