Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Hamied Wijaya: Semangat Ibadah dalam Dunia Kerja

Ahad 08 Dec 2019 12:36 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Maman Sudiaman

Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo 1 M Hamied Wijaya saat di Wawancarai Republika, Selasa ( 26/11).

Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo 1 M Hamied Wijaya saat di Wawancarai Republika, Selasa ( 26/11).

Foto: Republika/Prayogi
Kinerja para pegawai adalah satu faktor kunci di balik pertumbuhan perusahaan

REPUBLIKA.CO.ID, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I merupakan suatu badan usaha milik negara (BUMN) yang terus bertumbuh. Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pelindo I Hamied Wijaya meyakini, kinerja para pegawai adalah satu faktor kunci di balik pertumbuhan perusahaan. Baginya, hubungan antara direksi dan karyawan penting untuk dijaga. Selain itu, nilai-nilai agama dapat menguatkan semangat kebersamaan.

Oleh karena itu, pihaknya mendukung berbagai aktivitas keagamaan di lingkungan PT Pelindo I Medan. Bagaimana nilai-nilai Islam menginspirasi suasana kerja di korporasi bidang jasa pelabuhan itu? Berikut petikan wawancara wartawati Republika, Ratna Ajeng Tejomukti, dengan Direktur SDM PT Pelabuhan Indonesia, Medan, Hamied Wijaya baru-baru ini. Tulisan hasil wawancara diramu Hasanul Rizqa, redaktur Republika.

Bagaimana Anda menemukan sisi religiositas dalam dunia kerja?

Saya berpikir, sebagai pekerja kita telah menghabiskan waktu, dari pagi hingga malam, untuk bekerja. Nah, bekerja pun sebenarnya dinilai menjadi bagian dari ibadah sehari-hari.

Ada satu pengalaman yang menginspirasi saya. Suatu saat, saya dinas, tinggal di Medan (Sumatra Utara). Saya rutin (shalat) jamaah ke masjid. Saat ada pemilihan, jamaah di sana meminta saya untuk menjadi ketua (takmir masjid). Awalnya, saya menolak karena saya tidak dapat setiap hari aktif di masjid. Aktivitas saya juga mobile antara Jakarta, Medan, dan Yogyakarta.

photo
Shalat berjamaah di lingkungan Pelindo I Medan. Foto: Republika/Heru Supryatin

Namun, dengan berbagai pertimbangan saya pun menerima. Saya mengupayakan pengelolaan masjid sesuai kemampuan saya. Masjid Nurul Huda, namanya. Ketika awal kepengurusan takmir, saya mulai memperbaiki fasilitas-fasilitas yang ada, seperti karpet agar diperbarui jadi lebih tebal, menambahkan pendingin ruangan, dan memperbaiki beberapa bagian bangunan.

Selain itu, kami juga menggunakan infak tidak hanya untuk perawatan masjid, tetapi juga membantu kesejahteraan guru-guru mengaji atau ustaz yang mengajar di masjid itu. Setiap hari, kami juga menyediakan air minum untuk musafir yang singgah. Setiap Jumat, biasanya ada jamaah yang memberikan sedekahnya hingga 400 paket roti untuk jamaah shalat.

Mungkin biasanya masjid-masjid melarang orang tidur, mandi, atau makan di sana. Kami malah membuka selebar-lebarnya rumah Allah ini untuh singgah musafir. Biasanya, mereka itu adalah sopir ojek online yang beristirahat. Kami tidak pernah khawatir dengan adanya mereka yang singgah. Justru ini menjadikan masjid semakin ramai. Sebab, mereka bisa beristirahat sebelum atau sesudah shalat berjamaah berlangsung.

Tidak masalah jika (area masjid) kotor. Kami toh menyediakan tempat sampah. Selama ini pun mereka yang singgah tidak pernah merusak masjid atau mengotori. Sebab, mereka juga paham fungsi masjid dan berkomitmen untuk menjaganya.

Pengalaman saya itulah yang antara lain kemudian menggerakkan saya sebagai direksi (SDM) PT Pelindo I ini. Saya meyakini, dalam bekerja pun kita sebagai Muslim, ya sebenarnya beribadah juga, asalkan niatnya ikhlas untuk Allah Ta’ala.

Bagaimana Anda mengajak para karyawan untuk ikut dalam semangat “kerja adalah ibadah”?

Saya tidak pernah berubah sejak jadi pegawai di tahun 1993, lalu menjadi direksi tahun 2014. Dari dahulu, ya begini saja. Tidak ingin dilayani berlebihan. Tidak mau kasar dengan anak buah.

Ketika saya bekerja di Jakarta, saya selalu menginap di Hotel Sofyan Cikini, salah satu hotel yang berprinsip syariah di Jakarta. Sebab, tidak hanya dekat dengan kantor saya, tetapi juga dekat dengan masjid. Saya bisa setiap saat shalat berjamaah di masjid. Saya berharap, dengan melihat seperti itu, para anak buah merasa tidak ada jarak dengan saya karena merasa sama-sama sebagai Muslim.

Hobi juga bisa jadi faktor kebersamaan. Hobi saya bukan yang, katakanlah, mahal. Saya bermain sepak bola, tenis, bulu tangkis, bersama-sama anak-anak buah dan kawan-kawan saya. Mereka pun jadi sering datang dan curhat kepada saya. Dalam kesempatan seperti itu, saya bisa mengajari mereka arti integritas, yakni dengan melakukan yang pertama kali. Seperti bagi pegawai Muslim, saya contohkan dengan menjadi imam shalat masjid di masjid dekat kantor dan berkumpul di masjid bersama mereka sesudah shalat usai.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA