Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

PSSI Surati Malaysia Soal Insiden Kuallifikasi Piala Dunia

Sabtu 23 Nov 2019 06:02 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Sejumlah orang yang tergabung dalam Aliansi Suporter Indonesia Malaysia (ASIM) berunjuk rasa di dekat pintu masuk suporter Indonesia di pintu E di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Selasa (19/11). aksi tersebut merupakan wujud keprihatinan mereka dengan PSSI yang dinilai tidak serius membenahi sepak bola Indonesia.

Sejumlah orang yang tergabung dalam Aliansi Suporter Indonesia Malaysia (ASIM) berunjuk rasa di dekat pintu masuk suporter Indonesia di pintu E di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Selasa (19/11). aksi tersebut merupakan wujud keprihatinan mereka dengan PSSI yang dinilai tidak serius membenahi sepak bola Indonesia.

Foto: ANTARA/Agus Setiawan
PSSI Surati MalaysiaTerkait Insiden Kuallifikasi Piala Dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) akan melaporkan ke asosiasi sepak bola Malaysia (FAM) semua insiden yang terkait dengan pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, Selasa (19/11). Selain itu, PSSI mengklaim, pihaknya juga sedang mendalami peristiwa lain di luar Stadion, seperti dugaan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap suporter Indonesia.

“Ada dua hal yang sedang kita lakukan. Pertama, terkait insiden yang terjadi saat pertandingan di stadion, seperti pelemparan petasan, kembang api, atau bom asap yang dilakukan suporter tuan rumah, ini sudah kami laporkan. Sementara soal dugaan penganiayaan suporter Indonesia di luar stadion ini sedang kami dalami,” kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan dalam keterangan resmi yang diterima Republika, Jumat (22/11).

Menurut pengakuan PSSI, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Atase Kepolisian Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia, Komisaris Besar Polisi Chaidir dan KBRI terkait insiden pemukulan yang terjadi pada 18 November 2019. Saat ini, proses hukum telah dijalankan di Kepolisian Malaysia. PSSI berjanji akan terus memantau dan berkoordinasi agar proses hukum berjalan dengan baik dan kejadian tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, PSSI juga sudah menerima laporan dan berkoordinasi perihal tiga suporter yang ditahan dan diperiksa karena menyebarkan berita bohong terkait isu terorisme. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) akan mengajukan permohonan akses konsuler untuk dapat menemui dan mendampingi ketiga orang tersebut.

“Jadi, semua insiden yang terkait area sepak bola, yakni pertandingan dan aktivitas di stadion, ini sudah kami laporkan. Sementara yang di luar area sepak bola kita dalami dan kita koordinasikan dengan pihak terkait,” ujar Iriawan.

Adapun, PSSI mengecam segala bentuk kekerasan dalam sepak bola. Iriawan menegaskan, saling menghormati adalah hal mendasar dalam sepak bola. “Perilaku diskriminatif selalu kami tentang. Mari kita menjunjung tinggi prinsip-prinsip 'fair-play' dan mengambil peran dalam sepak bola dengan semangat persatuan, rasa hormat, dan kesetaraan. Katakan ya untuk keberagaman, katakan tidak untuk segala bentuk diskriminasi,” kata dia.

Sementara itu, lewat media sosial pribadinya, Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali menyinggung aksi tak terpuji penggemar tuan rumah lainnya. Saat pertandingan berlangsung, menurut dia, fans Harimau Malaya melempar suar alias //flare// ke tribun suporter garuda.

Ia menegaskan, dalam regulasi FIFA, flare dilarang masuk stadion. Ia berharap Federasi Sepak Bola Malaysia terkena sanksi karena tidak bisa menjaga keamanan dan kenyamanan pertandingan.

Akmal meminta Pemerintah Indonesia turun tangan menuntaskan masalah pengeroyokan pendukung garuda. Menurut dia, komunikasi intensif kedua kubu perlu ditingkatkan. Baik antara pemerintah dan pemerintah, maupun federasi dan federasi.

Dengan begitu, menurut Akmal, persoalan tidak menjalar ke mana-mana. Apalagi, sampai permusuhan tak berujung. "Atas dasar itu, perlu dibentuk tim khusus gabungan PSSI bersama pemerintah untuk melakukan langkah strategis," ujarnya.

Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Demokrat Bramantyo Suwondo ikut mengomentari kejadian di Malaysia. "Tindakan beberapa suporter Malaysia yang memprovokasi, seperti melempar air kencing dan flare amatlah disayangkan," ujar Bramantyo, kemarin.

Seharusnya, menurut dia, sebagai sesama penikmat sepak bola sudah sepatutnya menunjukkan jiwa sportivitas dengan tidak memprovokasi para suporter tim lawan. Pernyataan sepihak oleh pengurus Stadion Bukit Jalil Malaysia juga sangat ia sayangkan. Mereka menuduh kerusakan yang dilakukan oleh suporter Indonesia harus dilihat dari dua sisi.

"Kalau ini bagian dari reaksi akibat aksi provokasi suporter Malaysia, jadinya bias juga mencari siapa yang harus bertanggung jawab," kata dia.

Daripada saling lempar tuduhan, ia menilai, ada baiknya pihak FAM dan PSSI berkomunikasi mencari solusi supaya ke depan, tindakan saling provokasi yang berujung bentrok antarsuporter tidak terjadi lagi.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA