Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Rencana Lokananta Kembali Cetak Piring Hitam

Kamis 12 Dec 2019 04:45 WIB

Rep: Binti Sholikah/Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Petugas merapikan sub master piringan hitam lagu Indonesia Raya saat Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya di Lokananta, Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/10/2017).

Petugas merapikan sub master piringan hitam lagu Indonesia Raya saat Pameran Arsip Lagu Indonesia Raya di Lokananta, Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/10/2017).

Foto: Antara
Tahun depan Lokananta sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk 'Reborn'.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Perusahaan rekaman musik milik negara, Lokananta, berencana mencetak kembali piringan hitam atau vinyl. Piringan hitam dianggap masih diminati di era saat ini.

Kepala Perum PNRI Cabang Surakarta Lokananta, Marini, mengatakan, studio di Lokananta masih difungsikan untuk rekaman. Berdasarkan rencana bisnis ke depan, pada 2020 manajemen menjalankan Lokananta Reborn.

"Harapannya kami kembali mencetak piringan hitam lagi. Apalagi di dunia banyak peminatnya. Apalagi piringan hitam sulit untuk dibajak," kata Marini kepada wartawan saat jumpa pers di Lokananta, Solo, Jawa Tengah, Rabu (11/12).

Dia menjelaskan, dari sisi kajian bisnis, manajemen memasuki tahap studi kelayakan atau feasibility studi (FS). Beberapa bulan lalu, Lokananta mengikuti pameran di Belanda dan bertemu dengan komunitas vinyl. Dari informasi beberapa peserta, komunitas vinyl kesusahan mencari piringam hitam.

"Mereka ingin cari vinyl vintage. Kami melihat di pasaran masih diminati. Kami masih dalam proses apakah bisa dikomersialkan dari PNRI," imbuhnya.

Saat ini, rencana tersebut sudah dalam proses tahap awal. Namun, manajemen memperkirakan dibutuhkan investasi sekitar Rp 3 miliar sampai Rp 4 miliar untuk pengadaan mesin. Dia mengakui kemampuan Lokananta untuk mengadakan sendiri masih berat. Karenanya, Lokananta akan menggandeng mitra.

"Piringan hitam diproduksi dari tahun 1956 sampai 1971. Dari tahun itu industri sudah beralih ke kaset. Mereka lebih meminta kaset. Akhirnya kami beralih dari piringan hitam ke kaset," ungkap Marini.

Marini menambahkan, saat ini Lokananta masih melakukan produksi kaset. Produksi kaset per bulan masih berjalan mencapai sekitar 2.000 kaset per bulan. Namun, semakin lama Lokananta hampir tidak terdengar gaungnya. Bahkan, generasi muda sebagian tidak ada yang mengetahui mengenai Lokananta.

Karenanya, manajemen ingin mengangkat kembali Lokananta dan menunjukkan Lokananta masih ada. Strateginya diselaraskan dengan kondisi sekarang. Lokananta memiliki unit bisnis baru, di antaranya Lokananta Terace Cafe, dan Mini Coffe Shop. Selain itu, juga diadakan kegiatan sepekan sampai empat kali seperti pentas musik Koes Plus dan tembang kenangan.

"Lokananta berupaya untuk terus berbenah dengan mengembangkan ruang kreatif atau creative space untuk seniman dan musisi Kota Solo. Selain itu, juga sebagai salah satu destinasi wisata edukasi, khususnya di bidang musik, Lokananta menerima kunjungan dari pelajar maupun umum," ujarnya.

photo
Pengunjung melihat benda koleksi yang dipamerkan di Museum Lokananta, Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/2). Lokananta merupakan perusahaan rekaman musik pertama Indonesia yang dirintis Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero pada 29 Oktober 1956 yang memproduksi dan duplikasi piringan hitam hingga cassette audio.


Marini memaparkan, selama kurun waktu lebih dari setengah abad, Lokananta telah berhasil mendokumentasikan ribuan karya audio yang bersumber dari beragam karya seni serta peristiwa peristiwa bersejarah. Lokananta menyimpan ribuan aset audio bersejarah seperti, master audio Proklamasi, rekaman resmi pertama "Indonesia Raya", Pidato Kebangsaan Presiden Soekarno, dan master-master lagu daerah seluruh Indonesia, salah satunya "Rasa Sayange".

Ketika berdiri pada 1956, Lokananta awalnya mengemban tugas untuk memproduksi sekaligus mendistribusikan materi siaran untuk Radio Republik Indonesia (RRI) dalam bentuk piringan hitam untuk kemudian disebarluaskan ke RRI seluruh lndonesia. Kepala Jawatan RRI saat itu, R Maladi, berinisiatif mendirikan pabrik piringan hitam dengan harapan agar lagu barat tidak mendominasi siaran RRI.

Pada 29 Oktober 1956 pukul 10.00 WIB Lokananta resmi berdiri dengan nama lengkap Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Solo.

Nama Lokananta merujuk pada seperangkat gamelan surgawi dalam cerita pewayangan Jawa yang bisa berbunyi sendiri dengan nada yang indah. Seperangkat gamelan yang berada di Lokananta saat ini, yaitu Gamelan Sri Kuncoro Mulyo dipercaya merupakan gamelan yang paling mendekati trah dari gamelan surgawi Lokananta.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, bidang usaha Lokananta kemudian berkembang menjadi label rekaman dengan spesialisasi pada lagu daerah, pertunjukan kesenian, juga penerbitan buku dan majalah. Nama-nama besar seperti Gesang, Sam Saimun, WaIdjinah, Buby Chen, dan Jack Lesmana pernah menjadi bagian dari institusi yang kemudian bernama Perusahaan Negara Lokananta tersebut.

Selain koleksi lagu-lagu daerah, Lokananta juga menyimpan rekaman penting sejarah perjalanan bangsa Indonesia, seperti sub-master pidato proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang ternyata direkam pada 1951 dan dikirim ke Lokananta pada 1959 untuk digandakan. Lalu rekaman lagu kebangsaan Indonesia Raya versi instrumental gubahan Jos Cleber dengan durasi dan lirik untuk tiga stanza. Serta pidato Ir Soekamo saat pembukaan Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung pada 1955.

Medio 1970-an hingga akhir 1980-an menjadi momen keemasan Lokananta. Keputusan untuk beralih format dari medium piringan hitam ke kaset pada tahun 1972 berdampak positif. Setiap bulan, Lokananta mampu melepas 100 ribu keping kaset di pasaran dan disambut baik oleh publik.

Pada 1985, dengan diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko, Lokananta memiliki studio untuk menggelar rekaman live dengan tata akustik mangan yang mumpuni. Studio Lokananta merupakan studio terbesar di Indonesia sampai saat ini. Saat ini tercatat sudah ada 5.000 master Iagu dalam pita reel yang telah ditransfer dalam bentuk berkas digital.

photo
Koleksi piringan hitam di Lokananta Solo


Lokananta saat ini berubah wujud menjadi wadah yang menampung energi seni dari lintas generasi. Mulai dari solois pop Glenn Fredly, sextet pop independen White Shoes and The Couples Company, grup ska/reggae Shaggydog, kolektif Pandai Besi, bahkan Slank menjadi representasi generasi musik Indonesia hari ini yang pernah mewarnai Lokananta.

Lokananta juga memfasilitasi musisi-musisi independen yang ingin merilis format rekaman analog dalam bentuk kaset yang bisa diperbanyak sesuai keinginan. Selama 2015, Lokananta menerima pesanan duplikasi kaset hingga 3.000 keping tiap bulannya.

Selain itu, Lokananta menyediakan tempat untuk berbagai macam kegiatan. Tidak hanya untuk pentas musik dan pentas seni lain, juga dapat pula digunakan untuk kegiatan diskusi, workshop, seminar, photoshoot area, wedding, dan lain sebagainya.

Rekaman Slank
Bukan tanpa alasan Grup musik Slank memutuskan merekam album mereka di Studio Lokananta Solo. Tahun ini album berjudul Slanking Forever keluar Agustus lalu.

"Lokananta ini karena Slank ingin tempat itu ditengok, ini kan tempat bersejarah dan setelah membuat proyek kreatif ini, tempat itu jadi ramai lagi," ujar vokalis Slank Kaka mengutarakan alasan membuat album di tempat itu.

Kaka menceritakan, keputusan memboyong Bimbim, Ridho, Ivanka, serta dirinya ke Solo karena mempertimbangkan penggarapan album yang harus fokus. Ketika mereka melakukan perekaman di Potlot, biasanya akan terputus-putus dengan kegiatan lain.

Padahal, menggarap proyek besar perlu energi yang harus sama dan berkelanjutan. Untuk itu, dengan melangkahkan kaki ke jauh dari tempat tinggal membuat fokus penyelesaian album menjadi lebih cepat dan fokus.

"Pas rekaman di Potlot kan energinya dingin pas pulang ke rumah, kalau di luar kan bisa terus lanjut," ujar Kaka.

Selain itu, Slank pun ingin tempat yang dulunya pabrik pembuatan vinyl itu mulai diperhatikan kembali oleh banyak pihak. Terlebih lagi, tempat tersebut memiliki sejarah panjang bagi Indonesia.

Di tahun 2012 Glenn Fredly juga pernah merilis album DVD Live berjudul Glenn Fredly & Bakucakar Live from Lokananta. Album tersebut berisi 11 lagu Glenn yang direkam secara langsung di Studio Lokananta. Penggemar Glenn bisa melihat isi studio Lokananta, karena pengambilan gambarnya adalah di dalam studio tersebut.




BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA