Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Survei BNPT 2019: Potensi Radikalisme Secara Nasional Turun

Selasa 10 Dec 2019 19:38 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Ratna Puspita

Kepala BNPT Suhardi Alius (kedua dari kanan) sedang memaparkan hasil Survei BNPT 2019 di Hotel Mercure, Jakarta Utara, Selasa (10/12)

Kepala BNPT Suhardi Alius (kedua dari kanan) sedang memaparkan hasil Survei BNPT 2019 di Hotel Mercure, Jakarta Utara, Selasa (10/12)

Foto: Republika/Febryan A
BNPT menyatakan radikalisme bisa menjangkiti laki-laki maupun perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) 2019 mendapati bahwa Indeks radikalisme">Potensi Radikalisme secara nasional menurun. Kendati demikian, BNPT mengaku tak akan menurunkan intensitas dalam mencegah radikalisme dan terorisme.

Baca Juga

Survei yang dilakukan di 32 provinsi itu mendapati indeks potensi radikalisme srcara nasional tahun 2019 berada di angka 38,43 (skala 0-100). Sedangkan tahun 2017 ada di angka 55,12.

Artinya, potensi radikalisme secara nasional mengalami penurunan sebesar 16,69 poin. "Kesimpulannya, terjadi pergeseran dari kategori potensi sedang ke potensi rendah," kata Kepala BNPT Suhardi Alius saat rilis hasil survei di Jakarta, Selasa (10/12).

Suhardi mengatakan, indeks potensi radikalisme secara nasional memang menurun, tapi pihaknya tak mau cepat berpuas diri. "Teorinya, semakin banyak kita offensive, maka secara kuantitas akan berkurang. Tapi secara kualitas bisa saja menonjol. Oleh karena itu, kita tidak boleh under estimate," ucapnya.

Berdasarkan potensi radikalisme tersebut, survei itu juga mememetakan wujud potensi radikalisme di tengah masyarakat Indonesia. Yakni potensi radikalisme pada dimensi sikap ada di angka 56,08, dimensi pemahaman dengan skor 53,71, dimensi tindakan dengan skor 5,51. 

"Indeks pada dimensi sikap dan pemahaman masuk dalam kategori sedang, namun untuk indeks pada dimensi sikap masuk dalam kategori sangat rendah," ujar Suhardi.

Selain itu ditemukan bahwa radikalisme tidak bias gender. Sebab radikalisme bisa menjangkiti laki-laki maupun perempuan. Indeks potensi radikalisme pada laki-laki sebesar 38,45 dan perempuan sebesar 38,42.

Survei BNPT 2019 dilakukan pada bulan April hingga Juli 2019. Secara metodologi, sampel dalam riset ini diambil dengan menggunakan Teknik Multistage Cluster Random Sampling dengan rumah tangga sebagai unit terkecil. 

Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka kepada 15.360 responden di 32 provinsi, dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Kriteria responden adalah mereka yang berusia diatas 17 tahun. 

Secara nasional, margin of error riset ini sebesar 0,79 persen pada selang kepercayaan 95 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA