Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Kesenjangan Ekonomi Kunci Kelompok Miskin

Rabu 15 Jan 2020 03:53 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Friska Yolanda

Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) Yusuf Wibisono (kanan) dan peneliti Ideas Siti Nur Rosifah (kiri) menyimak pertanyaan peserta forum IdeasTalk

Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) Yusuf Wibisono (kanan) dan peneliti Ideas Siti Nur Rosifah (kiri) menyimak pertanyaan peserta forum IdeasTalk

Foto: Republika/Fuji Pratiwi
Kesenjangan membuat kelompok kaya punya kekuatan tak terbatas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) Siti Nur Rosifah menjelaskan, kemiskinan tidak hanya persoalan lingkaran kemiskinan kronis. Kesenjangan ekonomi disebut menjadi faktor utama yang mengunci masyarakat kelompok miskin sulit melakukan mobilitas vertikal. 

Hasil riset Ideas, faktor utama yang membuat kelompok miskin sulit melakukan mobilitas vertikal adalah kesenjangan ekonomi. Peluang mobilitas vertikal bagi individu miskin banyak ditentukan kondisi kesenjangan ekonomi.

"Kesenjangan membuat kelompok kaya punya kekuatan tak terbatas. Anak orang kaya cenderung menjadi kaya di masa depan," kata Siti dalam paparan hasil riset Ideas bertajuk "Ilusi Mobilitas Ekonomi, Kapital Tak Terbatas" di Pejaten, Jakarta, Selasa (14/1).

Menggunakan data Indonesia Family Life Survey pada rentang 1993 hingga 2014, Idea mendapati, dari 2.120 anak keluarga miskin pada 1993. 21 tahun kemudian, sebesar 88,4 persen bisa melakukan mobilitas vertikal pada 2014. Hanya 11,6 persennya yang tetap miskin.

Sementara, 96,6 persen anak keluarga kaya tetap kaya pada 21 tahun kemudian sebesar. Hanya 3,4 persen dari mereka yang jadi miskin.

"Kami kemudian melakkan sensitivitas kemiskinan dengan menaikkan batas kemiskinan dua kali. Hasilnya, tampak ada ilusi mobilitas ekonomi," ucap Siti.

Ilusi mobilitas vertikal ekonomi yang Ideas dapati adalah, saat batas dinaikkan menjadi dua kali lipat, anak keluarga miski yang berhasil terbebas dari kemiskinan hanya 57,8 persen. Sementara, anak keluarga miskin yang tetap miskin sebesar 42,2 persen.

Anak keluarga kaya yang tetap kaya sebesar 80,7 persen. Sementara anak keluarga kaya yang jatuh miskin dalam uji sensitivitas ini mencapai 19,3 persen.

Direktur Ideas Yusuf Wibisono mengatakan, ketika kesenjangan ekonomi sangat ekstrem, mobilitas vertikal kelompok miskin jadi sangat sulit. "Ada faktor pewarisan. Dengan segala upayanya, anak keluarga kaya tetap kaya. Sementara kelompok miskin semakin sulit untuk menanjak," ungkap Yusuf.

Selain itu, angkatan muda masuk pasar lapangan kerja, mereka tidak hanya bersaing pada keterampilan, tapi juga modal sosial. Dengan kata lain, identitas 'siapa mereka' dipertimbangkan dan memengaruhi daya untuk naik level di dunia kerja.

"Meritokrasi penting. Tapi, meritokrasi tidak selalu berlaku dalam dunia kerja," kata Yusuf.

Ini tidak berarti Ideas menafikan mereka yang sukses dengan memulai dari bawah. Kelompok seperti itu, tapi sangat sedikit. "Sebab, orang kaya hari ini punya relasi dengan orang kaya di masa lalu," ucap Yusuf. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA