Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Monday, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 February 2020

Terbongkarnya Kasus Harley, Bukti Penguatan Peran Komisaris

Selasa 10 Dec 2019 13:37 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolanda

Petugas mengecek barang bukti temuan Motor harley Davidson saat konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).

Petugas mengecek barang bukti temuan Motor harley Davidson saat konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).

Foto: Thoudy Badai_Republika
Peran komisaris merupakan perpanjangan tangan kementerian di perusahaan BUMN.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara menjadi perbincangan hangat dalam sepekan terakhir menyusul kasus penyelundupan motor Harley Davidson bekas dan dua sepeda Brompton dalam pesawat baru Airbus A330-900. Akibat hal tersebut, Ari diberhentikan dari jabatan Direktur Utama Garuda Indonesia.

Baca Juga

Beragam spekulasi muncul di tengah polemik penyelundupan motor Harley Davidson bekas dan dua sepeda Brompton dalam pesawat baru Airbus. Di tengah sorotan publik, Ari terkesan bungkam dari awak media. 

Republika.co.id telah berulangkali meminta penjelasan dari Ari tentang polemik yang terjadi di tubuh Garuda Indonesia melalui sejumlah media, mulai dari telepon, sms, hingga aplikasi pesan singkat WhatsApp (WA) sejak Jumat (6/12). Saat ditelepon, nomor Ari tidak aktif. Pun dengan SMS yang tidak kunjung mendapat balasan. Sementara melalui WA, pesan pertanyaan konfirmasi dikirim Republika.co.id pada Jumat (6/12) pukul 16.40 WIB.

photo
Petugas mengecek barang bukti temuan Motor harley Davidson saat konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12).

Pesan dalam tanda centang dua yang menandakan telah terkirim. Hingga 20 menit kemudian pesan tersebut tak kunjung berbalas. Republika.co.id kembali mengajukan pertanyaan pada pukul 16.00 WIB. Namun tanda pesan menunjukkan centang satu yang menandakan pesan tidak terkirim.

Pada Senin (9/12), Republika.co.id kembali menghubungi WA Ari. Namun tetap dengan centang satu dan tidak terkirim.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Mahendra Sinulingga mengatakan Ari Askhara juga belum mendatangi Kantor Kementerian BUMN sejak kasus ini bergulir hingga sekarang. "Kan enggak perlu ya, ngapain," kata Arya di usai seminar bertajuk "BUMN Going Global Strategy and Action Plan di Hotel Novotel Cikini, Jakarta, Selasa (10/12).

Arya menyampaikan Kementerian BUMN memang belum berkomunikasi secara langsung dengan Ari Askara, melainkan melalui jajaran komisaris di Garuda. Pertemuan dengan komisaris termasuk menyampaikan keputusan pemberhentian.

"Kami meminta para komisaris melakukannya. Komunikasi lewat komisaris saja," ucap Arya di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (6/12).

photo
Direktur Utama Garuda Indonesia - Ari Askhara

Kasus penyelundupan di pesawat Garuda, kata Arya, menjadi bukti upaya penguatan peran komisaris benar-benar terjadi. Arya mengatakan, sebelum Erick Thohir memimpin, peran komisaris yang merupakan kepanjangan tangan Kementerian BUMN di dalam tubuh BUMN-BUMN cenderung lemah.

"Komisaris akan sangat kuat, sudah sangat lama komisaris dicuekin direksi. Di Garuda kami buktikan, komite audit itu dari komisaris Garuda," lanjut Arya. 

Arya menambahkan, pentingnya peran komisaris membuat Erick Thohir tidak main-main dalam memilih figur terbaik. Oleh karenanya, hingga sampai saat ini, Erick telah menempatkan figur-figur yang dinilai memiliki integritas tinggi sebagai komisaris, mulai dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina, Chandra Hamzah sebagai Komisaris Utama BTN, dan Chatib Basri sebagai wakil ketua komisaris Bank Mandiri. 

Arya membeberkan, penempatan figur terbaik tak akan berhenti di situ. Erick berencana kembali menunjuk figur-figur yang dinilai memiliki kapasitas dan integritas untuk menempati posisi strategis di BUMN.

"Tunggu saja tanggal mainnya," ungkap Arya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA