Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Bali Perlu Masterplan Pariwisata Berkelanjutan

Jumat 22 Nov 2019 23:13 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyampaikan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyampaikan

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Menparekraf menyebut Bali memerlukan masterplan untuk keberlanjutan pariwisata.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan Bali memerlukan sebuah masterplan atau rancangan besar untuk keberlanjutan pariwisata ke depan.

"Singapura punya masterplan untuk 90 tahun. Bali harus punya juga, dengan penekanan yang jelas, bukan parsial," kata Wishnutama saat menemui Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Gubernur Bali Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (22/11).

Menurut dia, meskipun telah ada rencana pengembangan destinasi bertajuk "10 Bali Baru" namun tetap saja perlu waktu untuk menjadi seperti Bali.

"Perlu penataan dan usaha panjang, bisa 10 atau bahkan 20 tahun. Bali sudah punya 'image dan brand', lewat adat dan budayanya, yang membuatnya lebih mudah untuk dikembangkan lagi," ujarnya.

Kemenparekraf, lanjut dia, sangat mendukung pengembangan pariwisata Bali termasuk infrastruktur hingga pendidikan guna menguatkan SDM jasa pariwisata.

"Kami sangat 'support', masih banyak ruang dan kawasan yang bisa dikembangkan di Bali. Seperti di Bali Utara, masih banyak yang potensial. Ini jauh lebih mudah dibandingkan merancang destinasi wisata dari nol di daerah lain," ucapnya.

Menparekraf Wishnutama dalam kesempatan pertemuan itu juga memastikan Bali tetap daya tarik utama pariwisata Indonesia.

Sementara Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik usulan masterplan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dicanangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Saya menyambut baik, terlebih Bali sedang ditata kembali, agar makin menarik bagi wisatawan. Baik dari sisi alamnya, infrastruktur maupun layanan wisatanya," katanya.

Koster meyakini pariwisata Bali yang berbasiskan budaya dan kearifan lokal harus didukung pula keamanan dan kenyamanan yang memadai.

"Beruntung, wisatawan tetap datang ke Bali. Hanya jika dibiarkan lama-lama akan stagnan. Untuk itu perlu penanganan lebih serius. Alamnya kini kita bersihkan, infrastruktur, jalan shortcut, dermaga, hingga bandara akan kita selesaikan" ujar Gubernur Koster yang dalam kesempatan tersebut juga didampingi Wagub Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati ( Cok Ace).

Yang tidak kalah penting, SDM-nya pun harus diperkuat. "Bali tidak punya minyak, gas, tambang, dan lainnya. Jadi harus betul-betul dijaga pariwisatanya sebagai tulang punggung utama," ucapnya.

Pertemuan yang sekaligus menjawab pro dan kontra tentang wacana wisata ramah Muslim di Bali itu, dihadiri pula Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo serta tokoh dan praktisi pariwisata Bali.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA