Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

IDI Tolak Kerja Sama dengan Yayasan Bebas Asap Rokok

Kamis 21 Nov 2019 22:30 WIB

Red: Ratna Puspita

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) - Daeng M. Faqih

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) - Daeng M. Faqih

Foto: Republika/Putra M. Akbar
IDI nilai 'bebas rokok' merupakan upaya mengecoh masyarakat untuk pmasaran produk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan sejumlah organisasi perhimpunan dokter spesialis dan perhimpunan dokter seminat yang menjadi anggotanya menyatakan menolak bekerjasama dengan yayasan yang mengampanyekan "dunia bebas asap rokok". Sebab, yayasan tersebut dibentuk industri rokok multinasional.

Baca Juga

"Setelah berdiskusi, kami sepakat menyatakan sikap menolak kerja sama dengan industri rokok, termasuk yayasan afiliasinya, dalam bentuk apa pun demi melindungi generasi yang akan datang," kata Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/11).

Daeng menyatakan sebagai garis depan dalam menjaga kesehatan masyarakat, dokter harus mengetahui ancaman-ancaman lain yang bisa muncul dari industri yang membahayakan kesehatan. "Dunia bebas asap rokok" atau "smoke-free world" itu disinyalir merupakan strategi bisnis.

Ia mengatakan strategi itu menggunakan istilah "bebas rokok" atau "smoke-free" yang sudah digunakan lebih dulu oleh kalangan kesehatan. Dengan istilah yang mirip, kalangan kesehatan menduga industri rokok multinasional berupaya mengecoh masyarakat sebagai bagian untuk memasarkan produk tembakau baru, yaitu rokok elektronik atau tembakau yang dipanaskan.

Yayasan yang menjadi topeng pemasaran rokok elektronik tersebut disinyalir sudah masuk ke Indonesia. Bahkan, yayasan ini mulai mendekati dan membujuk lembaga-lembaga riset, akademisi, dan universitas untuk melakukan penelitian atau kampanye yang mendukung bisnis baru tersebut.

"Rokok biasa dan rokok elektronik sama berbahayanya dan sama-sama menyebabkan kecanduan. Bahkan bisa menyebabkan kecanduan ganda, yaitu kecanduan rokok biasa dan rokok elektronik," kata Daeng.

Karena itu, Daeng berharap para praktisi kesehatan di Indonesia cukup terinformasi dan mewaspadai strategi yang dilakukan industri rokok multinasional tersebut.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA