Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Waspadai Penyebaran Anak Kobra!

Senin 16 Dec 2019 07:46 WIB

Red: Budi Raharjo

Dua anak ular kobra ditemukan di Perumahan Citayam Village, Desa Raga jaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jumat (13/12).

Dua anak ular kobra ditemukan di Perumahan Citayam Village, Desa Raga jaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jumat (13/12).

Foto: Dok Damkar
Awal mula musim hujan adalah waktu menetasnya telur ular dan ini siklus alami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena kemunculan anak ular kobra di permukiman warga terus berlanjut. Hampir setiap hari warga di berbagai daerah menemukan anak ular kobra. Bahkan, tak sedikit induk kobra yang ditemukan keluar dari habitatnya.

Menurut peneliti reptil dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, fenomena ini wajar terjadi di awal musim hujan. "Awal mula musim hujan adalah waktu menetasnya telur ular dan ini merupakan siklus alami," kata Amir, Ahad (15/12).

Ia menjelaskan, ular kobra jawa menghuni tipe habitat, seperti perbatasan hutan yang terbuka, sabana, persawahan, dan pekarangan. Ular berukuran rata-rata 1,3 meter dan dapat mencapai ukuran panjang 1,8 meter. Sekali bertelur, ular kobra jawa betina menghasilkan 10 hingga 20 butir telur. Telur-telur tersebut akan menetas dalam rentang waktu tiga sampai empat bulan. Telur kobra diletakkan di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembap.

Tempat dengan suhu hangat dan lembap cenderung disukai ular untuk menetaskan telur. Hampir semua jenis ular, termasuk induk ular kobra, pada periode tertentu akan meninggalkan telur-telurnya dan membiarkan mereka menetas sendiri. "Begitu menetas, anak kobra akan menyebar ke mana-mana," kata dia. Amir mengingatkan, meski masih bayi, ular kobra sudah memiliki kelenjar yang dapat membahayakan manusia.

Seorang pedagang di Pasar Kemirimuka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Wagiman (43 tahun), hingga kini masih harus menjalani rawat inap di RSUD Kota Depok karena terkena gigitan anak ular kobra. Wagiman bahkan sempat pingsan saat digigit anak ular kobra pada Kamis (12/12).

Direktur RSUD Kota Depok Asloe’ah Madjri mengatakan, ada tiga warga yang dirawat karena menjadi korban gigitan anak ular kobra. Salah satunya adalah Wagiman. Dua korban lain yang merupakan warga Bogor hanya dirawat jalan.

"Kami sudah siapkan obat suntik antibisa ular (abu) gratis karena itu obat yang masuk kategori program. Kondisi korban warga Depok harus dirawat inap karena telat penanganannya. Saat ini, tinggal pemulihan," kata Asloe’ah, Ahad (15/12).

Baca Juga

photo
Dua anak ular kobra ditemukan di Perumahan Citayam Village, Desa Raga jaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jumat (13/12).


Koordinator Ketertiban Pasar Kemirimuka, Irfansyah, menceritakan detail kejadian anak ular kobra mematuk Wagiman yang kesehariannya berjualan sayur. "Korban saat itu sedang membersihkan bagian kolong tumpukan kayu di lapak tempat berjualan, tiba-tiba kaki kanannya dipatuk anak kobra. Kakinya mengeluarkan darah. Ularnya berhasil kabur," ujarnya.

Dia mengungkapkan, Wagiman tak begitu memedulikan lukanya karena ular tersebut berukuran kecil, lukanya juga kecil. Namun, tak beberapa lama, Wagiman jatuh pingsan dan para pedagang lainnya langsung memberikan pertolongan. "Kami langsung membawa korban ke RSUD Kota Depok," ujar Irfansyah.

Menurut Irfansyah, pihaknya bersama pedagang kemudian melakukan penyisiran dan menemukan empat anak kobra di dalam lapak kios Wagiman. "Kami akan menyebarkan surat edaran untuk berhati-hati dengan ular di musim hujan dan mengimbau untuk selalu membersihkan tempat berdagang agar tidak dijadikan sarang ular," katanya.

Komandan Regu Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Depok Merdy Setiawan menegaskan, pihaknya akan menelusuri lokasi kejadian untuk mencari ular kobra yang membuat resah pedagang di pasar. "Kami minta para pedagang tetap tenang dan segera akan kami telusuri laporan banyaknya ular kobra berkeliaran di Pasar Kemirimuka," kata dia.

Petugas pemadam kebakaran dan warga di berbagai daerah mulai menggiatkan penyisiran keberadaan ular kobra. Hal itu seperti yang terlihat di perumahan Duren Jaya, Bekasi Timur.

Penyisiran dilakukan setelah warga menemukan puluhan cangkang telur kobra yang telah menetas. Menurut kesaksian warga, ada 30 butir cangkang telur ular kobra yang sudah menetas pada Jumat (13/12). Setelah penemuan puluhan butir cangkang telur anak kobra tersebut, warga menemukan lima ekor anak kobra.

Di Karawang, Jawa Barat, tim rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Purwakarta mengamankan belasan ekor anak ular kobra. Anak ular kobra ini ditemukan di salah satu rumah warga.

Kepala DPKPB Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono mengatakan, ada 13 anak ular kobra yang berhasil diamankan pada Kamis (12/12). Ular ini bersemayam di rumah warga di Jalan Lodaya 13, Kampung Baru, RT 49/05, Nagri Kidul, Kecamatan Purwakarta.

Wibi mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari pemilik rumah. Pada pukul 15.30 WIB, tujuh anggota tim rescue mengevakuasi ular-ular tersebut. Evakuasi dinyatakan selesai pada pukul 16.30 WIB. Menurut Wibi, evakuasi berjalan aman dan lancar. Ular-ular yang masih kecil tersebut juga tidak menimbulkan korban jiwa.

Wibi pun meminta masyarakat untuk mewaspadai adanya ular-ular berbahaya di lingkungan sekitar. Apalagi, saat ini dikatakan sebagai waktu berkembang biak hewan berbisa tersebut. “Kalau saya tanya petugas atau pawang ularnya, terjadinya peralihan musim dari kemarau ke musim hujan menjadi waktu yang tepat untuk menetas telur ular tersebut,” tuturnya.

photo
Petugas pemadam kebakaran melakukan penyisiran ular kobra di Duren Jaya, Bekasi ,Jawa Barat, Ahad (15/12).


Pencegahan
Yayasan Sioux Ular Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi ular, memberikan sejumlah kiat untuk mengantisipasi kemunculan ular kobra, yakni menggunakan pendekatan tangkap dan relokasi, bukan dibunuh.

Pertama, laksanakan kegiatan gotong royong. Bersihkan area yang tidak tertata dan jarang dijamah. "Sebab, tumpukan material dan kebun tak terawat akan menjadi tempat nyaman bagi ular untuk sembunyi," kata Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat Purwanto, belum lama ini.

Kedua, semprot rumah kosong dengan fogging nyamuk secara berkala agar satwa yang biasa menjadi buruan ular enggan menetap di sana, seperti kadal, tikus, kodok, cicak, dan burung. Ketiga, pasang jaring besi di saluran irigasi agar ular tidak bisa melewati saluran itu untuk mencapai area dalam rumah.

Keempat, bersihkan ranting-ranting pohon yang sudah menjulur ke area pekarangan rumah. Langkah ini perlu dilakukan agar akses lintasan ular bisa dikurangi. "Kelima, tutup lubang-lubang di sekitar pagar kompleks," kata Aji.

Keenam, pasanglah jebakan tikus. Ketika tikus sebagai mangsa utama ular berkurang, ular pun akan mencari tempat lain yang lebih banyak menyediakan makanan. “Ketujuh, bagi yang memelihara burung, selalu cek akses burung dengan lingkungan. Sebab, burung juga makanan ular," kata Aji.

Kedelapan, tak perlu menebar garam dan menggunakan tali ijuk. Berdasarkan pengalaman dan percobaan yang dilakukan yayasannya, ular tidak takut dengan garam. Selain itu, ular tidak akan takut ataupun merasa sakit ketika melewati alas kaki ijuk di depan pintu.

Hal yang juga penting diperhatikan adalah jangan mengevakuasi ular jika tak punya keahlian. Jika warga menemukan ular di area permukiman, sebaiknya meminta bantuan kepada orang terlatih, seperti ke pawang ular dan petugas pemadam kebakaran.

Aji mengatakan, penemuan ular belakangan ini didominasi anak ular. Aji menyebut hal itu karena salah satu mekanisme perkembangbiakan ular tersebut. Ular bukan tipe hewan yang menyusui. Setelah menetaskan telur, induknya akan pergi meninggalkan lubang.

"Sehingga saat ditemukan anak ular di perumahan, akan tidak mungkin mencari induknya di sana. Si induk udah pergi tiga bulan lalu saat seusai bertelur. Dia tinggalkan telurnya di lubang tertentu dan tidak dierami," kata Aji memaparkan. n inas widyanuratikah/rusdy nurdiansyah/prayogi/zuli istiqomah/febryan a ed: satria kartika yudha

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA