Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Komando Operasi Khusus TNI Siap Bebaskan Sandera Abu Sayyaf

Selasa 17 Dec 2019 16:06 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Teguh Firmansyah

Milisi Abu Sayyaf (ilustrasi).

Milisi Abu Sayyaf (ilustrasi).

Foto: AP Photo/File
Koopssus akan dilibatkan dalam operasi pembebasan jika ada permintaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- TNI siap melibatkan Komando Operasi Khusus (Koopsus) TNI dalam operasi pembebasan tiga orang warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina. Tapi, hingga saat ini, belum ada permintaan bantuan maupun keputusan politik negara untuk Koopsus TNI turun tangan.

“Koopssus TNI siap dilibatkan dalam operasi bila ada permintaan dari negara terkait, serta ada keputusan politik di negara kita. Sampai saat ini belum ada permintaan dan keputusan politik negara,” ujar Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Sisriadi, melalui pesan singkat, Selasa (17/12).

Pemerintah Indonesia akan terus berusaha membebaskan tiga orang warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina. Upaya tersebut akan dilakukan tanpa menodai kedaulatan negara Indonesia maupun negara yang terkait dengan kejadian penyanderaan itu.

“Kita akan melanjutkan langkah-langkah yang sudah diambil selama ini, untuk tetap berusaha membebaskan tersandera tanpa korban jiwa dan tanpa menodai kedaulatan negara kita maupun kedaulatan negara-negara yang bersangkutan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, usai rapat dengan kementerian lembaga terkait di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (17/12).

Mahfud enggan membuka langkah seperti apa yang akan pemerintah ambil untuk membebaskan tiga WNI yang sudah tersandera sejak November lalu itu. Tapi, ia memastikan, pemerintah sudah menentukan langkah dengan berbagai tahapan yang akan dilakukan ke depan.

“Pokoknya kami sudah kompak sudah punya solusi langkah-langkah yang dengan berbagai tahapannya gitu. Pokoknya kita akan menyelamatkan karena negara harus bertanggung jawab atas keselamatan warganya,” jelas dia.

Seperti diketahui, tiga WNI yang berprofesi sebagai nelayan berasal dari Baubau dan Wakatobi Sulawesi Tenggara yaitu Maharudin Lunani (48), putranya, Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27) disandera kelompok Abu Sayyaf setelah diculik dari kapal yang berlayar di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia.

Perairan itu memang dikenal rawan pembajakan dan penyanderaan oleh kelompok bersenjata dari selatan Filipina seperti Abu Sayyaf. Dalam video berdurasi 43 detik tersebut, ketiga WNI yang disandera tersebut meminta pemerintah membantu pembebasan mereka.

"Kami bekerja di Malaysia. Kami ditangkap Kelompok Abu Sayyaf pada 24 September 2019. Kami harap bos kami bantu kami untuk bebaskan kami," kata Samiun menggunakan bahasa Indonesia dalam video tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA