Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Novel Baswedan Optimistis Kasusnya Bisa Diselesaikan

Rabu 11 Dec 2019 02:00 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Muhammad Hafil

Penyidik KPK Novel Baswedan saat mengisi diskusi Anti Korupsi di PKM Universitas Andalas, Padang, Selasa (10/12)

Penyidik KPK Novel Baswedan saat mengisi diskusi Anti Korupsi di PKM Universitas Andalas, Padang, Selasa (10/12)

Foto: Republika/Febrian Fachri
Novel Baswedan berharap Jokowi menggunakan kekuatannya.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tetap optimistis kasus penyiraman air keras yang ia alami dapat terselesaikan secara terang benderang. Menurut Novel, ia tak boleh pesimistis karena bila kasusnya dibiarkan terbengkalai, akan membawa preseden buruk bagi penegakkan hukum di Indonesia.

"Kalau optimis ya bagaimana ya, ini sudah hampir tiga tahun. Kalau pesmistis, ya pasa pesimis," kata Novel di Kampus Universits Negeri Andalas, Padang, Selasa (10/12).

Novel berharap Presiden Joko Widodo menggunakan kekuatan dan wewenangnya menggerakan institusi penegak hukum menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap dirinyaa. Begitu juga harapan Novel terhadap Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis yang baru menjabat.

Novel mengatakan beban karena kasus ini berada di pundak Presiden dan institusi Polri. Bukan pada dirinya.

"Bebannya ada pada beliau-beliau itu, bukan di saya. Kalau beliau-beliau ini pilih jalan yang buruk, beliau-beliau itu menulis sejarah yang buruk buat dirinya dan bangsa," ujar Novel.

Baca Juga

Novel berkomentar mengenai pernyataan Kapolri Idham Azis yang menyebut kasusnya menemui jalan terjal atau kegelapan dalam penuntasannya.

Menurut Novel, sebenarnya masalah penyelesaian kasusnya hanya tergantung dari sikap dari para pejabat seperti Presiden dan Kapolrii apakah mau memanfaatkan tantangan atau menutupi suatu keadilan yang seharusnya ditegakkan.

"Beliau (Kapolri) memilih jalan untuk mengungkap dengan segala tantangan  dengan keberpihakan kepada peradaban atau kemanusiaan, atau ia memilih jalan untuk menutupi keadilan. Kita tak boleh biarkan pilihan penegak hukum untuk menutupi suatu keadilan," kata Novel menambahkan.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA