Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Bonus Demografi Bisa Percepat Pengentasan Kemiskinan

Senin 09 Dec 2019 18:54 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Kemiskinan, ilustrasi

Kemiskinan, ilustrasi

Foto: Republika
Mencontoh Cina, penguatan sektor pertanian di desa dapat menurunkan angka kemiskinan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bonus demografi dapat dimanfaatkan untuk percepatan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Founder dan Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Hendri Saparini menyampaikan ini telah teruji di beberapa negara seperti Jepang, Cina, Thailand hingga Vietnam.

Baca Juga

"Mereka memanfaatkan bonus demografi untuk mempercepat pengentasan kemiskinan," kata dia dalam Indonesia Poverty Outlook 2020 IDEAS Dompet Dhuafa, di Wisma Antara, Jakarta, Senin (9/12).

Cina bisa menurunkan angka kemiskinannya dari 65 persen menjadi 10 persen saat ini. Cina fokus di sektor pertanian selama 10 tahun untuk meningkatkan kelas penduduk desanya. Pada 2007, jumlah kelas menengah di Cina mencapai 53,9 persen atau 636 juta orang dan mayoritas berada di pedesaan.

Pemberdayaan di desa membuat penduduk tidak perlu pindah ke kota untuk peningkatan pendapatan. Jepang juga mengalami bonus demograsi puluhan tahun lalu dan penduduknya mengalami peningkatan pendapatan signifikan dengan menggenjot manufaktur 2.0.

Dengan banyaknya penduduk usia produktif, segmen manufaktur siap menyerap tenaga kerja sehingga produksi dalam negeri meningkat pesat. Di Indonesia, Hendri melihat tren yang mengkhawatirkan. Tidak hanya lapangan kerja yang tidak siap, juga masuknya era disrupsi 4.0 yang tidak lagi membutuhkan banyak tenaga manusia.

Bonus demografi di Indonesia masih baru akan terjadi menuju puncaknya. Namun, jumlah pengangguran tertinggi malah berasal dari usia produktif. Banyaknya pekerja sektor informal di kelas usia tersebut juga membuat rawan peningkatan angka kemiskinan.

"Semua sektor industri produksi harusnya lebih dari 40 persen jika mau menurunkan angka kemiskinan, Cina sekarang 44 persen PDB disumbang manufaktur," katanya.

Posisi manufaktur Indonesia terus turun dari 29 persen menjadi kini 19 persen. Jika sektor produksi ini tidak bergerak, maka akan sulit menciptakan lapangan kerja. Apalagi memasuki era 4.0, peranan tenaga manusia kini semakin minimal.

Dulu perlu kinerja satu juta orang untuk menumbuhkan ekonomi satu persen. Kini cukup dengan 250 ribu orang. Disrupsi digital bisa menjadi ancaman yang berat atau peluang yang sangat signifikan.

"Kita butuh formula dan strategi yang betul-betul pas, agar bonus demografi ini juga bisa mempercepat pengentasan kemiskinan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA