Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Pesan Nadiem untuk Guru: Perubahan Dimulai dari Ruang Kelas

Senin 25 Nov 2019 09:15 WIB

Red: Andri Saubani

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, usai menghadiri kegiatan Apresiasi Bunda PAUD, di Balai Kartini, Jakarta, Senin (18/11).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, usai menghadiri kegiatan Apresiasi Bunda PAUD, di Balai Kartini, Jakarta, Senin (18/11).

Foto: Republika/Inas Widyanuratikah
Surat pidato Nadiem pada Hari Guru beredar viral di media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Inas Widyanuratikah, Ali Mansur, Antara

Baca Juga

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengajak para guru untuk melakukan perubahan dimulai dari ruang kelas. Pesan itu disampaikan Nadiem dalam pidato pada peringatan Hari Guru Nasional, di Jakarta, Senin (25/11).

"Perubahan tidak dapat dimulai dari atas, semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambil langkah pertama," ujar Nadiem.

Dalam kesempatan itu, Nadiem berpesan kepada guru agar melakukan perubahan kecil di kelas. Yang dimulai dari mengajak kelas berdiskusi bukan hanya mendengar, memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas, mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, menemukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri, dan tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

Ia menambahkan melalui perubahan kecil yang dilakukan dari guru, maka Indonesia akan bergerak maju. Nadiem juga menyinggung pekerjaan guru, yang terbebani masalah administratif.

Nadiem mengatakan tugas guru termulia sekaligus yang tersulit, karena ditugaskan untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Guru, kata dia, ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu guru habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Nadiem menegaskan, dirinya tidak akan membuat janji-janji, melainkan akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Tanah Air. Peringatan Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November. Peringatan Hari Guru itu bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).



Ketua Umum Ikata Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim mengatakan dirinya menilai pidato tersebut menunjukkan, Nadiem ingin menyiapkan pelajar Indonesia menjadi lebih baik. Ramli menyoroti sioal beban administratif guru.

"Beban administrasi yang begitu berat, beban ini selama ini menjadi tugas dan senjata pejabat-pejabat tertentu untuk membuat beban inspirasi guru semakin berat," kata Ramli, Ahad (24/11).

Selain itu, Nadiem juga menyebut agar anak Indonesia tidak terkungkung dengan kurikulum. Oleh sebab itu, IGI memandang diperlukannya inovasi dengan menyederhanakan jumlah mata pelajaran.

IGI, lanjut dia menangkap keinginan Nadiem untuk menempatkan guru pada posisi terhormat. Terkait hal tersebut, Ramli mengatakan IGI mendorong agar Nadiem memastikan guur-guru yang mengisi ruang kelas adalah guru yang memiliki status yang jelas.

Melalui cara demikian, lanjut dia, artinya Nadiem menempatkan guru pada tempat yang mulia sehingga guru betul-betul berkonsentrasi pada proses pembelajaran.
"Nadiem Makarim harus mampu membebaskan guru dari keterhinaan dengan pendapatan yang bahkan jauh lebih rendah dari buruh bangunan," kata Ramli.

Prinsip guru tanpa tanda jasa harus diubah, mengingat kebutuhan untuk kehidupan semakin berat. Ramli mengatakan, guru-guru Indonesia harus ditempatkan pada posisi mulia dengan diberikan pendapatan yang layak.

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bramantyo Suwondo memuji isi pidato Mekdibud Nadiem Makarim pada Hari Guru. Menurutnya, isi pidato Nadiem terlihat sudah mengenal beberapa masalah fundamental di pendidikan nasional di Indonesia.

"Saya harapkan, Nadiem bisa mem-follow up pidatonya itu dengan program-program maupun rencana kerja yang mendukung peningkatan sistem pendidikan kita," ujar Bramantyo saat dikonfirmasi Republika.co.id, Senin (25/11).

Bramantyo melanjutkan, Nadiem bisa memulai dengan pemenuhan dasar sarana prasarana pendidikan ruang kelas yang baik, fasilitas sekolah yang bagus. Karena, kata dia, jika melihat situasi yang ada di Jawa Timur maka sangat disayangkan seorang guru meninggal dunia saat menjalankan profesinya dikarenakan sekolah yang roboh.

"Semoga saja Mas Nadiem membuat kebijakan yang mengoptimalkan guru-guru untuk kegiatan belajar mengajar, bukan hal-hal yang mengenai administratif," ungkap Bramantyo.

Anggota Komisi X DPR Fraksi PDI Perjuangan Putra Nababan menyatakan, yang paling penting saat ini adalah menjadikan momentum Hari Guru dengan mengubah metode pengajaran di kelas menjadi lebih transformatif. Lewat metode partisipatif tersebut, tambah Putra, siswa menjadi lebih aktif dalam melakukan diskusi di kelas dan lebih berani untuk berbagi pengetahuan dengan teman-temannya yang lain.

"Jadi dengan metode seperti itu, guru bisa ikut mencermati perkembangan siswa dengan mudah dari waktu ke waktu. Sehingga dengan begitu guru bisa memberikan masukan agar siswa tersebut bisa semakin berkembang," kata dia..

Selain itu, guru harus menjadi role model utama juga ikut mengimplementasikan nilai-nilai etika Pancasila di sekolah. Nilai nilai murni itu harus disesuaikan dengan perkembangan net generation yang ada saat ini.

"Karena itu guru juga perlu memahami karakter net generation tersebut terlebih dahulu," katanya

Para guru perlu menyesuaikan diri dengan net generation ini. Jika masih tetap menerapkan pola-pola lama yang sudah usang maka sudah barang tentu net generation akan menganggap bahwa guru adalah sesuatu yang usang.

"Jadi perlu sekali guru juga memperbaiki kapasitas metode pengajarannya di kelas dengan metode transformatif," kata dia lagi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA