Kamis, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 Desember 2019

Kamis, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 Desember 2019

BPOM Denpasar Utamakan Awasi Parsel Jelang Nataru

Selasa 03 Des 2019 10:21 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Pedagang Parcel (ilustrasi)

Pedagang Parcel (ilustrasi)

Foto: Fakhri Hermansyah
Pengawasan untuk melihat peningkatan yang terjadi baik distribusi ataupun konsumsinya

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- BBPOM Denpasar mengutamakan pengawasan parsel menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Tujuannya untuk melihat peningkatan yang terjadi baik distribusi ataupun konsumsi jumlahnyadi Bali.

Baca Juga

"Kalau tahun baru kan tentu kita utamakan pengawasan parsel lebih intens apa ada peningkatan dikonsumsi atau distribusinya. Tapi kalau di Bali sih enggak terlalu menyolok, justru di Hari Raya Galungan, Kuningan itu yang distribusi jajan tradisionalnya meningkat," kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, usai Media Gathering di Denpasar, Senin (2/12) malam.

Ia mengatakan langkah pengawasan konkret yang dilakukan berupa pengawasan intensif pada distribusi makanan. Salah satunya seperti menjelang Lebaran beberapa waktu lalu, pihaknya menuturkan telah melakukan pengawasan parsel dan makanan terkait dari produk kedaluarsa ada atau tidaknya dijual dan juga produk rusak kemasan.

Selain itu, ke depannya BBPOM Denpasar akan meningkatkan pengawasan tidak hanya pangan. Tetapi juga pada obat-obat tradisional dan kosmetik. Caranya dengan melakukan pengujian. "Pengujian terhadap pangan dan kosmetik di setiap tahun kita lakukan. Ada 3.500 sampel obat makanan yang kita sampling dan kita uji untuk ditindaklanjuti harus sesuai hasil pengujian," jelasnya.

I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengatakan untuk pangan sering ditemukan bahan berbahaya terutama pada pangan tradisional. Sedangkan untuk kosmetik adanya bahan berbahaya yang dilarang seperti mengandung hidrokinon, merkuri dan retinoat dan pada di obat tradisional dilarang adanya penambahan bahan kimia obat.

"Persyaratannya obat tradisional kan harus semua dari herbal. Tapi ini ditambahkan zat kimia misalnya obat tradisional itu obat flu lalu ditambahin parasetamol, kalau untuk pegal linu ditambahin piroxicam dan asam mefenamat itu kan enggak boleh, sayangnya itu masih kita temukan di Bali," ucapnya.

Menurutnya, untuk pangan di Bali sudah tidak ditemukan lagi yang mengandung Rhodamin B dan boraks atau formalin. Kecuali pada ikan teri yang berukuran kecil. Ia juga mengajak masyarakat bersama mengawal agar pangan di Bali tetap aman dan tidak ditemukan lagi makanan dengan kandungan berbahaya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA