Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Kemenkes Minta Warga Jabodetabek Waspadai Hepatitis A

Kamis 05 Dec 2019 04:52 WIB

Rep: Laeny Sulistyawati/ Red: Dwi Murdaningsih

Hepatitis A

Hepatitis A

Foto: dok Republika
Kasus Hepatitis A di Depok berpotensi menyebar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan, hingga Bekasi (Jabetabek) mewaspadai penyebaran penyakit hepatitis A yang saat ini sedang terjadi di Depok. Apalagi, sebanyak 171 orang positif menderita penyakit tersebut.

Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono, semenjak pertama kali menerima laporan hepatitis A di Depok pada 21 November 2019 lalu, pihaknya menemukan 262 kasus yang menunjukkan gejala dan tanda hepatitis A.

Baca Juga

"Kemudian kami mengadakan Rapid diagnostic test (RDT) kadar IgM dan IgG anti HAV. Hasilnya 171 orang terinfeksi hepatitis A," ujarnya saat temu media mengenai follow up Hepatitis A di Depok, di Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Rabu (4/12).

Ia menyebutkan penderita adalah murid-murid di SMP 20 Depok, murid-murid di pesantren. Tetapi, ia mengaku belum ada yang meninggal dunia, hanya sebanyak 22 orang sempat dirawat. Kini mereka telah dipulangkan.

Kendati demikian, ia meminta masyarakat waspada karena kasus ini berpotensi bisa menyebar tidak hanya di Depok melainkan juga wilayah sekitarnya.

"Jakarta diminta waspada, Tangerang Selatan juga waspada, Bogor, dan Bekasi jadi satu kesatuan yang harus kita waspadai dengan kejadian ini (hepatitis A di Depok) karena berpotensi menyebar kalau tidak melakukan apa-apa. Jadi ini bukan perkara Depok saja," katanya.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan monitoring kasus ini. Sebab, dia melanjutkan, masa inkubasi virus ini bisa selama dua bulan. Kemudian meski pihaknya mendapatkan laporan kasus terakhir hepatitis A yang muncul 28 November 2019 lalu, pihaknya terus berupaya mengungkap kasus dan melakukan pemantauan.

Saat ini monitor tidak hanya di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) Rangkapan Jaya yang jadi tempat pertama penemuan kasus melainkan juga seluruh wilayah di Depok.

"Selain itu komunikasi juga dilakukan jajaran kesehatan, kemudian melakukan tata laksana hepatitis A di Depok," ujarnya.

Ia menambahkan, tidak ada stok logistik obat khusus untuk penyakit ini karena obatnya hanya istirahat cukup. Kemudian, dia melanjutkan, untuk mencegahnya dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA