Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Greta Thunberg: Kita tidak Bisa Terus Begini

Senin 09 Dec 2019 16:19 WIB

Rep: Lintar Satria/Kiki Sakinah/ Red: Indira Rezkisari

Aktivitis remaja Greta Thunberg membawa papan bertuliskan

Aktivitis remaja Greta Thunberg membawa papan bertuliskan

Foto: AP
Greta Thunberg kembali mengkritik pemimpin dunia agar peduli krisis lingkungan hidup.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Aktivis lingkungan hidup Greta Thunberg sekali lagi mengkritik pemimpin dunia yang berkumpul di pertemuan COP25 di Madrid. Greta memandang pemimpin dunia tidak cukup bersikap untuk menghentikan krisis ekologi yang merusak planet.

"Kita sudah melakukan protes selama setahun lebih dan pada dasarnya tidak ada yang terjadi,'' kata Greta. Krisis lingkungan, sambungnya, masih tetap diacuhkan oleh mereka yang berkuasa. "Kita tidak bisa terus begini."

Greta, dikutip dari CNN, mengatakan aksi seperti yang digagasnya tidak bisa terus dilanjutkan. "Kami suka bila ada tindakan dari mereka yang berkuasa. Orang-orang menderita dan sekarat akibat perubahan iklim, kami tidak bisa menunggu lebih lama."

Greta mengingatkan kalau sangat tidak mungkin bagi siapapun untuk tahu seperti apa dunia 10 tahun mendatang. Karena itu ia berharap pertemuan COP25 di Madrid, Spanyol, bisa menghasilkan kebijakan konkrit.

Sebanyak 25 ribu orang dari 200 negara akan berada di Madrid untuk menghadiri COP25. Agenda lingkungan hidup yang berlangsung hingga 13 Desember 2019 itu adalah pertemuan terakhir sebelum 2020, tahun diberlakukannya Perjanjian Iklim Paris.

Upaya Greta Thunberg dalam mengampanyekan isu-isu terkait pemanasan global dan perubahan iklim mendapat dukungan dari aktivis di berbagai penjuru. Gadis berusia 16 tahun asal Swedia itu tiba di Madrid pada Jumat (6/12) pagi untuk berpartisipasi dalam sebuah aksi pawai. Aksi pawai ini dipimpin oleh puluhan perwakilan masyarakat adat Amerika Latin.

Aksi adalah tanda penghormatan setelah protes anti-pemerintah di Cile yang awalnya akan menjadi tuan rumah KTT tersebut. Namun, KTT iklim tiba-tiba dipindahkan ke Eropa untuk tahun ketiga berturut-turut.

Dalam aksi unjuk rasa itu, Thunberg dari panggung mengatakan bahwa perubahan tidak akan datang dari orang-orang yang berkuasa. Menurutnya perubahan itu akan datang dari massa. Kerumunan massa yang ikut pawai lantas meneriakkan nama Greta.

Menurut pihak penyelenggara, pawai ini diikuti oleh sekitar 500 ribu orang. Namun, pihak berwenang di Madrid menetapkan angka 15 ribu tanpa penjelasan langsung atas perbedaan dalam hitungan tersebut.

Di hari pertama pawai, Thunberg langsung diikuti oleh segerombolan kamera dan wartawan serta anggota masyarakat yang ingin melihat dan merekamnya di ponsel mereka. Thunberg sudah mencuri perhatian sejak ia keluar dari kereta dari Lisbon, Portugal. Ada pula yang membawa dan membentangkan spanduk bertuliskan 'Hanya 8 tahun hingga 1,5 derajat Celcius Bagaimana Anda berani?'

Namun, antusiasme mereka yang ikut pawai untuk melihat Thunberg lebih dekat rupanya membuat gadis ini diminta untuk menarik diri dari kerumunan pawai. Thunberg dituntun untuk segera menarik diri setelah dimulainya pawai. Polisi menyarankannya untuk pergi demi keselamatan.

Baca Juga

photo
Infografis Greta Thunberg.


Thunberg pun bergegas naik ke mobil listrik. Seorang juru bicara kepolisian Madrid yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa Thunberg disarankan untuk pergi setelah ia tampak kewalahan dalam riuhnya teriakan dan perhatian terhadapnya. Polisi juga dikatakan tidak pernah memerintahkan aktivis remaja ini untuk meninggalkan pawai dengan alasan keamanan.

Dengan kehadiran Thunberg di Madrid, tuntutan untuk tindakan yang lebih besar dari organisasi non-pemerintah dan generasi baru dari aktivis berwawasan lingkungan diharapkan mendapatkan sorotan. Sebab, Thunberg telah mendapat apresiasi atas upayanya dalam memperjuangkan isu-isu terkait perubahan iklim.

Thunberg dikenal karena kiprahnya dalam mengampanyekan isu-isu terkait pemanasan global dan perubahan iklim.  Thunberg pertama kali menjadi terkenal tahun lalu setelah ia mengadakan aksi mogok sekolah sebagai protes terhadap perubahan iklim yang terjadi.

Aksi protes yang dilakukannya di luar gedung parlemen Swedia setiap Jumat itu mendapatkan perhatian dunia dan menginspirasi siswa sekolah di seluruh dunia untuk ikut ambil bagian dalam aksi tersebut. Pada Desember 2018, lebih dari 20 ribu siswa telah melakukan aksi mogok sekolah di setidaknya 270 kota.

Greta meraih perhatian dunia setelah mengarungi samudera Atlantik demi tiba di Amerika. Kembalinya Greta ke Eropa, yakni ke Madrid, juga dilakukannya dengan mengarungi Atlantik.

Sebelum meninggalkan Amerika untuk menuju Madrid, ia meninggalkan pesan sederhana. "Pesan saya ke rakyat Amerika sama seperti ke semua orang, yakni bersatu mendukung sains dan bertindak atas sains," kata Thunberg, dikutip pertengahan November.

Bagi Greta isu lingkungan hidup adalah krisis dunia. "Kami harus menyadari ini adalah krisis, dan kami harus melakukan apa yang dapat sekarang kami lakukan untuk menyebarkan kesadaran tentang hal ini dan untuk menekan orang-orang yang berada di kursi kekuasaan, dan terutama, AS akan segera pemilihan umum, dan sangat penting bagi semua orang bisa memilih, untuk memilih," kata Thunberg, dilansir dari The Guardian.

Ia pun berlayar ke Madrid, Spanyol, setelah batal menghadiri negosiasi perubahan iklim internasional di Cile. Negeri Amerika Latin diterpa gejolak politik.

Thunberg kembali ke Eropa dengan perahu katamaran bersama Riley Whitelum dan Elayna Carausu, pasangan selebritas YouTube yang berlayar dengan bayi mereka. Perahu yang ditumpangi Thunberg menggunakan tenaga surya dan turbin air.  

Mereka berlayar dari Hampton, Virginia, AS. Berjalanan menuju Eropa memakan waktu selama berminggu-minggu tergantung cuaca. Thunberg meminta tumpangan ke Spanyol di media sosial dan ia hanya mendapatkan beberapa respons karena akhir tahun.

"Kami telah melihat indahnya planet ini dengan mata kepala sendiri dan berpikir harus ada sesuatu yang kami lakukan untuk melindunginya, ini sesuatu yang lebih kami perhatian sejak kami memiliki anak," kata Whitelum dalam pernyataanya.  

Publik pun berharap perjuangan Greta tidak sia-sia. Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan pembahasan di COP25 menandai tidak adanya titik kembali di perjuangan kemanusiaan melawan perubahan iklim. Karena itu delegasi akan mencoba mencapai kesepakatan dalam perdagangan emisi yang disebut pakar bisa mengurangi gas rumah kaca.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA