Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Awas, Bencana Mulai Mengintai!

Senin 16 Dec 2019 08:19 WIB

Red: Budi Raharjo

Warga melihat kondisi jembatan rusak akibat banjir bandang di Nagari Pakan Raba

Warga melihat kondisi jembatan rusak akibat banjir bandang di Nagari Pakan Raba

Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Tiga warga meninggal karena banjir di Solok Selatan dan Sigi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim hujan yang baru tiba mulai menyebabkan bencana banjir, longsor, dan angin puyuh di sejumlah daerah. Pihak berwenang memperingatkan, ancaman bencana tersebut akan terus ada hingga musim hujan berakhir pada awal tahun depan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, awal musim hujan di sebagian provinsi di Jawa dimulai pada akhir November 2019. "Awal musim hujan 2019/2020 di wilayah DKI Jakarta, Banten, hingga Jawa Tengah (Jateng) akan didominasi mulai akhir November dan awal Desember 2019," ujar Kabid Diseminasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Djatmiko saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (15/12).

Sementara, awal musim hujan di wilayah Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Papua, dan Kalimantan akan tiba pada awal hingga pertengahan Desember 2019. Puncak musim hujan 2019/2020 untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Bali, NTB, dan NTT terjadi pada Februari 2020. Sedangkan, puncak musim hujan di wilayah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan pada Maret 2020.

"Wilayah yang harus lebih waspada banjir pada bulan puncak musim hujan, yaitu pada Januari, Februari, hingga Maret 2020, khususnya untuk wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua," kata Hary.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menambahkan, ada kemungkinan hujan terus terjadi hingga April 2020. BNPB mencatat, sepanjang sepekan belakangan, tiga orang meninggal dunia karena bencana banjir. "Satu korban meninggal dunia karena hanyut di Solok Selatan (Sumatra Barat)," ujarnya kepada Republika.co.id, kemarin.

Baca Juga

photo
Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat banjir bandang di Nagari Pakan Raba'a Tengah, Kecamatan KPGD, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Sabtu (14/12/2019).


Di Solok Selatan, BNPB mencatat 1.655 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 5.5711 jiwa terdampak dan 43 orang mengungsi. Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria mengatakan, solusi jangka pendek yang disiapkan pemerintah kabupaten ialah memindahkan muara sungai. "Agar tidak terlalu dekat dengan permukiman masyarakat," kata Muzni, Ahad (15/12).

Pemerintah kabupaten juga punya rencana jangka panjang dengan membangunkan dam untuk menghalangi air andai sungai meluap. Dalam membangun sarana antisipasi banjir ini, Muzni berharap banyak pada bantuan pemerintah pusat. Sebab, bila mengandalkan APBD saja, Muzni menilai tidak cukup.

Selain membangun sarana untuk antisipasi bencana, Muzni juga meminta kesadaran masyarakat agar tidak lagi melakukan aktivitas merusak lingkungan. Perusakan lingkungan, seperti menebangi hutan di hulu sungai, akan mengurangi daerah resapan air.

Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, banjir menelan dua korban jiwa. "Korban atas nama Yan Cristison Mambarehi (51 tahun) berjenis kelamin pria dan Rezky Bambarehi (8) berjenis kelamin laki-laki," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo.

Sebanyak 218 KK atau 707 jiwa terdampak dan 60 KK mengungsi di kabupaten itu. Selain di dua daerah itu, 98 KK juga terdampak banjir di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung.

photo
Warga berada disekitar rumah yang hancur akibat diterjang banjir bandang di Dusun Pangana, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (13/12/2019).


Berulang
Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyatakan, banjir bandang yang menimpa masyarakat di Dusun Pangana, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, merupakan bencana yang pernah terjadi dan kini terulang lagi. Gubernur mengingatkan kembali bahwa bencana serupa pernah terjadi sebelumnya, sekitar delapan tahun yang lalu atau pada 2011.

"Saat itu, korban kalau tidak salah enam orang (meninggal dunia)," ucap Longki Djang gola di Sigi, akhir pekan lalu.

Ia memohon tokoh masyarakat dan tokoh adat dapat mengeluarkan imbauan adat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan serta hutan di Kulawi. "Tolonglah adat diberlakukan untuk itu," kata Gubernur. Banjir bandang disertai material kayu, batu, dan lumpur menerjang Desa Bolapapu di Dusun Pangana pada Kamis (12/12) petang, mengakibatkan 57 rumah rusak terdiri atas 7 rusak berat dan 50 rusak ringan.

Di tempat lain, BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyiagakan tim reaksi cepat di 16 titik daerah rawan banjir Kota Pangkalpinang. "Hujan lebat kembali mengguyur Kota Pangkalpinang dan diperkirakan 16 titik banjir ini akan kembali terjadi genangan air kisaran 20 hingga 60 sentimeter," kata Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Babel Mi kron Antariksa di Pangkalpinang.

Titik daerah rawan banjir ini tersebar di sembilan kelurahan, yaitu Kelurahan Rangkui, Kacang Pedang, Batin Tikal, Pasar Pagi, SPBU Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Gedung Nasional, Parit Lalang, Bukit Sari, dan Kampung Keramat.

Menurut dia, sebanyak 16 titik ini merupakan daerah langganan banjir selama musim hujan dan ditambah pasang air laut yang cukup tinggi, berkisar 1,9 hingga 2 meter. "Kami berharap masyarakat berperan guna memudahkan petugas melakukan pertolongan dan mengevakuasi korban banjir yang membutuhkan pertolongan," ujarnya. (rr laeny sulistyawati/febrian fachri/antara, ed: fitriyan zamzami)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA