Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Pelaku Pelemparan Sperma Juga Rampas Ponsel Korban

Sabtu 23 Nov 2019 06:02 WIB

Rep: Bayu Adji/ Red: Indira Rezkisari

Polisi telah meringkus pemuda pelaku pelemparan sperma ke sejumlah wanita di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Polisi telah meringkus pemuda pelaku pelemparan sperma ke sejumlah wanita di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Foto: Wikipedia
Pelaku pelemparan sperma diduga melakukan aksinya tidak di bawah pengaruh alkohol.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Polisi masih terus melakukan penyidikan atas kasus pelemparan sperma yang ramai di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Selain melakukan pelecehan seksual kepada para perempuan, tersangka berinisial SN (25 tahun) diduga merampas telepon genggam milik salah satu korban.

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anom Karibianto mengatakan, hingga saat ini polisi telah memeriksa enam korban dari tersangka SN. Setiap korban mengalami pelecehan yang berbeda. Mulai dari dijadikan objek fantasi hingga dilempar sperma, juga ada yang dipegang payudaranya.

"Bahkan ada satu korban mengaku dirampas ponselnya," kata dia, Jumat (22/11).

Ia menegaskan, polisi masih terus mengembangkan terkait temuan baru itu. Untuk saat ini, pemeriksaan masih difokuskan pada kasus pelecehan seksual.

Menurut Anom, berdasarkan keterangan tersangka, SN melakukan perbuatannya untuk kepuasan sendiri. Modusnya, tersangka keluar rumah dan mengincar korban secara acak.

Ketika ada perempuan yang menarik perhatian, tersangka langsung mendatangi korban mengajak bicara. Ia lalu langsung melakukan aksinya.

Tersangka disebut melakukan aksinya secara sadar atas inisiatifnya sendiri. Bukan dalam keadaan pengaruh minuman beralkohol.

Berdasarkan hasil keterangan tersangka, lanjut dia, perbuatan itu telah dilakukan sejak September 2019. "Jadi dia keluar dari rumah, untuk memuaskan hasrat dia memilih korban secara acak yang dia lihat. Lalu dia datangi," kata Anom.

Untuk sementara, polisi merasa belum perlu mendatangkan psikolog untuk memeriksa kondisi kejiwaan tersangka. Pasalnya, tersangka masih dapat berkomunikasi selama pemeriksaan. Bahkan, keterangan yang didapati dari tersangka juga relevan dengan pengakuan para korban.

Atas perbuatannya, sementara tersangka diancam dengan Pasal 36 Undang-Undang (UU) Nomor 44 Tahun 2009 tentang Pornografi, Pasal 281 KUHP, dan Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Atas dasar itu, tersangka diancam dengan hukuman penjara sekitar 10 tahun.

Anom mengimbau masyarakat tak perlu takut untuk keluar rumah. Khususnya para perempuan.

Namun, kata dia, lebih baik ditemani ketika keluar rumah. Meski begitu, tidak ada masalah jika harus pergi seorang diri.

"Kalau sendiri tak usah takut, kalau ada orang tidak kenal bertanya macam-macam, tidak perlu ditanggapi. Abaikan saja," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA