Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Krisis Air Bersih Meluas di Kuningan

Kamis 21 Nov 2019 16:36 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Friska Yolanda

Warga antre mendapatkan bantuan air bersih (ilustrasi).

Warga antre mendapatkan bantuan air bersih (ilustrasi).

Foto: Thoudy Badai
Pemerintah Kuningan terus menyalurkan air bersih di wilayah yang mengalami krisis.

REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN -- Masuknya masa pancaroba (peralihan) dari kemarau ke penghujan tak membuat kekurangan air bersih di Kabupaten Kuningan teratasi. Saat ini, kekeringan air bersih justru semakin meluas.

Baca Juga

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin, menyebutkan, sejak 9 Agustus sampai 20 November 2019, kekurangan air bersih sudah melanda 19 desa yang tersebar di 10 kecamatan.

Adapun desa-desa itu adalah Cihanjaro, Simpayjaya, Sukasari, Segong, Cileuya, Cimahi, Jambugeulis, Baok, Ciwaru, Partawangunan, Kalimanggis Wetan, Kertawana, Legok, Cibulan, Cihideung Girang, Mearjaya, Bendungan, Cipedes dan Sukarasa. "Di desa-desa tersebut ada 25.165 jiwa atau 8.131 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekurangan air bersih," ujar Agus, Kamis (21/11).

Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sepekan yang lalu, kekurangan air bersih dialami 19.473 warga atau 6.333 KK yang tersebar di 15 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Kuningan.

Untuk membantu warga yang mengalami kekurangan air bersih, lanjut Agus, pendistribusian bantuan air bersih terus dilakukan. Tak hanya dari BPBD, bantuan air bersih juga datang dari berbagai lembaga lainnya.

"Hingga kini air bersih yang telah didistribusikan totalnya sudah 2.720.500 liter," ujarnya. 

Terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati Kabupaten Majalengka, Devi Ardiansyah, menyatakan, saat ini Wilayah Ciayumajakuning, termasuk Kabupaten Kuningan, sedang berada pada masa pancaroba. "Untuk awal musim hujan di Wilayah Ciayumajakuning diprakirakan mundur dua dasarian," tutur Devi.

Devi menyebutkan, awal musim hujan di Wilayah Ciayumajakuning diprakirakan baru akan tiba pada November dasarian III hingga Desember dasarian I. Kemunduran musim hujan itu dipengaruhi faktor lokal, regional dan global.

Sementara itu, di masa pancaroba, Devi mengingatkan masyarakat di Wilayah Ciayumajakuning agar mewaspadai potensi terjadinya hujan lebat dalam durasi singkat pada siang hingga sore hari. Hujan itu biasanya disertai petir dan angin kencang. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA