Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Wamenhan Ajak Umat Islam Teladani Perjuangan Rasulullah.

Senin 02 Dec 2019 07:07 WIB

Red: Agung Sasongko

Wakil Menteri Pertahanan Wahyu Sakti Trenggono. Foto Ilustrasi

Wakil Menteri Pertahanan Wahyu Sakti Trenggono. Foto Ilustrasi

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Rasulullah SAW merupakan sosok yang pantang menyerah, displin, dan pribadi sempurna.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Habib M Luthfi Ali bin Yahya di Gedung "Kanzus Sholawat", Pekalongan, Ahad kemarin.

Acara tersebut juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, Wakasad Letjen TNI Tatang Sulaiman, dan Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi.

Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono mengajak umat Islam untuk mengenal lebih dekat sosok keteladanan, kedisiplinan, perjuangan, semangat pantang menyerah serta kepribadian yang sempurna pada diri Nabi Muhammad SAW.

Tema peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, adalah "Dengan Hikmah Maulid Nabi, Merah Putih Tidak Melupakan Sejarah-Kadar Bobot Iman Seseorang Tergantung Cintanya Kepada Rasulnya, Kadar Bobot Cinta Tanah Air Tergantung Kepada Cinta Kepada Bangsanya".

"Tema ini mengandung makna bahwa Maulid Nabi yang dalam dunia kita terus diperingati setiap kelahiran beliau (setiap tanggal 12 Rabiul Awwal) bukan lagi sebuah kesemarakan seremonial belaka, tapi sebuah momen spiritual untuk menegaskan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita," katanya.

Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW, substansi dari peringatan Maulid Nabi adalah mengukuhkan komitmen loyalitas pada Nabi Muhammad SAW.

Sakti mengingatkan, Maulid Nabi adalah bagian dari cinta terhadap bangsa dan negara atau hubbul wathan. Kecintaan seseorang terhadap Tanah Air merupakan tanda keimanan seseorang terhadap Tuhan dan Nabinya. Oleh karena itulah, masyarakat diajarkan tidak meninggalkan sejarah.

"NKRI bukan politik. Tapi jati diri kita, NKRI harga mati. Harga diri kita, kehormatan kita. Kadar bobot iman seseorang, tergantung kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kadar bobot cinta Tanah Air tergantung cinta kepada bangsanya sehingga kecintaan seseorang terhadap Tanah Air merupakan tanda keimanan seseorang terhadap Tuhan dan Nabinya," ujarnya

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA