Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Pengelola Pantai Resah Pascasistem Peringatan Tsunami Rusak

Jumat 29 Nov 2019 00:50 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Indira Rezkisari

Petugas membersihkan puing-puing rumah dan sampah pasca terjangan tsunami Selat Sunda di Kampung Teluk Nelayan I, Labuan, Pandeglang, Banten, Rabu (9/1/2019).

Petugas membersihkan puing-puing rumah dan sampah pasca terjangan tsunami Selat Sunda di Kampung Teluk Nelayan I, Labuan, Pandeglang, Banten, Rabu (9/1/2019).

Foto: Antara/Harosan Akhmad
Sistem peringatan dini tsunami Banten rusak tersambar petir.

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten menyebut sistem peringatan dini untuk bencana tsunami di Banten rusak sejak Rabu (13/11) lalu. Akibatnya, tiga sirene peringatan utama di pesisir Carita, Panimbang, dan Labuan tidak bisa berbunyi jika terjadi situasi bencana.

Salah seorang pengelola pantai pasir putih carita, Pandeglang, Endah Warsasriwenda mengatakan pemerintah Kecamatan Carita sudah memberikan imbauan terkait alat peringatan tsunami yang rusak. ia  mengaku waswas dengan kemungkinan bencana tsunami.

"Sudah tahu dari Camat Carita, sudah dikasih infonya kalau alatnya rusak. Kita sebagai orang yang dekat pantai waswas ya, memang keselamatan dari Allah, tapi kan kalau ada alat itu kita lebih tenang," ungkap Endah, Kamis (28/11).

Ia berharap alat  bisa segera dalam kondisi baik, terlebih dalam waktu dekat akan menghadapi libur Natal dan tahun baru. "Sebentar lagi kan ada libur, orang-orang bakal ke sini. Harapannya alatnya bisa cepat benar lagi biar kita tenang di sini," jelasnya.

Ketua Balawisata Banten Ade Erwin menyebut belum ada instruksi khusus dari BPBD Provinsi Banten akibat rusaknya sistem peringatan tsunami. "Balawisata memang tidak memakai sistem peringatan dini itu. Kita kan punya pos-pos sendiri dalam bekerja yang dilakukan sesuai Rencana kontijensi (Renkon). Balawisata memang tugasnya di pinggir pantai dan memang sirene tidak sampai pos kita, jadi dampaknya biasa saja," kata Ade.

Ade menyebut hingga kini belum ada penyiagaan petugas balawista secara khusus akibat rusaknya alat peringatan tsunami ini. Namun, ia mengharap agar alat teraebut bisa dalam kondisi optimal pada libur Natal dan tahun baru.

"Sekarang memang tidak terlalu berdampak sih, karena jarak sirene satu dan yang lain itu berjauhan. Puluhan kilometer bahkan, posisinya juga tidak sampai ke pos kita. Dan yang sudah-sudah juga pengalamannya tidak memakai sirene itu. Tapi ketika liburan Natal dan tahun baru itu penting sekali, karena lebih efektif," tuturnya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banten, M. Juhriyadi membenarkan sistem peringatan dini bencana tsunami di Banten rusak. Kerusakan sistem Pusat Pengendalian Operasi dan  Penanggulangan Bencana (Pusdalops) ini terjadi lantaran antena sistem tersebut yang rusak karena angin kencang dan petir yang melanda Kota Serang pada Rabu (13/11).

"Server yang ada di Pusdalops itu kan dia menggunakan sistem jaringan satelit, nah antenanya tersambar petir. Jadi karena kerusakan ini, alat peringatan di Labuan, Panimbang itu tidak menyala," jelas M. Juhriyadi.

Untuk penanganan sementara, ia mengatakan telah berkoordinasi dengan pelaku usaha hingga warga yang ada di pesisir untuk memantau informasi bencana langsung di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). "Sudah saya hubungi, kalau ada informasi potensi tsunami dari BMKG atau dari melihat kondisi air laut agar (sirene peringatan tsunami) langsung dinyalakan secara manual," jelasnya.

Ia juga sudah berkoordinasi dewan masjid, agar surau dan masjid yang ada di pesisir juga bersiaga terhadap informsi bencana. Kentungan, hingga pengeras suara yang ada rumah ibadah tersebut dikatakannya bisa difungsikan warga saat adanya informasi bencana. "Kalau di lapangan kita sudah berkoordinasi dengan dewan masjid, agar kearifan lokal bisa dimaksimalkan. Misalnya kentungan di surau-surau itu bisa dipakai untuk peringatan warga," terang Juhriyadi.

Kerusakan sistem peringatan tsunami ini dikatakan Juhriyadi baru pertama kali terjadi dan telah dilaporkan ke BMKG pusat. Meski begitu, ia mengakui belum bisa mengatakan waktu selesainya perbaikan sistem.

"Sudah kita laporkan kerusakannya, cuma memang belum punya target timeline, karena yang akan memperbaiki kan langsung dari BMKG pusat," jelasnya.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA