Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Jumat, 27 Jumadil Akhir 1441 / 21 Februari 2020

Pneumonia Wuhan yang Dinilai tak Lebih Berbahaya dari SARS

Jumat 17 Jan 2020 17:59 WIB

Red: Andri Saubani

Warga menggunakan masker untuk menghindari penyebaran virus pneumonia di pusat kota Tokyo, Kamis (16/1). Pemerintah Jepang meminta pengecekan kesehatan warganya yang baru kembali dari China setelah muncul wabah pneumonia di Kota Wuhan, China.

Warga menggunakan masker untuk menghindari penyebaran virus pneumonia di pusat kota Tokyo, Kamis (16/1). Pemerintah Jepang meminta pengecekan kesehatan warganya yang baru kembali dari China setelah muncul wabah pneumonia di Kota Wuhan, China.

Foto: AP Photo/Eugene Hoshiko
Wabah pneumonia berat di Wuhan, China telah mengakibatkan dua korban meninggal dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, Kasus penyakit baru pneumonia berat yang terjadi di Wuhan, China, dinilai tidak lebih berbahaya dari penyakit yang pernah menjadi pandemi sebelumnya, seperti flu burung dan Severe Acute Respiratory Infection atau SARS. Ketua Pokja Bidang Infeksi Penyakit Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Erlina Burhan M.Sc Sp.P(K) dalam keterangannya pada wartawan di Jakarta, Jumat (17/1) menyatakan hal itu.

Baca Juga

Menurut Erlina, alasan pneumonia di Wuhan tidak lebih berbahaya karena memiliki case fatality rate (CFR) atau angka kematian yang disebabkan oleh penyakit itu cenderung kecil. Hingga saat ini, penyakit pneumonia berat di Wuhan menyebabkan satu orang meninggal yang sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit liver kronis dan lanjut usia.

"Case fatality rate SARS di atas 50 persen, flu burung di Indonesia saat itu sampai 70 persen meninggal. Tapi di Wuhan baru satu yang meninggal," kata Erlina.

Oleh karena itu Erlina mengimbau kepada masyarakat Indonesia agar tidak perlu panik menghadapi ancaman penyakit pneumonia baru ini, namun tetap waspada. Alasannya, penyakit pneumonia di Wuhan China merupakan penyakit baru yang sampai saat ini belum tersedia vaksinnya sebagai langkah pencegahan.

"Vaksin yang ada saat ini tidak bisa memproteksi jenis penyakit pneumonia yang terjadi di Wuhan," kata Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) DR Dr Agus Dwi Susanto Sp.P(K) FISR, FAPSR.

Agus menjelaskan penyakit pneumonia yang terjadi di Wuhan merupakan penyakit baru yang belum dilakukan penelitian untuk menciptakan vaksin sebagai upaya pencegahan. Agus mengingatkan kepada masyarakat tidak perlu meminta vaksinasi penyakit tersebut kepada tenaga medis, atau agar menolak apabila ada yang menawarkan vaksin pneumonia berat tersebut.

photo
Penumpang kereta di Hong Kong mengenakan masker sebagai perlindungan kesehatan. Di China daratan dan Hong Kong muncul kasus pneumonia berat yang bermula dari kota Wuhan.


Vaksin pneumonia yang ada saat ini hanya untuk pencegahan kasus pneumonia yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus, yaitu Vaksin Pneumokokus atau PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) Vaksin PCV13 dengan merek dagang Prevnar yang utamanya ditujukan pada bayi dan anak di bawah 2 tahun. Selain itu, Vaksin Pneumokokus PPSV23 dengan nama dagang Pneumovax 23 yang diberikan kepada orang dewasa di atas 65 tahun atau usia dua tahun hingga 64 tahun dengan kondisi khusus.

Ada pula Vaksin Hib untuk mencegah bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib) yang merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama. Di Indonesia vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi.

"Terkait pencegahan pneumonia yang sedang outbreak saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah kasus ini karena pneumonia pada kasus outbreak saat ini disebabkan oleh coronavirus jenis baru," kata Agus.

Kasus pneumonia berat mulai dilaporkan terjadi di Wuhan pada 31 Desember 2019. Terdapat laporan kematian pertama terkait kasus pneumonia ini pada pasien usia 61 tahun dengan penyakit penyerta yaitu penyakit liver kronis dan tumor abdomen atau perut. Dari 50 pasien lainnya yang sedang menjalani perawatan, dua pasien sudah dinyatakan boleh pulang dan tujuh pasien masih dalam kondisi yang serius.

Selain di Wuhan, beberapa Negara melaporkan kasus-kasus suspek serupa dengan di Wuhan yaitu di Singapura, Seoul Korea Selatan, Thailand dan Hongkong. Di Singapura dan Bangkok terdapat penerbangan langsung dari Wuhan.

Organisasi Kesehatan dunia (WHO) mengonfirmasi ada satu kasus di Thailand yaitu terdeteksi virus baru yang berasal dari kejadian luar biasa (KLB) di China. Kasus tersebut dari penduduk Wuhan China yang bepergian ke Thailand.

Berdasarkan data United Nations Maret 2018, terdapat banyak negara atau tempat yang menjadi tujuan pengunjung dari Wuhan diantaranya Bangkok, Hong Kong, Tokyo, Singapura, Denpasar Bali, Macau, Dubai, Sydney dan masih banyak negara lainnya. Namun, WHO belum merekomendasikan secara spesifik untuk turis atau restriksi perdagangan dengan China. Saat ini WHO masih terus melakukan pengamatan terhadap kasus tersebut.

Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) merilis jenis Betacoronavirus yang menjadi outbreak di Wuhan dengan terdapat lima genom baru, yang berbeda dari SARS-coronavirus dan MERS-Coronavirus. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS. Beberapa coronavirus diketahui beredar di peredaran darah hewan.

Gejala yang muncul pada pneumonia ini diantaranya demam, lemas, batuk kering dan sesak atau kesulitan bernapas. Di beberapa kondisi ditemukan lebih berat.

Pada orang dengan lanjut usia atau memiliki penyakit penyerta lain, memiliki risiko lebih tinggi untuk memperberat kondisi. Metode transmisi dan masa inkubasi belum diketahui.

Berdasarkan investigasi beberapa institusi di Wuhan, sebagian kasus terjadi pada orang yang bekerja di pasar ikan. Akan tetapi belum ada bukti yang menunjukkan penularan dari manusia ke manusia.

photo
pria berusia 61 tahun telah meninggal karena pneumonia di China. Ilustrasi.


Korban meninggal kedua

Pada Kamis (16/1), Dinas Kesehatan Wuhan merilis informasi korban meninggal kedua, yakni laki-laki berusia 69 tahun. Sebelumnya, pasien tersebut dibawa ke rumah sakit dengan kondisi fungsi ginjal yang tidak normal serta kerusakan parah pada berbagai organ hingga akhirnya meninggal dunia pada Rabu (15/1).

Sejauh ini, terdapat total 41 kasus pneumonia yang telah dilaporkan terjadi di Wuhan. Menurut uji laboratorium awal, yang dikutip dari media negara, wabah itu disebabkan oleh virus Korona jenis baru, yang secara umum bisa menyebabkan infeksi, mulai dari demam biasa hingga SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).

Sekitar 763 orang di Wuhan juga menjalani observasi setelah melakukan kontak langsung dengan pasien pneumonia. Sebanyak 644 orang di antara mereka telah diizinkan pulang sementara 119 orang lainnya masih diawasi.

Kasus kematian pertama akibat pneumonia di Wuhan terjadi pada seorang laki-laki berusia 61 tahun pada Sabtu (11/1). Di luar China, ada pula konfirmasi seorang laki-laki berusia 30 tahunan yang terinfeksi virus korona di Jepang sementara di Thailand, seorang perempuan China dikarantina akibat kecenderungan terpapar virus yang sama.

Pada Jumat (17/1), Thailand menemukan kasus kedua virus corona baru asal China.  Pasien terakhir berasal dari pusat kota Wuhan.

Menurut Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand Sukhum Karnchanapimai, Wanita berusia 74 tahun itu, dikarantina sejak tiba di Thailand pada Senin (13/1). Dia mendesak warga Thailand untuk tetap tenang, menambahkan bahwa tidak ada wabah di negara itu.

Thailand, yang meningkatkan kewaspadaan menjelang liburan Tahun Baru Imlek, mengatakan pada Senin (13/1) bahwa mereka menemukan seorang wanita China berusia 61 tahun yang membawa strain virus corona, pertama kali terdeteksi di luar China. Jepang juga melaporkan kasus infeksi pertamanya pada Kamis (16/1), setelah seorang pria Jepang kembali dari Wuhan.

photo
Penyebab Kanker Paru



sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA