Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Anak Buruh Cuci Alami Pengeriputan Otak

Selasa 26 Nov 2019 06:19 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Perempuan sakit (ilustrasi)

Perempuan sakit (ilustrasi)

Foto: science alert
Tubuh Panggah hanya tinggal tulang, dengan kulit kering di badan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panggah Jalu Panawe (14 tahun), anak dari seorang buruh cuci, terkapar kaku tak bisa berbicara di dalam rumahnya di Jalan Swadaya I, Gang Langgar II, RT 07, RW 10, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, karena menderita pengeriputan otak. "Kondisi tersebut sudah hampir 1,5 tahun," kata Puji Utami (48) sang ibu, saat ditemui di rumahnya, Senin (25/11).

Ia mengatakan, anaknya didiagnosis oleh dokter mengalami pengeriputan otak sehingga menyebabkan motoriknya terganggu hingga terjadi kekakuan pada seluruh tubuhnya. Puji menceritakan awal mula anaknya mengalami kondisi mengenaskan tersebut pada 1 Desember 2018, Panggah jatuh pingsan dan kejang-kejang di dapur.

"Awalnya, Desember 2018, jatuh di dapur kejang-kejang, lalu dibawa ke rumah sakit Jatipadang, lalu dirujuk ke RSUD Koja," ujar Puji.

Setelah dirujuk, Panggah dirawat selama 18 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara, dari 1 sampai 19 Desember 2018. Menurut Puji, setelah dirawat, anaknya kembali pulih, dapat berjalan, dan beraktivitas seperti sedia kala, tetapi sudah tidak bisa bicara. "Dokter mengatakan obatnya hanya diterapi," kata dia.

Kondisi Panggah kambuh kembali pada Februari 2019, hingga akhirnya dibawa lagi ke rumah sakit untuk dirawat pada Mei 2019. Menurut Puji, sepulang dari rumah sakit tersebut, kondisi anaknya sudah tidak bisa berjalan dan terbaring kaku.

Kini, anaknya hanya bisa terbaring kaku di atas tempat tidur, dengan tangan tertekuk dan kaki lurus tidak bisa ditekuk. Tubuhnya hanya tinggal tulang, dengan kulit kering di badan.

Sementara itu, bagian bawah tubuhnya sudah lecet dan luka parah karena terlalu lama terbaring. Butuh perhatian. Panggah hanya bisa berinteraksi lewat mata dan sesekali berteriak seperti memanggil dengan teriakan panjang seperti mengaung.

"Ya, dia cuma bisanya begitu, alhamdulillah baru tiga hari ini dia bisa makan, beberapa hari sebelumnya hanya bisa dikasih susu lewat selang yang terpasang di hidung," ujar Puji.

Panggah juga diduga mengalami gizi kurang karena kondisinya yang terkapar terbaring di tempat tidur, tidak bisa berdiri apalagi duduk. Selama tiga hari ini, Panggah hanya diberi asupan sereal ditambah susu, seperti makanan bayi.

Puji berharap anaknya mendapat perhatian, terutama untuk membantu biaya terapi bicara dan terapi tulang, supaya anaknya bisa kembali pulih seperti semula.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA