Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Dicari, Dirut Garuda yang Amanah

Senin 09 Dec 2019 04:02 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sejumlah karangan bunga memenuhi kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (6/12). Karangan bunga menjadi dukungan atas kebijakan pemecatan Dirut Garuda.

Sejumlah karangan bunga memenuhi kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (6/12). Karangan bunga menjadi dukungan atas kebijakan pemecatan Dirut Garuda.

Foto: Thoudy Badai_Republika
Publik kecewa karena Dirut Garuda menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan pribad

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Indira Rezkisari*

Ari Ashkara. Nama tersebut sedang menjadi perbincangan hangat di Tanah Air. Mereka yang masih penasaran dan memutuskan mengetik nama Ari Ashkara di mesin pencarian mungkin akan langsung menemukan tautan untuk mengetahui tentang profil Ari dan sosok wanita yang disebut sebagai kekasih gelap Ari.

Kasus pemecatan Dirut Garuda ini memang membuat pembacanya geleng-geleng kepala. Sebagai pejabat tinggi perusaha milik negara, negara lho ya, yang artinya hasil usahanya ditujukan untuk kepentingan penduduk Indonesia, Ari diduga menyalahgunakan jabatannya dengan membawa pulang sepeda lipat mahal dan motor ber-cc besar tanpa melaporkannya secara resmi.

Baca Juga

Kedua barang yang identik dengan gaya hidup mewah alias bukan bagian dari kebutuhan utama seorang manusia,

Rumor mengenai penyalahgunaan jabatan tersebut berseliweran di dunia maya. Mulai dari kabar keputusan pemilihan rute penerbangan yang tidak lazim, hingga isu kartel tiket yang membuat harga tiket pesawat sulit turun sejak era Ari Ashkara menjabat.

Banyaknya karangan bunga dari pihak-pihak internal, yang mendukung keputusan Menteri BUMN Erick Thohir memecat Dirut Garuda Ari Ashkara, pun menambah keyakinan publik, kalau ada yang salah di dalam aspek kepimpinan Garuda. Karangan bunga untuk Erick bahkan jelas menyebut ucapan terima kasih karena sudah membersihkan Garuda dari oknum petinggi yang disebut ‘kaleng-kaleng’ atau artinya tidak berkelas.

Jangan lupa pula kasus rekayasa laporan keuangan Garuda Indonesia. Di awal tahun ini, Garuda memaparkan mencatat keuntungan di laporan keuangannya. Temuan BPK berkata lain.

Anggota I BPK, Agung Firman Sampurna menyebut secara tegas laporan keuangan Garuda direkayasa. BPK menyebut ada dugaan kuat laporan keuangan Garuda direkayasa atau ada unsur financial engineering.

Setelah sebelumnya disebut mencatat laba 5 juta dolar AS, Garuda membuat kembali laporan keuangan dengan hasil catatan adanya kerugian 175 juta dolar AS atau Rp 2,45 triliun. Laporan keuangan baru yang dipaparkan ke publik di pertengahan tahun ini membuat Garuda diganjar denda sebesar Rp 1,25 miliar. Perusahaan negara seperti BUMN pasalnya dilarang membuat laporan keuangan yang tidak benar.

Menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah. Butuh pengalaman, kesehatan, kekuatan iman dan ilmu agar perusahaan yang dibawahinya bisa memberi manfaat besar.

Dikutip dari tulisan Prof. KH Didin Hafidudin di Khazanah Republika.co.id, beliau menyebut Rasulullah SAW dalam sebuah hadis meramalkan akan datang suatu zaman ketika umara (pemerintah) tidak lagi memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Saat itu ulama tidak lagi menjadi suluh benderang di tengah-tengah umat.

Kata Rasul, akan datang melanda umatku di mana pemimpin yang berkuasa berlaku bagai (sifat) singa, para pembantunya bagai (sifat) serigala, para ulamanya bagaikan (sifat) hewan, rakyatnya bagai kan (sifat) domba.

Hadis Nabi mengisyaratkan perlunya kehati-hatian dalam memilih pemimpin. Pengalaman sering kali membuktikan bahwa pemimpin yang mencari kekuasaan, meski dibungkus dengan janji-janji untuk menyejahterakan rakyat, tetapi kalau semua itu tidak ikhlas dan istiqamah maka kekuasaan yang dipegangnya menjadi sumber petaka, tidak saja bagi sendiri tetapi bagi masyarakat secara keseluruhan.

Islam menggariskan empat sifat yang minimal harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang berakhlak. Yaitu siddiq, tabligh, amanah, dan fathanah. Siddiq adalah lurus dan bisa dipercaya. Tabligh bermakna kemampuan menyampaikan kebenaran. Amanah ialah bertanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Sedang fathanah artinya cerdas dalam arti mampu menjalankan kekuasaan dengan baik dan benar. Timbulnya kegaduhan, penyalahgunaan wewenang, dan kebijakan yang menyusahkan rakyat, salah satu penyebab adalah pemimpin miskin akhlak.

Sebagai perusahaan milik negara Garuda memang ditargetkan meraup untung. Keuntungan dibutuhkan negara untuk membangun banyak sektor.

Mungkin Ari Ashkara lupa kalau Indonesia sudah memiliki Rencana Kerja Pemerintah di tahun 2020 dengan lima prioritas. Lima agenda besar pemerintah itu minimal membutuhkan uang sebesar Rp 337,3 triliun.

Bappenas di Agustus 2019 sudah menetapkan lima prioritas pemerintah dengan rincian pembangunan manusia dan pengentasan kemiskinan anggarannya Rp 157,1 triliun, lalu infrastruktur dan pemerataaan wilayah Rp 75,5 triliun, nilai tambah sektor riil, industrial, dan kesempatan kerja sebesar Rp 24,4 triliun, ketahanan pangan, air, energi, dan lingkungan hidup Rp 43,7 triliun, dan stabilitas pertahanan dan keamanan sebesar Rp 36,6 triliun.

Kerugian Rp 2 triliun oleh Garuda tentunya berdampak ke pembangunan di Tanah Air. Penyelundupan sepeda Brompton dan Harley dengan indikasi kerugian negara Rp 500 juta hingga Rp 1,5 miliar tentu juga merugikan negara.

Mungkin lagi nih, Ari Ashkara lupa kalau ia menduduki jabatan publik yang butuh untung demi anak keluarga miskin di pelosok Indonesia, demi pembangunan jalan tol, atau demi biaya pengobatan keluarga miskin yang pendapatannya pasti jauh dari gaji Dirut Garuda yang mencapai Rp 3,7 miliar setahun.

Bukan, tulisan ini tidak bermaksud mengkerdilkan pekerjaan petinggi BUMN sehingga ia harus digaji kecil. Tapi petinggi negara harus ingat di balik gajinya yang besar ada rakyat prasejahtera yang butuh bantuan.

Bantuan dari mana? Dari negara yang lalu membutuhkan uang agar bisa membuat program bagi masyarakatnya.

Semoga pemimpin baru Garuda nantinya akan amanah, bermoral, dan memikirkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

* Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA