Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Masyarakat Harap Penyaluran Gas 3 Kg Tepat Sasaran

Kamis 16 Jan 2020 16:23 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Friska Yolanda

Pekerja menurunkan tabung gas elpiji tiga kilogram dari truk di salah satu pangkalan di Jalan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (15/1).

Pekerja menurunkan tabung gas elpiji tiga kilogram dari truk di salah satu pangkalan di Jalan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (15/1).

Foto: Thoudy Badai_Republika
Jangan sampai penyaluran gas seperti bantuan lain yang diberikan ke keluarga mampu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah berencana mengubah skema subsidi gas LPG 3 kilogram mulai pertengahan 2020. Yakni, dengan menggunakan skema tertutup atau pemberian subsidi gas langsung tertuju ke masyarakat miskin.

Menanggapi rencana tersebut, sejumlah masyarakat mengaku tak keberatan. Salah satunya Yuli (29 tahun), warga Kelurahan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tapi, ia berharap skema subsidi langsung itu tepat sasaran. Jangan seperti bantuan langsung lain sebelumnya yang kerap juga diberikan ke keluarga mampu.

"Saya pemakaian cuma satu tabung gas LPG 3 kg per bulan. Kalau memang diubah begitu, pemerintah harus pastikan kita dapat subsidi," kata Yuli di depan rumah petaknya, Kamis (16/1).

Pemerintah lewat Kementerian ESDM, pada Selasa (14/1), menyatakan akan mengubah skema subsidi gas LPG 3 kg mulai semester II 2020 atau pertengahan 2020. Harga gas melon nantinya akan disesuaikan harga pasar selayaknya gas LPG 12 kg.

Berdasarkan perhitungan Republika.co.id dengan mengacu ke harga gas LPG 12 kg di pasaran saat ini, maka nantinya gas LPG 3 kg akan menjadi Rp 37 ribu. Sedangkan agen distributor gas untuk wilayah Jakarta Selatan memperkirakan harganya bisa mencapai Rp 40-45 ribu. Untuk saat ini, harga gas melon di pasaran masih di kisaran Rp 22 ribu.

Adapun subsidi gas akan diberikan pemerintah dengan skema tertutup atau langsung ditujukan kepada keluarga miskin. Meski detail skema ini belum diputuskan, pihak ESDM sempat memperkirakan masyarakat yang layak mendapat subsidi adalah yang penggunaan maksimalnya tiga tabung gas LPG 3 kg dalam sebulan.

Warga lainnya, Ajai (35), juga mengaku tak keberatan asalkan subsidinya tepat sasaran. Jumlah subsidi hanya untuk tiga tabung saja, menurut Ajai, memang ukuran yang pas agar subsidi hanya menyasar keluarga miskin.

Ajai mengaku untuk kebutuhan rumah tangganya setiap bulan hanya menghabiskan satu tabung gas LPG 3 kg. Ajai bekerja sebagai sopir ojek daring yang kerap beroperasi di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Seorang ibu rumah tangga bernama Aan (32) juga mengaku tak keberatan. Ia berharap agar subsidi langsung benar-benar diberikan ke orang yang membutuhkan. Tinggal di wilayah Citayam, Bogor, Aan setiap bulannya hanya menghabiskan satu tabung gas LPG 3 kg.

Salah seorang pedagang kelontong di wilayah Pasar Minggu, Iwan (40) mengaku tak keberatan dengan pengubahan skema subsidi dan penyesuaian harga gas LPG 3 kg dengan harga pasar. Menurut Iwan, skema seperti itu bisa membuat subsidi lebih fokus ke masyarakat miskin. Sebab, selama ini masyarakat yang tergolong mampu juga kerap membeli gas LPG 3 kg bersubsidi. 

"Di sini ada juga sih yang orang kaya yang beli gas 3 kg," kata Iwan di toko kelontongnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA