Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Bamsoet Mundur, Airlangga Bakal Melenggang Mulus?

Rabu 04 Dec 2019 08:17 WIB

Red: Budi Raharjo

Tiga bakal calon ketua umum Golkar, Bambang Soesatyo, Indra Bambang Utoyo, dan Agun Gunandjar, berbicara soal pengunduran diri mereka di Rumah Makan Sate Khas Senayan, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Selasa (3/12) sore.

Tiga bakal calon ketua umum Golkar, Bambang Soesatyo, Indra Bambang Utoyo, dan Agun Gunandjar, berbicara soal pengunduran diri mereka di Rumah Makan Sate Khas Senayan, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Selasa (3/12) sore.

Foto: Republika/Arif Satrio Nugroho
Empat nama dinyatakan lolos seleksi caketum Golkar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) akhirnya menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan ketua umum pada Musyawarah Nasional (Munas) Golkar 2019. Pernyataan pengunduran diri tersebut dilakukan setelah ia dan pejawat Ketum Golkar Airlangga Hartarto bertemu senior Golkar yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Maritim, Luhut Binsar Panjaitan, Selasa (3/12) sore.

"Dengan ini, saya mengundurkan diri dari pencalonan ketum Golkar," tutur Bamsoet di Kemenko Maritim, Selasa (3/12). Ia beralasan, mundurnya dari pencalonan setelah mendapat pertimbangan dari para senior partai. Apalagi, kata Bambang, situasi ekonomi politik saat ini membutuhkan stabilitas.

"Ini cara kami menyelesaikan masalah. Ketika senior kasih pendapat. Kami yang muda, patuh. Kami mematuhi Pak Ical, Pak Agung, Pak Akbar, dan Pak Luhut," ujar Bambang.

Baca Juga

Ia juga menilai, saat ini yang terpenting adalah menjaga persatuan Golkar. Ia mengedepankan kepentingan Golkar agar partai tetap solid dan maju. "Untuk menjaga persatuan dan mendengarkan saran senior. Saya enggak bisa melawan. Kepentingannya agar Golkar solid dan maju," kata dia.

Ketua MPR tersebut mengatakan, ada sejumlah alasan yang membuatnya mundur. Pertama, ia tidak ingin kondisi Golkar menjelang munas makin memanas.

Kedua, Bamsoet menginginkan situasi politik nasional yang stabil demi menjaga pertumbuhan ekonomi. Ketiga, nasihat para senior, termasuk organisasi sayap yang menaunginya. Keempat, semangat rekonsiliasi itu sendiri. "Semangat rekonsiliasi yang telah kita sepakati bersama, di antara kedua tim, tim saya dan Airlangga sepakat untuk membangun rekonsiliasi anatara tim Bamsoet dan tim Airlangga," ujar dia.

Bamsoet pun menegasakan, pengunduran diri ini tak mudah. Ia mengaku, keputudan ini adalah keputusan yang sangat sulit. "Inilah pengorbanan kita. Saya kira demikian. Mulai hari ini tidak ada kubu pro Bamsoet, yang ada kubu Golkar, yang ada kubu Indonesia maju," ujar Bamsoet.

Pejawat Ketum Golkar Airlangga Hartarto mengapresiasi keputusan Bamsoet yang sesuai dengan harapan senior partai agar munas berjalan dengan solid dan kokoh. “Saya mengapresiasi keputusan tersebut, ini contoh konkret kedewasaan Partai Golkar,” tutur Airlangga.

Airlangga menambahkan, kedua pihak sudah bersepakat untuk membuat munas yang adem untuk menjaga kestabilan politik nasional. Ia menjanjikan akan membangun Golkar bersama dengan Bamsoet. “Dengan kita bersatu, seluruh kekuatan kita ada. Saya dan Pak Bambang jadi bisa pesawat double engine,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) berharap partai ini bisa lebih solid. Ia menilai, persatuan Golkar penting untuk mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo.

Terlebih, kondisi politik nasional dibutuhkan untuk mendukung kondisi ekonomi. Ical mengimbau para pendukung caketum bisa menjaga soliditas agar tidak ada lagi kubu-kubu di dalam partai. "Sehingga dengan demikian kita lakukan visi yang jelas," ujarnya.

photo
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (kedua kanan), bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kedua kiri) dan Ketua Penyelenggara Munas Golkar Melchias Marcus Mekeng (kiri) membuka acara Musyawarah Nasional ke-10 Partai Golkar, di Jakarta, Selasa (3/12).


Utusan presiden

Loyalis Bamsoet, Ahmadi Noor Supit, mengaku dirinya dan Nusron Wahid mendampingi Bamsoet bertemu Airlangga Hartarto, Selasa (3/12) pagi. Ia menuturkan, dalam pertemuan tersebut, Airlangga didampingi Menteri Sosial Agus Gumiwang, dua tokoh senior Golkar, serta seorang utusan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Ada utusan Presiden di sana. Saya kira, clear-nya di sana dan Pak Luhut sebagai senior Partai Golkar, ketemu dengan Aburizal Bakrie, tapi clear-nya (rekonsiliasi) sudah di tempat bersama Pak Airlangganya tadi pagi,\" ujar Supit saat ditemui di bilangan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Selasa (3/12).

Terkait perincian identitas utusan presiden itu, Supit tak mau berterus terang. Sumber Republika menyebut utusan tersebut adalah seorang perwira bintang dua yang pernah menjadi ajudan Presiden Joko Widodo. Supit menolak berbicara secara perinci dan hanya tertawa. "Jangan lah, kita kan tidak enak," kata dia sambil tertawa.

Supit mengakui, peran utusan tersebut cukup krusial. Bahkan, menurut dia, perannya lebih krusial dari Luhut dalam memoderasi rekonsiliasi Bamsoet dan Airlangga. "Oh iya (lebih krusial)," kata dia.

Lokasi pertemuan antara tim Bamsoet dan Airlangga itu disebut berada di sebuah restoran, di bilangan Blok M Jakarta Selatan. Pengunduran diri Bamsoet di kantor Kemenko Kemaritiman, bersama Luhut, Airlangga, dan Aburizal Bakrie dinilai sebatas pengumuman.

Bakal caketum Golkar, Indra Bambang Utoyo, juga mengakui, meski dirinya mencalonkan diri, ia menjadi orang yang turut mendukung Bamsoet di munas. Ia menyebut, ada imbauan dari Presiden yang tidak bisa ditolaknya.

"Setelah ada imbauan Bapak Presiden, tiba-tiba saudara Bamsoet mengatakan saya harus mengambil langkah yang tidak enak segala macam. Tadinya kami marah. Tapi, kita pikirkan konsekuensi kalau ini bisa pecah," ujar dia.

Sementara itu, berdasarkan data Komite Pemilihan Caketum Golkar, sebanyak empat nama dari sembilan bakal caketum tidak memenuhi syarat. Mereka adalah Indra Bambang Utoyo, Ahmad Anama, M Aris Mandji, dan Derek Loupatty. Sementara kelima bakal caketum dipastikan lolos syarat sebagai, yaitu Airlangga Hartarto, Ridwan Hisjam, Ali Yahya, dan Agun Gunandjar Sudarsa. N intan pratiwi/febrianto adi saputro ed: agus raharjo

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA