Thursday, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 December 2019

Thursday, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 December 2019

Mengapa Bisa Ditemukan Granat di Kawasan Monas?

Selasa 03 Dec 2019 14:30 WIB

Red: Andri Saubani

Anggota Labfor Mabes Polri mengumpulkan barang bukti di TKP ledakan di kawasan Monas, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Anggota Labfor Mabes Polri mengumpulkan barang bukti di TKP ledakan di kawasan Monas, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Dua anggota TNI luka setelah insiden meledaknya sebuah granat asap di Monas.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Flori Sidebang, Desy Suciati Saputri, Intan Pratiwi

Baca Juga

Ledakan terjadi di sekitar area Monas, Jakarta Pusat, Selasa (3/12) pagi. Informasi kali pertama diterima Republika dari Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, ledakan itu bukanlah upaya bunuh diri. "Bukan (bom) bunuh diri," kata Yusri saat dikonfirmasi, Selasa.

Keterangan resmi kemudian dirilis Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono di lokasi kejadian. Gatot mengatakan, ledakan yang terjadi di sekitar area Monas, Jakarta Pusat, pagi ini disebabkan oleh granat asap. Gatot menyebut, ledakan itu terjadi sekitar pukul 07.16 WIB, tepatnya di bagian sisi utara Monas.

"Ini diduga granat asap yang meledak," kata Gatot kepada wartawan di Monas, Selasa (3/11).

Gatot mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi ataupun rekaman CCTV. Hal itu dilakukan untuk menyelidiki dari mana asal granat tersebut.

"Perkembangan bagaimana, kita tunggu Labfor teman-teman yang menyeldiki di lapangan. TKP nanti dibuka setelah olah TKP. Kita kumpulkan info barang (granat asap) dari mana nanti akan sampaikan lebih lanjut," ujar Gatot.

Akibat ledakan itu, sambung dia, dua anggota TNI yang sedang berolahraga di sekitar TKP mengalami luka. Kini keduanya mendapatkan perawatan medis di RSPAD Gatot Soebroto.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang pascaledakan granat asap tersebut. "Kami imbau ke masyarakat tenang saja, enggak usah khawatir. Situasi Jakarta kami amankan dan enggak ada kejadian lebih jauh," kata Gatot.

"Kita dalami kenapa granat itu ditemukan," ujar Pangdam Jaya Mayor Jenderal Eko Margiyono.


Panglima Daerah Militer Jayakarta (Pangdam Jaya) Mayor Jenderal Eko Margiyono yang juga berada di lokasi mengatakan, dua anggota TNI yang menjadi korban ledakan granat adalah Sersan Kepala (Serka) Fajar dan Prajurit Kepala (Praka) Gunawan. Ia pun memaparkan kondisi dua korban yang mengalami luka saat ledakan Monas terjadi.

"Korban atas nama Serka Fajar kemungkinan tangan kiri (terluka) parah," kata Eko saat konferensi pers di Monas, Selasa (3/12).

Eko mengungkapkan, korban pertama ini yang diduga menemukan granat asap dengan menggunakan tangan kiri. Meski demikian, sambung dia, kondisi Serka Fajar saat ini masih dalam keadaan sadar.

Sementara itu, korban kedua, yakni Praka Gunawan mengalami luka ringan di bagian paha. Saat ini, kedua korban tersebut masih menjalani perawatan medis di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Eko pun menegaskan, yang meledak adalah granat asap. Hingga saat ini Polri dan TNI masih menyelidiki lebih lanjut terkait ledakan itu.

"Kami sampaikan ini bukan sesuatu yang luar biasa ditemukan granat asap. Kita dalami kenapa granat itu ditemukan," kata Eko.

photo
Anggota Labfor Mabes Polri mengumpulkan barang bukti di TKP ledakan di kawasan Monas, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Pengamanan Istana

Pengamanan Istana Presiden tidak diperketat menyusul insiden ledakan granat asap di Monas. Komandan Paspampres Maruli Simanjuntak menyampaikan hal itu kepada wartawan.

"Enggak ah, bomnya aja belum jelas apa. Ledakan aja masih dicek gitu," kata Maruli saat dikonfirmasi, Selasa (3/12).

Menurut dia, pengamanan harian untuk area Istana Presiden masih cukup kuat. Sehingga, penambahan pasukan dinilai belum diperlukan saat ini.

Maruli mengatakan, pasukan Paspampres sudah ditugaskan untuk mengantisipasi peristiwa ledakan seperti yang terjadi di sekitar Monas.

"Kita kan pengamanan harian sudah cukup kuat. Enggak perlu. Kecuali kalau massa besar baru. Kalau yang begitu kita cukup kuatlah. Enggaklah, itu sudah cukup kuat untuk accident itu, kita sudah antisipasi. Sudah cukup kuat," kata dia.

Maruli belum dapat memastikan apakah akan dilakukan penutupan jalan di sekitar Istana. Menurut dia, penutupan jalan biasanya diperlukan oleh kepolisian untuk melakukan penyelidikan.

"Bukan dari kita. Mungkin kalau memang arahnya ada kesengajaan, perlu alat-alat bukti untuk itu, mungkin kepolisian yang mengurus itu. Tapi sampai dengan saat ini belum ada jelas apa itu yang meledak," jelas Maruli.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman memastikan bahwa aktivitas di istana tidak terganggu. Ia juga menjelaskan bahwa tidak ada peningkatan pengamanan di istana.

"Istana sih baik baik saja. Itu kami di istana juga gak ada pengamanan diperketat," ujar Fadrjoel di Kantor Kemenko Maritim, Selasa (3/12).

Fadjroel juga menjelaskan Presiden pun melakukan aktivitas seperti biasa. Ia memerinci sedari pagi Presiden sudah melakukan serangkaian pertemuan dengan para Menteri dan tamu negara lainnya.

"Pukul 09.30 tadi Pak Presiden ketemu dengan Menristek, lalu ketemu sama rektor UI. Ada tamu dari jepang juga. Semua aman aman saja," ujar Fadjroel.

Namun, kata Fadjroel Presiden meminta agar kasus ledakan tersebut bisa diusut secara tuntas. Presiden meminta agar semua pelaku dan motif ledakan bisa diusut dan pelaku ditindak tegas.

"Pak Jokowi pesan, apa pun yang yang melandasi kejadian tersebut siapa pun pelakunya harus ditindak tegas," ujar Fadjroel.

photo
Seekor kucing melintas di TKP ledakan di kawasan Monas, Jakarta, Selasa (3/12).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA