Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Denny JA Respons Isu Dirinya Minta Jabatan Komisaris Inalum

Rabu 15 Jan 2020 17:23 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Andri Saubani

Denny JA

Denny JA

Foto: republika
Beredar tangkapan layar WA yang diduga dikirim Denny JA kepada Luhut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali (JA) mendadak menjadi bahan perbincangan di media sosial sejak Rabu (15/1) pagi. Denny dikabarkan meminta jabatan untuk posisi komisaris Inalum ke Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan.

Hal itu berawal dari beredarnya tangkapan layar WA yang diduga akan dikirimkan Denny ke Luhut. Namun, pesan tersebut diketahui salah kirim ke salah satu grup Whatsapp.

"Komandan, Pak Luhut yang baik Semoga tahun baru membawa berkah baru. FOLLOW UP yang sudah kita diskusikan tempo hari. Masih adakah kemungkinan dan kabar soal kemungkinan saya menjadi komisaris di Inalum? Sudah ada jawaban dari Erick Tohir? Saya cepat belajar dan get things done," bunyi salah satu pesan tersebut.

"Banyak yang bisa saya kerjakan di sana untuk mengeksplor soal tambang kita, menarik investasi, termasuk mensimulasi kepala daerah wilayah tambang, yang banyak juga sudah saya menangkan selama di LSI," tulisnya.

Baca Juga

photo
Tangkapan layar WA Denny JA


"Komandan dapat meyakinkan Erick Thohir atau Jokowi, saya bisa membantu komandan soal investasi soal tambang, di posisi komisaris.Terbukti pula saya sudah berhasil membantu komandan ikut memenangkan Jokowi dua kali: 2014; 2019. Sangat ditunggu arahan Pak Luhut berikutnya," lanjutan isi pesan tersebut.

photo
Tangkapan layar WA Denny JA


Menjawab itu Denny pun menyampaikan klarifikasinya. Klarifikasinya tersebut ia tulis dalam bentuk cerpen. Berikut klarifikasi Denny yang diterima Republika:


Ketika Gosip Komisaris BUMN Pun Dijadikan Isu

“Pastilah sebagian masyarakat ini kehilangan isu besar. Gosip pun dijadikan isu. Tanpa cek and rechek lagi, gosip itu di-forward ke mana- mana. Dan viral pula.”

Itulah responnya yang pertama ketika membaca teks di WA. Dengan senyum, sambil menyerumput kopi, ia baca sekali lagi pesan beruntun di ponselnya.

Diberitakan, WA-nya ke salah satu mentri bocor. Ia menawarkan diri menjadi komisaris salah satu BUMN. Entah apa yang salah? Atau apa yang penting dari soal itu hingga dijadikan isu yang viral?

Dalam hidupnya sebagai aktivis, tak sekali ia menerima gosip itu. Sebelumnya di era Pilpres 2019, ia dikabarkan menerima uang dari Jokowi sebesar Rp 45 miliar untuk memenangkan Jokowi mengalahkan Prabowo.

Waktu itu, Ia santai saja menjawab. “Itu fitnah karena angka 45 miliar kok kecil sekali. Padahal saya tidak sedang banting harga.”

Sebagai konsultan politik yang ikut memenangkan presiden tiga kali berturut- turut (kini empat kali), apa iya saya dibayar hanya Rp 45 miliar?” Celotehan santai darinya saat itu terasa pas. Agaknya lebih efektif merespon gosip politik dengan celotehan saja.

Apa daya. Ia tumbuh sebagai aktivis. Berdebat di publik menjadi nafasnya. Berdebat dengan data, angka dan hasil riset memang hobinya. Tapi berceloteh pun oke juga.

Sejak lama,  Ia memang rindu. Ia berharap  ruang publik lebih diisi oleh debat gagasan. Ia ingin para elit heboh oleh inovasi. Ia angankan kembali datang era berpolitik gaya Founding Fathers yang pejuang tapi juga pemikir.

Tapi yang marak dan heboh di ruang publik, acapkali hanya soal skandal tokoh, gosip dan hoaks. Apa daya.

Ia teringat teks WA yang Ia terima semalam. Isi WA itu gosip tentang dirinya. Ia digambarkan seolah berkomunikasi dengan seorang menteri untuk jabatan komisaris BUMN.

Ia forward gosip itu ke beberapa, hanya untuk info. Ternyata, itu malah di-forward beberapa kali oleh mereka yang senang bergosip ke aneka grup. Tanpa ada check and recheck dan mengelaborasi konteksnya dulu.

Di era media sosial, apa pun mudah menjadi isu. Apalagi jika masyarakat yang kehilangan isu besar. Gosip pun menjadi isu. Lebih sensasional lebih asyik. Tak penting benar atau salah.

Ia teringat lirik lagu Michael Jackson: Beat it! beat it! No matter who is wrong or right. Just beat it!

-000-

Apa yang salah dengan seseorang yang ingin berperan ikut memajukan negaranya dengan mengajukan diri menjadi komisaris BUMN? Bukankah itu memang jabatan terbuka yang bisa diisi siapa saja yg kompeten?

Apa yang salah orang yang mengajukan diri menjadi rektor, menjadi menteri, menjadi direktur TV, menjadi bintang sinetron?

Bukankah tak ada pelanggaran hukum di sana? Tak ada skandal di sana? Bukankah semua orang pada dasarnya bagus bagus saja melakukan lobi, meyakinkan aneka pihak? Kok masalah itu saja bisa dijadikan isu dan viral?

-000-

Ia kembali minum itu kopi. Dinyalakannya Smart TV, dan masuk ke Neflix. Kembali ia lanjutkan serial docu drama tentang kisah para genius mengubah peradaban.

Kisah tentang Bill Gates, Pulitzer, Thomas Alfa Edison. Kadang mereka sedikit berkotor tangan, melobi sana dan sini untuk realisasi gagasan.

Perlukah Ia klarifikasi isu soal dirinya mengajukan diri sebagai komisaris BUMN itu? Baiklah, ujarnya. Klatifikasi saja dalam bentuk cerpen.

Dan jadilah cerpen ini.

15 Jan 2020

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA