Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Hilangnya Satu Miliar Hewan di Australia

Selasa 07 Jan 2020 16:32 WIB

Red: Indira Rezkisari

Seekor koala mati ditemukan pascakebakaran di Pulau Kanguru, Australia, Selasa (7/1).

Seekor koala mati ditemukan pascakebakaran di Pulau Kanguru, Australia, Selasa (7/1).

Foto: EPA
Hewan langka Australia terancam punah akibat kebakaran hutan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Fergi Nadira, Lintar Satria, Umar Mukhtar, Rizky Jaramaya

Kebakaran hutan di Australia semakin meluas. Jumlah satwa liar yang mati akibat dampak kebakaran hutan diperkirakan meroket menjadi lebih dari satu miliar hewan.

Seorang ahli ekologi di University of Sydney Chris Dickman sebelumnya memperkirakan sekitar 480 juta hewan mati yang tidak hanya di kawasan konservatif, namun juga eksklusif untuk negara bagian New South Wales. Ia mengecualikan kelompok satwa liar yang signifikan yang tak memiliki data populasi.

Dickman mengatakan, angka 480 juta terdiri dari mamalia, burung, dan reptil yang memang memiliki kepadatan. Namun angka itu bertambah yang kini ada lebih dari 800 juta karena tingkat kebakaran yang berlangsung. Jumlah itu baru di New South Wales saja.

"Jika 800 juta terdengar banyak, itu belum semua hewan yang ada di Australia yang terdampak kebakaran hutan," ujar Dickman dilansir laman Huffington Post, Selasa (7/1).

Angka itu juga belum termasuk hewan seperti kelelawar, katak, dan invertebrata. Oleh karenanya, tanpa keraguan, ia menilai bahwa kerugian hewan mati akibat kebakaran hutan melebihi satu miliar. "Lebih dari satu miliar akan menjadi sosok yang sangat konservatif," katanya.

Seorang ilmuwan lingkungan di World Wildlife Fund Australia, Stuart Blanch mengonfirmasi perkiraan ini. Ia menegaskan, perhitungan terakhir satu miliar hewan yang mati merupakan perkiraan sederhana. "Ini adalah dampak iklim kami dan obsesi kami dengan batubara yang membantu berperang di negara kita sendiri," kata Blanch.

Spesies yang terancam punah, termasuk katak korrobore selatan dan tikus gunung yang dapat dimusnahkan karena kebakaran yang merusak habitat penting di Taman Nasional Alpine di Victoria dan Taman Nasional Kosciuszko di New South Wales. Spesies yang terancam, seperti kakatua hitam, quoll, dan kanguru kecil berkaki panjang (keduanya berkantung kecil), juga menghadapi risiko nyata kepunahan di sebagian besar wilayah jelajahnya.

Dickman mengatakan, kelelawar, yang memiliki populasi besar di sepanjang pantai timur Australia dan sangat tergantung pada habitat hutan, tidak diragukan lagi juga mengalami kerugian yang sangat besar. "Jumlahnya harus besar. Dan mereka sangat rentan terhadap kebakaran," katanya.

Selama akhir pekan, Kebun Binatang Australia Bindi Irwin berbagi berita duka dari rumah sakit margasatwa kebun binatang. "Pada bulan September, rubah terbang masuk ke rumah sakit melambung lebih dari 750 persen karena kondisi kekeringan dan kekurangan makanan," tulis pernyataan kebun binatang Bindi Irwin Zoo.

photo
Kanguru tampak di kawasan semak hutan Australia dengan langit oranye akibat kebakaran hutan di sekitar Canberra, Australia, (5/1).

"Rubah terbang sekarang sedang dipengaruhi secara drastis oleh kebakaran hutan dan kita lagi melihat gelombang masuknya hewan-hewan cantik ini dari seluruh negeri," ujar pernyataan itu menambahkan.

Sementara, hewan ikonik Australia, koala telah kehilangan lebih dari 30 persen habitat utama mereka di New South Wales. Menteri lingkungan federal Sussan Ley Hewan bulan lalu mengatakan, koala kemungkinan kehilangan sepertiga dari populasi mereka di wilayah itu.

Dickman mengatakan, berkurangnya populasi koala akan menjadi pemulihan yang sulit. Menurutnya, pemulihan tergantung pada ketersediaan makanan (daun pohon kayu putih), yang hancur kobaran api menyapu.

Sebuah grafik yang disusun oleh perusahaan analisis pasar pertanian Mecardo menemukan bahwa 8,6 juta ekor domba dan 2,3 juta sapi berada di daerah New South Wales dan Victoria yang terkena dampak kebakaran hutan. Butuh waktu berbulan-bulan sebelum jumlah pasti kerugian ternak diketahui.

Pulau Kanguru di Australia yang kerap menjadi tempat pengungsian binatang-binatang turut terancam punah. Kebakaran hutan dalam beberapa hari telah menghancurkan kerja konservasi selama beberapa dekade di Pulau Kanguru.

Api juga membuat fauna-fauna unik di pulau tersebut terancam. Pakar yang bekerja di pulau tersebut mengatakan api telah menewaskan ribuan koala dan kangguru. Belum diketahui jumlah spesies hewan berkantung itu yang selamat dari kebakaran.

Selain itu juga belum diketahui berapa banyak kakatua hitam langka yang berhasil lolos dari kobaran api. Masa depan pulau itu juga tidak jelas setelah habitat berbagai binatang habis terbakar.

Berada di lepas pantai Selatan Australia, Pulau Kanguru lebih besar 50 persen dari dari Pulau Rhode dan rumah bagi 4.500 orang. Pariwisata lingkungan di pulau itu sedang bangkit. Tapi kebakaran hutan yang menghancurkan Australia membakar sepertiga pulau itu.

Kebakaran di Pulau Kanguru menewaskan seorang ayah dan putranya. Api hanya meninggalkan tanah gersang dan kehancuran bagi masyarakat setempat. Orang-orang berebut untuk membantu binatang-binatang unik yang ada di pulau tersebut.

photo
Petugas bernama Simon Adamczyk menyelamatkan koala yang menjadi korban kebakaran hutan Australia di Pulau Kanguru. Suhu Australia diperkirakan akan kembali melonjak pada Jumat mendatang.



"Merawat semua binatang ini cukup luar biasa, namun kami telah banyak terlalu jauh, kami melihat tangan kangguru dan koala terbakar, mereka tidak memiliki pilihan, ini cukup emosional," kata pemilik Taman Satwa Pulau Kanguru Sam Mitchelle seperti dilansir ABC News.

Terinspirasi oleh pakar satwa liar almarhum Steve Irwin, Mitchelle dan istrinya Dana membeli taman komersial tujuh tahun yang lalu. Mereka sudah merenovasi tempat itu dan menyelamatkan binatang.

Pada Jumat (3/1) malam api mendekat, Dana lari bersama bayi pasangan itu yang berusia 18 bulan, Conor. Sam tetap tinggal untuk mempertahankan taman dan mimpi mereka. Perubahan arah angin menyelamatkan taman tersebut dari kobaran api.

Mitchelle mengatakan api telah membunuh ribuan koala di pulau tersebut. Sebagian besar karena koala di Pulau Kanguru bebas penyakit sementara koala di pulau utama Australia menderita penyakit chlamydia.

Mitchelle dan Dana saat ini merawat sekitar 18 koala yang terbakar. Mereka terpaksa melakukan euthanasia ke banyak koala.

Gumpalan asap dari kebakaran hutan di berbagai wilayah Australia mulai menyebar hingga melintasi lautan. Asap tersebut telah bergerak dari Selandia Baru, melintasi Pasifik dan masuk ke negara Cile di Amerika Latin.

Berdasarkan gambar satelit, sebagaimana dilansir dari portal berita Australia, News.com.au, menunjukkan gumpalan asap tebal menyelimuti Pasifik setelah angin dari tenggara mendorongnya ke Selandia Baru. Gambar dari NASA menunjukkan bahwa asap telah menciptakan awan yang lebih besar dari luas wilayah Amerika Serikat.

Meteorolog saluran Sky News Weather, Alison Osborne mengatakan bahwa saat ini bisa terlihat asap yang bergerak melintasi Pasifik lalu ke Cile. Polisi Selandia Baru pun dibanjiri telepon tentang langit berwarna oranye dan kuning di Auckland.

Kebakaran di seluruh Australia telah menewaskan 25 orang, menghancurkan atau merusak lebih dari 2.000 rumah dan membakar hampir 31.000 mil persegi, sebuah wilayah seukuran Austria. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan bahwa pemerintah federal akan berkomitmen menggelontorkan  2 miliar dolar AS selama dua tahun untuk sebuah agen pemulihan kebakaran hutan nasional yang baru, dan lebih banyak lagi jika diperlukan.

Dewan Asuransi Australia mengatakan saat ini telah ada sembilan ribu klaim dengan nilai 700 juta dolar Australia yang terkait dengan kerusakan akibat kebakaran. Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan kepada ABC bahwa terlalu dini untuk menghitung dampak ekonomi dari musibah kebakaran tersebut.

photo
Infografis kebakaran hutan Australia.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA