Thursday, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 December 2019

Thursday, 8 Rabiul Akhir 1441 / 05 December 2019

COP25 Peringatkan tak Ada Jalan Kembali pada Perubahan Iklim

Rabu 04 Dec 2019 01:07 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Dwi Murdaningsih

Perubahan iklim (Ilustrasi)

Perubahan iklim (Ilustrasi)

Foto: PxHere
Perubahan iklim membuat jutaan anak mengalami kelaparan.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Permasalahan krisis akibat perubahan iklim semakin dianggap serius oleh para pemimpin politik dan diplomat. Mereka bertemu di Madrid selama dua pekan untuk melakukan perundingan di tengah meningkatnya  krisis iklim.

Baca Juga

Dilansir di laman BBC, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres membuka pembicaraan mengenai hal itu dengan sebuah peringatan. “Kita tidak ada jalan kembali lagi jika kita telah mengalami perubahan iklim,” kata dia.  

Sementara itu, organisasi Save the Children juga menyebut, guncangan iklim telah menyebabkan jutaan orang di Afrika menghadapi kelaparan. Badan amal itu mengatakan 33 juta orang berada pada tingkat darurat kerawanan pangan akibat topan dan kekeringan.

Suhu permukaan rata-rata dunia meningkat dengan cepat karena aktivitas manusia yang menyebabkan gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2). Gas-gas ini memerangkap panas di atmosfer, mirip seperti atap kaca rumah kaca.

Konferensi para pihak ini disebut COP25. Konferensi ini seharusnya dijadwalkan diadakan di Chile, dan dibatalkan oleh pemerintah setempat selama berpekan-pekan karena ada gangguan sipil.

Pertemuan tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan ambisi dan dorongan kepada semua negara untuk meningkatkan komitmen nasional mereka untuk mengurangi emisi. Negara Spanyol kemudian melangkah untuk menjadi tuan rumah acara tersebut, yang akan diikuti oleh 29 ribu peserta selama dua minggu perundingan.

Sebelumnya, Guterres mengatakan krisis iklim sudah dekat. Dia menyebut para pemimpin politik harus merespons.

"Dalam 12 bulan ke depan yang krusial, penting bagi kami untuk mengamankan komitmen nasional yang lebih ambisius, terutama dari penghasil emisi utama, untuk segera mulai mengurangi emisi gas rumah kaca dengan kecepatan yang konsisten untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050,” kata dia. 

Dia mendorong negara-negara harus berhenti menggali dan mengebor, serta berhenti mengambil keuntungan dari kemungkinan luas yang ditawarkan oleh energi berbasis terbarukan dan solusi berbasis alam. Hampir setiap negara di dunia kini telah menandatangani dan meratifikasi perjanjian iklim Paris dan berdasarkan ketentuan pakta tersebut, mereka semua harus meletakkan janji iklim baru di atas meja sebelum akhir 2020.

Pertemuan di Madrid ini menandakan dimulainya 12 bulan perundingan yang akan memuncak di Glasgow dengan COP26 pada November tahun depan. Sekitar 50 pemimpin dunia diperkirakan akan menghadiri pertemuan di ibukota Spanyol.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA